Inilah Mengapa Hamil tapi Haid Bisa Terjadi

Wajarnya, ketika sedang mengandung perempuan tidak akan mengalami datang bulan. Kendati demikian, hal itu bukanlah situasi akhir. Pasalnya, berbagai sumber telah menyatakan tetap ada kemungkinan perempuan yang sedang hamil tapi haid. Apabila anda pernah berada dalam posisi itu, maka darah yang keluar dari tubuh ini biasanya berwarna coklat atau merah muda.

Kita telah mengetahui bersama kalau menstruasi yang dialami perempuan karena sel telur tidak dibuahi, dan lantaran itu setiap bulan keluar dengan cara haid. Oleh sebab itu, wajarnya datang bulan dialami oleh wanita yang tidak hamil.  Bahkan, beberapa sumber pun pernah menyatakan kalau hamil tapi haid adalah kondisi yang terbilang tidak mungkin.

Akan tetapi, anggapan tersebut tak berlaku bagi semua wanita hamil. Pasalnya, tetap saja ada yang melaporkan kalau dia mengalami menstruasi atau pendarahan saat mengandung. Meskipun kondisi tersebut tak bisa pula dianggap sebagai tanda akan bahaya, tetapi perempuan hamil yang mengalaminya juga tak boleh menganggap remeh.

Hal tersebut dikemukakan karena perempuan hamil tapi haid adalah kondisi yang tidak wajar. Oleh sebab itu, jika anda atau pasangan anda mengalami pendarahan yang cukup banyak, maka segeralah pergi menemui dokter terkait untuk mendapatkan pemeriksaan yang intensif. Hal itu disarankan karena bukan tak mungkin darah nan keluar tersebut merupakan tanda adanya masalah yang dialami oleh anda atau pasangan anda selama hamil.

Berkaitan dengan hamil tapi haid ini, beberapa sumber kesehatan menyebutkan pendarahan seperti mens bisa terjadi pada trimester pertama, kedua, dan ketiga. Untuk diketahui, sumber-sumber yang sama menyatakan kalau pendarahan yang dialami wanita hamil ternyata lebih sering terjadi saat kandungan masih di masa trimester pertama. 

Lantas apa yang menyebabkan pendarahan itu terjadi? Setelah dirangkum, hamil tapi haid ini bisa terjadi karena adanya pendarahan implantasi. Kondisi tersebut dapat pula dikatakan sebagai bercak darah pada masa awal kehamilan yang disebabkan embrio nan menempel di bagian dinding rahim. Lebih lanjut, pendarahan ketika hamil yang seperti datang bulan ini bisa pula karena ada perubahan serviks. 

Adapun penyebab berikutnya adalah adanya tumor jinak karena janin yang ada di dalam rahim gagal terbentuk, kehamilan yang berlangsung ternyata di luar kandungan, terjadi infeksi, atau bahkan pendarahan yang muncul seperti datang bulan itu merupakan tanda awal kalau anda atau pasangan anda akan keguguran. 

Lantaran beberapa penyebab dari hamil tapi haid bisa berkaitan sama janin dan kondisi kehamilan, maka tak keliru apabila di awal tulisan ini disarankan agar anda langsung menemui dokter apabila kondisi tersebut anda alami saat mengandung. Sebab, selain beberapa hal nan sudah dijelaskan itu, hamil tapi seperti sedang haid ini ternyata dapat pula diakibatkan oleh pendarahan subkorionik atau hematoma subkorionik. Kondisi itu bisa dipakai untuk menyebut adanya pendarahan yang terjadi antara dinding rahim dan plasenta.

Sebagai informasi tambahan, ketika sedang mengalami hamil tapi haid di masa awal kehamilan, berbagai sumber menyatakan kalau kondisi itu diiringi dengan beberapa gejala. Pendarahan seperti menstruasi ketika hamil ini bisa diikuti dengan rasa sakit di bagian bahu, nyeri perut, hilang kesadaran, demam, mual, dan lain sebagainya  

Demikianlah penjelasan yang dapat disampaikan untuk menjawab mengapa hamil tapi haid bisa terjadi. Besar harapan tulisan ringkas ini dapat menambah referensi para pembaca sekalian. Pada intinya, jika anda atau pasangan anda yang sedang hamil mengalami situasi pendarahan seperti datang bulan, segeralah untuk menemui dokter meskipun darah yang keluar hanyalah sedikit.

Memakai Skincare untuk Ibu Hamil, Aman atau Tidak?

Di tengah masa kehamilan, ada lebih banyak larangan yang perlu Anda perhatikan. Hal ini juga berlaku bagi Anda yang ingin tetap menggunakan skincare untuk ibu hamil.

Pemakaian skincare bagi wanita yang sedang hamil sebenarnya tidak berbahaya. Asalkan, Anda memperhatikan jenis skincare yang dipakai, komposisi utama dalam pembuatan skincare terkait, serta mempertimbangkan cara tepat dalam pemakaiannya.

Skincare untuk ibu hamil harus aman agar tidak berbahaya bagi janin

Kandungan skincare untuk ibu hamil yang aman

Tidak semua jenis produk skincare cocok digunakan oleh wanita yang sedang hamil. Berikut ini adalah kandungan dalam skincare yang baik untuk Anda yang sedang mengandung:

  • Glycolic acid

Glycolic acid adalah salah satu kandungan yang memiliki fungsi untuk mengatasi jerawat, terlebih jerawat yang tumbuh akibat perubahan hormon selama hamil. Penggunaan kandungan glycolic acid bisa menjadi alternatif pengganti bahan retinol serta salicylic acid.

Biasanya, retinol dan salicylic acid lebih sering ditemukan pada produk skincare untuk masalah jerawat. Akan tetapi, kedua kandungan ini sebaiknya dihindari selama masa kehamilan. Anda bisa menggunakan skincare berbahan glycolic acid sebagai alternatif. 

  • Antioksidan

Kulit Anda memerlukan kandungan antioksidan untuk menangkal radikal bebas. Radikal bebas bisa menyerang sel kulit Anda, membuat kulit menjadi rusak dan tidak sehat. 

Gunakanlah skincare untuk ibu hamil yang kaya akan kandungan antioksidan. Kandungan ini bisa berasal dari vitamin C, vitamin E, vitamin K, vitamin B3, serta teh hijau. Antioksidan ini mampu menjaga kulit Anda dari kerusakan kolagen.

  • Hyaluronic acid

Hyaluronic acid adalah kandungan yang sudah sangat sering digunakan sebagai bahan dasar pada produk skincare yang melembabkan. Kandungan ini sangat efektif untuk meningkatkan kebutuhan cairan pada sel kulit Anda, sehingga bisa mengatasi kekeringan dan dehidrasi di kulit.

Penggunaan kandungan hyaluronic acid juga akan semakin maksimal apabila diimbangi dengan konsumsi air mineral yang memadai setiap harinya. Ingatlah bahwa kulit Anda akan lebih mudah mengalami dehidrasi selama masa kehamilan.

Kandungan skincare yang perlu dihindari

Sebelumnya, Anda sudah mendapatkan informasi terkait kandungan skincare untuk ibu hamil yang aman digunakan. Sekarang, waktunya Anda untuk mengetahui apa saja kandungan yang justru harus dihindari selama masa kehamilan:

  • Retinoid

Kandungan pertama yang harus Anda hindari adalah retinoid. Kandungan ini seringkali digunakan sebagai bahan pada produk untuk meningkatkan kesehatan kulit secara keseluruhan, seperti mencegah dari gejala penuaan, mengatasi jerawat, dan lain sebagainya.

Selama mengandung, Anda sebaiknya menghindari produk dengan kandungan retinoid ini. Karena, penelitian telah membuktikan bahwa pemakaian retinoid berpotensi menimbulkan cacat lahir yang parah. 

  • Salicylic acid

Kandungan berikutnya adalah salicylic acid. Kandungan ini sebenarnya cukup baik dipakai selama masa kehamilan, selama penggunaannya tidak berlebihan.

Terlalu banyak salicylic acid selama kehamilan bisa meningkatkan risiko gangguan pada janin Anda, membuat bayi berisiko mengalami cacat lahir. Sebaiknya, hindari menggunakan produk yang mengandung salicylic acid selama hamil, meskipun jumlahnya hanya sedikit.

Itulah kedua kandungan utama yang sebaiknya dihindari selama Anda berada di masa kehamilan. Untuk mendapatkan informasi lebih jelas, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter Anda mengenai jenis-jenis produk yang aman untuk digunakan saat mengandung.Pastikan Anda memperhatikan dengan seksama setiap kandungan yang ada pada skincare yang akan digunakan. Hal ini penting untuk memastikan Anda menggunakan skincare untuk ibu hamil yang tepat dan tidak menimbulkan risiko berbahaya.

Hamil 32 Minggu, Hal Apa Saja yang Dialami Sang Ibu?

Perjalanan kehamilan bagi setiap perempuan memang berbeda – beda. Apalagi bagi perempuan yang sudah memasuki usia hamil 32 minggu atau trimester ketiga. Pada usia kehamilan ini, tentu sudah banyak hal yang berubah terutama pada fisik sang calon ibu. Tidak jarang berbagai keluhan semakin dirasakan. 

Memasuki usia hamil 32 minggu, sang calon Ibu akan sering mengalami nyeri di punggung. Tidak hanya itu, keluhan atau perubahan fisik lainnya pun akan dirasakan. Jadi, hal apa sajakah yang akan dialami sang calon Ibu pada usia kehamilan 32 minggu?

ibu hamil 32 minggu meliihat hasil scan USG
  1. Payudara yang semakin membesar

Perkembangan janin pada usia 32 minggu ini sudah mendekati sempurna. Begitu pun dengan kondisi calon Ibu. Pada usia kehamilan 32 minggu ini, perubahan pada payudara yang semakin membesar ini menandai bahwa kondisi sang Ibu sudah siap untuk menyusui. Salah satu tandanya adalah dengan menggelapnya warna di sekitar areola atau puting susu. Tidak hanya itu, produksi kolostrum sudah dimulai sehingga sering kali pada usia hamil 32 minggu, pakaian di sekitar payudara menjadi basah karena ASI yang sudah keluar.

  1. Peningkatan volume darah

Peningkatan volume darah ini akan terjadi selama trimester ketiga kehamilan. Peningkatan ini dimaksudkan guna memenuhi kebutuhan tubuh ibu dan janin. Volume darah yang ada pada tubuh calon ibu meningkat 40 hingga 50 persen sejak awal kehamilan. Peningkatan volume darah ini juga disertai dengan sensasi panas yang terjadi di ulu hati. Dua kondisi seperti ini seringkali membuat ibu hamil susah tidur. Oleh karena itu, tidak heran jika sudah memasuki trimester ketiga, ibu hamil mengalami gangguan susah tidur.

  1. Sesak napas

Sesak napas yang terjadi pada ibu hamil salah satu penyebabnya adalah dengan adanya peningkatan volume darah. Hal ini terjadi karena posisi rahim yang semakin menekan diafragma calon ibu. Tidak hanya itu, perut yang semakin besar dan padat juga menjadi faktor terjadinya sesak napas. Ibu hamil bisa mengatasi masalah sesak napas ini dengan mengubah posisi tidur atau menambah bantal sebagai ganjalan sebagai penyanggah. Akan tetapi jika sesak napas dirasa semakin parah, tidak ada salahnya Anda berkonsultasi dengan dokter.

  1. Kontraksi palsu

Menghadapi trimester ketiga ini, hal yang paling sering terjadi adalah munculnya kontraksi palsu. Biasanya kontraksi ini terjadi sekitar 15 sampai dengan 30 detik, bahkan paling lama hingga 2 menit. Biasanya jika kontraksi palsu terjadi, bagian yang mengalami pengencangan hanya di perut bagian bawah dan selangkangan. Kontraksi palsu ini pun bisa berhenti ketika Anda mengubah posisi tubuh, misal dari posisi berbaring menjadi bangun atau dari posisi duduk menjadi berdiri. Jika Anda mengalami kontraksi pada usia hamil 32 minggu ini, harus tetap tenang dan jangan panik agar tidak membahayakan kondisi tubuh dan janin.

Itulah kondisi yang pada umumnya dialami pada calon ibu di kondisi hamil 32 minggu. Jika Anda mengalami kondisi tersebut, berusahalah untuk tetap tenang. Bila Anda tidak mengalaminya pun jangan merasa aneh atau berbeda karena kondisi setiap ibu hamil tentunya tidak akan sama. 

Tetaplah jaga kesehatan janin dan tubuh agar bisa melaksanakan proses kehamilan yang aman dan lancar hingga proses persalinan nanti. Menghadapi kehamilan di trimester ketiga memang cukup rawan sehingga diperlukan ketenangan dan pengetahuan yang cukup agar tindakan yang diambil tidak membahayakan ibu dan janin. Jika ada kondisi darurat segeralah hubungi dokter.

Komplikasi Kehamilan, Penyebab Plasenta Lengket

Pernahkah Anda mendengar sebuah komplikasi kesehatan yang disebut placenta accreta? Ini adalah sebuah kondisi kehamilan serius yang terjadi ketika plasenta tumbuh terlalu dalam ke dalam dinding rahim. Umumnya, plasenta akan terlepas dari dinding rahim setelah anak dilahirkan. Dalam kondisi placenta accreta ini, sebagian atau seluruh bagian plasenta tetap lengket dan menempel. Hal ini akan menyebabkan pendarahan hebat setelah persalinan. Placenta accreta dianggap sebagai komplikasi kehamilan risiko tinggi. Apabila kondisi ini didiagnosa pada saat hamil, Anda akan membutuhkan persalinan sesar yang diikuti dengan prosedur operasi pengangkatan rahim (hysterectomy). Artikel ini akan membahas gejala dan penyebab plasenta lengket pada dinding rahim.

Penyebab dan gejala

Tidak diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab plasenta lengket pada dinding rahim saat persalinan atau disebut placenta accreta. Namun para dokter beranggapan bahwa kondisi ini dihubungkan dengan ketidakteraturan pada lapisan rahim dan tingginya level alpha-fetoprotein, sebuah protein yang diproduksi oleh bayi yang dapat dideteksi di darah ibu. Ketidakteraturan ini dapat disebabkan karena jaringan parut setelah operasi sesar atau operasi rahim. Luka tersebut menyebabkan plasenta tubuh terlalu dalam ke dalam dinding rahim. Ibu hamil dengan plasenta sebagian atau sepenuhnya menutup serviks (plasenta previa) juga memiliki risiko lebih tinggi dalam menderita placenta accreta. Namun dalam beberapa kasus tertentu, placenta accreta terjadi pada wanita dengan riwayat medis pernah menjalani operasi rahim atau memiliki plasenta previa. Pernah menjalani operasi cesar dapat meningkatkan risiko seseorang dalam menderita placenta accreta pada kehamilan berikutnya. Semakin banyak operasi cesar yang dimiliki seseorang, semakin tinggi risiko yang mereka miliki. Asosiasi Kehamilan Amerika memperkirakan bahwa wanita yang memiliki lebih dari satu persalinan cesar memenuhi 60 persen dari semua kasus placenta accreta.

Orang-orang yang memiliki placenta accreta biasanya tidak menunjukkan gejala atau tanda-tanda apapun pada saat kehamilan berlangsung. Terkadang, dokter dapat mendeteksi kondisi ini pada saat pemeriksaan ultrasound rutin. Namun, dalam beberapa kasus, placenta accreta dapat menyebabkan pendarahan vagina pada trimester ketiga (minggu 27 hingga 40). Hubungi dokter secepatnya apabila Anda mengalami pendarahan vagina pada trimester ketiga. Apabila pendarahan yang Anda alami bersifat parah, dan atau ditemani dengan sakit perut, hubungi tenaga medis kegawatdaruratan secepatnya.

Faktor risiko dan komplikasi

Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab plasenta lengket. Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko Anda menderita placenta accreta di antaranya adalah operasi rahim sebelumnya, di mana risiko placenta accreta meningkat berbanding dengan jumlah operasi cesar yang Anda miliki; posisi plasenta, apabila plasenta sebagian atau seluruhnya menutupi serviks, atau berada dalam posisi yang lebih rendah di rahim, risiko placenta accreta meningkat; usia saat kehamilan, di mana placenta accreta lebih banyak dijumpai pada orang-orang yang berusia di atas 35 tahun; dan kehamilan sebelumnya, di mana risiko placenta accreta meningkat dengan jumlah kehamilan yang pernah Anda miliki.

Selain menjadi penyebab plasenta lengket, placenta accreta juga dapat menyebabkan beberapa komplikasi, seperti pendarahan vagina hebat seusai persalinan. Pendarahan tersebut dapat menyebabkan kondisi yang mengancam nyawa yang mencegah darah untuk membeku secara normal, kegagalan paru-paru, dan kegagalan ginjal. Dalam kondisi tersebut, transfusi darah dapat dibutuhkan. Selain itu, placenta accreta juga dapat menyebabkan lahir prematur, terutama apabila kondisi ini menyebabkan pendarahan pada saat kehamilan. Pastikan Anda selalu rutin memeriksakan kandungan Anda.

Tes Kehamilan dengan Gula Lalu Hasilnya Positif, Apakah Akurat?

Mengecek kehamilan mandiri ternyata tak hanya menggunakan test pack. Beberapa orang mengklaim tes kehamilan juga bisa menggunakan gula. Tes ini dianggap lebih praktis dan mudah dilakukan. Cara mengetesnya sama-sama menggunakan urin, apabila urin berubah dan menggumpal maka kemungkinan hasilnya positif. Akan tetapi, jika gula larut dalam urin maka hasilnya negatif.  Lalu apakah benar tes ini bisa dipercaya dan terbukti secara medis?

Tidak terbukti ilmiah

Hormon hCG menjadi indikator kehamilan yang dapat dideteksi beberapa hari setelah perempuan menstruasi. Meskipun beberapa kasus membuktikan hormon hCG bisa terdeteksi lebih awal. Orang yang meyakini tes kehamilan bisa dilakukan dengan gula percaya bahwa gula dapat bereaksi dengan hormon hCG dalam urin. Gula bisa bereaksi dengan urin ibu hamil dan menghasilkan gumpalan.

Akan tetapi, sejauh ini tidak ada bukti secara ilmiah maupun pernyataan medis mengenai tes kehamilan dengan gula sehingga tidak bisa dipastikan keakuratannya. Hal tersebut dikarenakan hCG di dalam urin tidak dapat bereaksi dengan gula.    

Mengapa orang-orang melakukannya?

Tes kehamilan dengan bahan-bahan alami termasuk gula, dilakukan saat belum ditemukannya teknologi modern seperti test pack, tes darah, atau USG. Orang-orang zaman dahulu mengandalkan tes secara tradisional, bahkan ada pula yang menggunakan barley atau biji gandum. Seseorang mencampurkan urinnya dengan barley atau biji gandum, jika bertunas maka hasilnya positif.

Berdasarkan studi tahun 1963, metode tradisional tersebut dianggap lebih bisa dipercaya dibandingkan hanya mengira-ngira kehamilan tanpa menggunakan alat apapun. Meskipun kejadiannya bisa juga terjadi secara kebetulan. Di zaman sekarang yang lebih canggih, penggunaan tes kehamilan secara tradisional tidak bisa dijadikan acuan.    

Alasan lainnya, metode tes kehamilan dengan gula dipakai karena dianggap praktis dan mudah ditemukan di sekitar rumah. Ada pula yang takut kegiatannya membeli test pack di apotek diketahui orang lain.

Bagaimana cara tes kehamilan dengan gula?

Anda hanya perlu menyiapkan gula, gelas penampung urin, dan mangkok kosong dengan warna terang polos agar mudah melihat reaksi. Beberapa langkah yang mungkin bisa Anda coba di rumah, diantaranya:

  1. Tuang 2 sendok garam ke dalam mangkok
  2. Tampung urin, usahakan gunakan urin pertama setelah bangun tidur di pagi hari
  3. Masukkan urin ke dalam mangkok
  4. Tunggu beberapa menit dan jangan diaduk

Jika hasilnya positif, maka gula tidak akan larut dan menggumpal. Gumpalan tersebut akan mengendap di dasar mangkok. Tidak ada keterangan tambahan apakah bentuk gumpalan besar atau kecil dan berapa banyaknya. Jika hasilnya negatif, maka gula akan larut ke dalam urin dan tidak terlihat gumpalan di dasarnya.

Meskipun sebenarnya terdapat faktor lain yang mungkin bisa menyebabkan gula menggumpal, seperti jenis gula dan kondisi kelembaban rumah.

Menunggu hasil tes kehamilan merupakan momen menegangkan. Tes kehamilan dengan gula hanya akan menambah tingkat stres dengan hasil yang tidak bisa diandalkan. Apabila seseorang keberatan membeli test pack di apotek, saat ini telah banyak pemesanan secara online yang menawarkan test pack dengan harga terjangkau. Pergi ke dokter atau bidan juga menjadi cara yang tepat untuk menjawab rasa penasaran Anda tentang kehamilan. Jangan khawatir tentang privasi, baik dokter atau bidan telah memiliki kode etik untuk menjaga kerahasiaan data pasiennya, bahkan kepada pasangan. Akan tetapi, khusus bagi pasien di bawah umur 18 tahun harus disertai pendampingan orang tua atau wali untuk keterangan dan informasi lebih lanjut mengenai kondisi kesehatan pasien.  

Mengenal Penyebab dan Cara Menangani Rahim Terbalik

Tidak semua wanita memiliki bentuk rahim yang sama. Ternyata sekitar 25 persen wanita punya bentuk rahim yang tidak normal atau rahim terbalik.

Jika bentuk normal rahim adalah melengkung ke depan dan berada di atas kandung kemih, rahim terbalik biasanya melengkung ke belakang dengan bagian fundus berada di atas rektum. Kondisi seperti ini disebut dengan istilah rahim retroversi atau rahim retro atau retrofleksi.

Gejala Wanita Memiliki Rahim Terbalik

Secara umum rahim retro tidak menyebabkan gejala apapun sehingga banyak wanita yang tidak menyadarinya. Barulah sadar ketika melakukan pemeriksaan rutin seperti kehamilan.

Namun, ada beberapa gejala tertentu yang menjadi indikasi terjadinya rahim retroversi, yaitu:

  • Terasa nyeri saat haid
  • Infeksi saluran kemih
  • Sering buang air kecil atau merasa adanya sensasi tertekan di bagian kandung kemih
  • Sakit ketika berhubungan seksual yang terasa di bagian punggung bawah atau vagina
  • Adanya tonjolan pada perut bagian bawah

Gejala tersebut di atas memang belum tentu berarti Anda mengalami rahim terbalik. Akan tetapi, jika ingin mengetahui secara pasti, periksakan diri pada dokter kandungan jika gejala-gejala tersebut Anda alami untuk mengetahui apa penyebabnya.

Penyebab Rahim Terbalik

Rahim retro bisa dialami sejak lahir atau terjadi ketika sudah dewasa. Selain karena faktor genetik, penyebabnya juga dikarenakan munculnya jaringan parut atau terjadinya pelengketan panggul yang disebabkan oleh:

  • Fibroid

Bentuk dan posisi rahim dapat mengalami perubahan karena fibroid rahim ini. Kondisi tersebut membuat rahim terlihat membesar dan terdorong miring ke belakang.

  • Endrometriosis

Panggul yang lengket juga dapat disebabkan oleh endrometriosis. Jaringan parut pada endrometrium bisa membuat rahim melengkung ke belakang.

  • Adanya Riwayat Bedag Panggul

Rahim miring bisa juga disebabkan oleh adanya riwayat operasi panggul. Prosedur operasi dapat memicu munculnya jaringan parut di area sekitar operasi dan membuat rahim terdorong ke belakang.

  • Radang Panggul

Penyakit radang panggul menyebabkan rahim menjadi terbalik. Jika tidak diobati, penyakit radang panggul ini dapat menimbulkan jaringan parut.

  • Melemahnya Oto-otot Panggul

Saat memasuki masa menopause atau setelah melahirkan, jaringan otot yang berfungsi menyokong rahim akan melemah. Sehingga membuat posisi rahim miring atau jatuh ke arah belakang.

Cara Mengatasi Rahim Terbalik

Mengatasi kondisi rahim retro ini berbeda-beda tergantung pada kondisi pasien. Ada beberapa cara untuk bisa mengatasi rahim terbalik, yaitu:

  • Melakukan beberapa latihan ringan

Mengembalikan rahim ke posisi semula dengan cara manual bisa dilakukan dengan rutin melakukan gerakan-gerakan latihan ringan. Gerakan yang dimaksud adalah dirancang untuk memperkuat ligamen dan tendon yang fungsinya menahan rahim.

Adapun gerakan yang dimaksud adalah senam kegel yaitu dilakukan dengan mengencangkan otot panggul bagian bawah. Gerakannya seperti ketika Anda menahan baung air kecil selama 5 detik yang dilakukan diulang 4-5 kali.

Selain itu, bisa juga dengan menempelkan lutut ke dada. Gerakan ini dilakukan dengan berbaring di lantai, posisi kaki lurus ke bawah dan menempel ke lantai. Lalu, tarik kaki ke atas secara perlahan, tekuk, dan tempel ke dada sekitar 20 detik. Kembalikan kaki lurus ke lantai dan ulang gerakan 10-15 kali.

Latihan lainnya bisa dilakukan dengan berbaring, tubuh dan tangan di posisi lurus ke bawah menempel ke lantai. Lalu, angkat panggul ke atas perlahan dan tarik napas. Kemudian turunkan panggul perlahan sambil menghela napas. Lakukan berulang sekitar 10-15 kali.

  • Menjalani Operasi

Pada kasus tertentu, ada juga rahim terbalik harus ditangani dengan melakukan operasi. Ada berbagai teknik yang dilakukan dalam prosedur operasi. Seperti laparoskopi serta teknik histerektomi jika kondisinya sudah sangat serius.

  • Menggunakan Cincin Pesarium

Cincin pesarium adalah alat yang akan dimasukkan ke vagina yang bertujuan untuk memperbaiki posisi rahim terbalik. Alat ini akan ditanam di vagina yang bisa ditanam sementara atau secara permanen. Hanya saja, penggunaan cincin pesarium ini dapat meningkatkan risiko peradangan dan infeksi. Selain itu alat ini akan membuat hubungan seksual menjadi tidak nyaman.

Kenali Macam-Macam Obat Pilek untuk Ibu Hamil

Di tengah masa kehamilan, penting bagi ibu hamil untuk menjaga kondisi kesehatan tubuh dan janin. Penyakit yang menyerang ibu hamil secara tidak langsung juga bisa berdampak pada kesehatan janin, salah satunya pilek. Guna mengatasi hal ini, Anda perlu memilih obat pilek ibu hamil yang aman untuk dikonsumsi.

Meski obat pilek bisa dengan mudah didapatkan di apotek, pertimbangkan keamanan obat tersebut bagi janin Anda. Sebaiknya, pilihlah obat yang memang dikhususkan bagi ibu hamil.

Jenis obat pilek yang aman untuk ibu hamil

Ada banyak pilihan obat pilek untuk ibu hamil yang tidak berbahaya bagi kondisi bayi. Beberapa obat tersebut antara lain:

  • Obat oles mentol yang diusapkan di dada, pelipis, dan bawah hidung
  • Obat batuk sirup dextromethorphan
  • Paracetamol untuk meredakan demam, sakit, dan nyeri
  • Obat dengan kandungan kalsium karbonat untuk mengatasi mual, sakit perut, dan mulas
  • Obat berbahan ekspektoran untuk dikonsumsi di siang hari
  • Nasal strip, sejenis perban hidung yang dipasang di sisi lubang hidung untuk membantu membuka jalan pernapasan

Masih ada banyak lagi jenis obat pilek ibu hamil yang aman bagi kesehatan bayi. Meski begitu, sebelum membeli obat di apotek, sebaiknya konsultasikan dulu mengenai penggunaan obat dengan dokter.

Hindari menggunakan obat yang menggabungkan berbagai macam bahan untuk meringankan beberapa gejala sekaligus. Fokuslah pada obat yang hanya meringankan kondisi pilek Anda.

Mengobati pilek pada ibu hamil secara alami

Tidak hanya obat-obatan dari apotek, obat pilek ibu hamil juga bisa didapatkan melalui pengobatan alami. Upaya pengobatan alami bisa Anda lakukan sendiri di rumah tanpa harus mengeluarkan biaya pengobatan.

Metode pengobatan alami untuk mengatasi pilek pada ibu hamil meliputi:

  • Mengonsumsi tablet hisap dengan bahan dasar gula atau madu untuk mengatasi sakit tenggorokan
  • Rutin mengonsumsi banyak cairan seperti air, jus dan teh bebas kafein
  • Penggunakan alat pelembab udara di dalam ruangan untuk memberikan kelembaban ekstra, sehingga mengurangi penyumbatan pernapasan
  • Istirahat yang cukup

Biasanya, metode-metode yang telah disebutkan di atas bisa Anda lakukan untuk meredakan pilek tanpa harus mengonsumsi obat. Akan tetapi, apabila pilek masih dirasakan dalam jangka waktu yang cukup lama, segera lakukan pemeriksaan ke dokter untuk memastikan jenis obat yang cocok untuk diminum.

Waktu yang tepat untuk minum obat pilek bagi ibu hamil

Saat Anda mulai merasakan gejala pilek, cobalah untuk menunggu selama beberapa waktu. Bisa saja, gejala yang Anda alami bukanlah gejala pilek, melainkan reaksi alergi pada tubuh akibat paparan zat yang memicu alergi.

Apabila Anda sudah yakin bahwa gejala yang dialami memang merupakan gejala pilek, cobalah mencari informasi mengenai obat pilek ibu hamil yang aman. Sebaiknya, obat diminum dalam rentang waktu 48 jam setelah gejala muncul.

Menurut penelitian, wanita yang hamil dalam waktu kurang dari 12 minggu sebaiknya menghindari konsumsi obat jenis apa pun. Jika dalam waktu tersebut Anda mengalami pilek, hindari mengonsumsi obat pilek dan gunakanlah cara alami untuk mengatasi gejala pilek Anda.

Tidak hanya itu, Anda juga harus berhati-hati dalam mengonsumsi obat apabila masa kehamilan telah melewati 28 minggu. Cobalah untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter mengenai obat pilek untuk ibu hamil yang aman diminum sesuai dengan usia kandungan Anda.

Ibu Hamil, Jauhi Pantangan Berikut Ini agar Kandungan Sehat Selalu

Kehamilan menjadi suatu proses yang didamba-dambakan oleh seorang wanita. Pasalnya, setelah proses kehamilan ini berakhir dan berhasil melahirkan buah hati dengan selamat, seorang wanita akan resmi menjadi seorang ibu.

Tentunya, selama masa kehamilan tersebut, kesehatan calon bayi dan ibu harus terus diperhatikan. Tidak jarang, calon ibu akan menjadi lebih selektif dalam memilih makanan dan minuman yang dapat dikonsumsi agar tidak membahayakan kandungannya. Lebih jelasnya tentang pantangan ibu hamil, dapat Anda simak dalam artikel berikut ini:

Daftar pantangan ibu hamil yang wajib dijauhi:

Di bawah ini terdapat beberapa makanan dan minuman yang jadi pantangan ibu hamil selama masa mengandung:

  • Ikan dengan kandungan merkuri yang tinggi

Bukan sebuah rahasia lagi, bahwa merkuri merupakan kandungan yang beracun dan membahayakan kesehatan. Jenis ikan dengan kandungan merkuri yang tinggi, seperti ikan hiu, ikan todak, ikan makarel, dan tuna, hanyalah sebagian contoh kecil.

  • Ikan yang dimasak setengah matang atau bahkan mentah

Ikan mentah atau yang dimasak setengah matang, seperti sushi, sebenarnya mengandung virus dan bakteri, seperti Salmonella, Listeria, dan norovirus. Bakteri dan virus tersebut dapat mengakibatkan kondisi dehidrasi dan rasa lemas jika dikonsumsi oleh ibu hamil. Selain itu, infeksi yang diakibat oleh virus dan bakteri tersebut dapat ditularkan pada janin.

  • Kafein

Minuman yang mengandung kafein, seperti kopi dapat diserap dengan cepat ke dalam plasenta dan berakhir pada janin. Ibu hamil perlu mengurangi konsumsi kopi, yaitu kurang dari 2-3 cangkir dalam sehari.

  • Makanan cepat saji

Kandungan nutrisi dalam makanan cepat saji cenderung rendah, namun tinggi akan kandungan kalori dan gula. Selain itu, makanan cepat saji juga mengandung lemak tambahan. Mengonsumsi makanan cepat saji saat hamil dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan dan kelahiran.

  • Makanan yang tidak dicuci bersih

Sebelum mengolah makanan, ada baiknya sayur dan buah dicuci bersih terlebih dahulu. Jika tidak, kontaminasi bakteri dan parasit yang menempel, seperti Toksoplasma, E. coli, Salmonella, dan Listeria dapat masuk ke dalam tubuh.

  • Daging mentah, setengah matang, dan olahan

Bakteri E. coli, Toksoplasma, Listeria, dan Salmonella tidak hanya terdapat pada sayur dan buah yang tidak dicuci bersih, namun juga terdapat pada daging mentah, setengah matang, dan olahan. Mengonsumsi daging tersebut, dapat meningkatkan risiko ibu hamil terkena virus dan bakteri yang disebutkan.

Lebih jelasnya, ibu hamil dapat berkonsultasi dengan dokter kandungan tentang kebutuhan nutrisi dan jenis makanan atau minuman apa saja yang dapat mendukung kesehatan janin.