Cara agar Mudah BAB

Penderita radang usus besar rentan mengalami konstipasi atau sembelit. Rutinitas buang air besar (BAB) setiap orang mungkin berbeda-beda. Hal ini memang salah satu komplikasi wajar dari penyakit ini. Kolitis ulseratif menyebabkan peradangan di dinding usus besar dan rektum. Bagi penderitanya, cara agar mudah BAB bisa dengan mengonsumsi serat atau meningkatkan asupan cairan.

BAB

Bukan tidak mungkin, konstipasi pada penderita radang usus besar menyebabkan nyeri perut dan kembung berkepanjangan. Jangan tunda penanganan karena dapat mengakibatkan komplikasi serius yaitu megakolon toksik. Penderita radang usus besar lebih berisiko mengalami konstipasi apabila inflamasi terjadi di rektum. Istilah dari kolitis ulseratif ini adalah proctitis. Pada penderitanya, otot dasar panggul tidak bisa rileks dan mengganggu aktivitas buang air besar normal.

Cara agar mudah BAB

  1. Banyak minum cairan

Semakin terhidrasi dengan baik tubuh seseorang, akan semakin optimal pula fungsi saluran pencernaannya. Meningkatkan asupan cairan menjadi salah satu cara agar mudah BAB. Sebaliknya, dehidrasi atau kekurangan cairan dapat menyebabkan feses menjadi lebih keras. Idealnya, minum air putih dan hindari minuman mengandung kafein.

  • Perbanyak konsumsi serat

Salah satu cara agar mudah BAB berikutnya adalah memperbanyak konsumsi serat. Meski demikian, hal ini tidak berlaku untuk semua orang. Ada orang yang tubuhnya tidak bisa toleransi beberapa jenis buah, begitu pula sebaliknya. Jadi, sebaiknya catat apa saja makanan berserat yang aman dan memicu reaksi radang usus besar.

Rekomendasi konsumsi serat setiap harinya adalah 20-35 gram per hari. Sumber makanan kaya serat bisa diperoleh dari sayuran, buah, dan gandum utuh. Jika jenis makanan itu memicu inflamasi saat dikonsumsi mentah, coba olah dengan mengukusnya terlebih dahulu.

  • Konsumsi obat pencahar

Cara kerja obat pencahar adalah dengan menambah volume feses sehingga lebih mudah dikeluarkan. Konsumsi obat laksatif ini harus disertai dengan cairan sesuai saran dari dokter. Namun jika muncul efek samping seperti mual, muntah, dan juga nyeri perut sebaiknya hindari konsumsi obat laksatif. Selain obat laksatif biasa, ada juga pencahar osmotik yang bekerja dalam periode 2-3 hari. Obat ini menambah jumlah cairan dalam usus sehingga feses menjadi lebih lunak. Jenis laksatif osmotik lebih aman dibandingkan dengan obat laksatif lainnya.

  • Aktif bergerak

Tidak aktif bergerak juga memicu penderita kolitis ulseratif mengalami konstipasi. Kontraksi usus dan proses cerna menjadi lebih lambat, konsekuensinya BAB pun kurang lancar. Di sisi lain, orang yang aktif bergerak memiliki risiko konstipasi lebih rendah.

Bagi yang belum terbiasa, mulai dengan olahraga berintensitas ringant hingga sedang. Kemudian, perlahan tingkatkan intensitas ketika sudah semakin kuat. Idealnya, dalam sepekan alokasikan waktu sebanyak 150 menit untuk berolahraga atau aktif bergerak.

  • Teknik relaksasi

Jika obat dan cara agar mudah BAB lain masih belum efektif, coba lakukan terapi behavioral dengan didampingi dokter. Tujuan dari terapi ini adalah memaksimalkan fungsi usus dalam proses BAB. Lewat teknik relaksasi, otot panggul terlatih sehingga bisa memberi stimulus agar BAB. Dalam sebuah studi terhadap 63 penderita konstipasi kronis, semua mengaku jadwal BAB lebih teratur setelah melakukan terapi ini. Biasanya, dokter akan mengajarkan teknik relaksasi bersamaan dengan pemberian obat medis, peningkatan konsumsi cairan, juga aktivitas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *