Ciri-ciri Miom, Kista, dan Endometriosis: Jangan Tertukar!

Organ reproduksi wanita memiliki berbagai macam risiko dan ancaman kesehatan. Penyebab dan jenisnya banyak sekali. Masing-masing ancaman kesehatan itu bahkan punya dampaknya sendiri-sendiri. Dari kelompok besar penyakit organ reproduksi wanita, miom, kista, dan endometriosis bisa dibilang paling populer. Penting bagi seorang wanita mengenali ciri ciri miom, kista, dan endometriosis agar tak keliru saat meminta pertolongan dokter.

Pasalnya, ketiga jenis penyakit yang kerap menyerang perempuan ini memiliki gejala yang hampir serupa. Salah satu contohnya adalah ketiganya sama-sama menimbulkan sensasi sakit di daerah pinggul hingga perut bagian bawah, pendarahan pada urine, hingga berbagai komplikasi lain pada sistem infertilitas.

Berdasarkan pengertiannya, dapat diketahui jika ketiganya sudah terlihat berbeda. Apalagi jika merujuk pada apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh penderita. Secara sederhana, miom dapat dijelaskan sebagai adalah tumor jinak yang tumbuh dari otot rahim. Sementara kista adalah kantung yang terisi cairan yang mungkin menjangkiti salah satu ataupun kedua saluran rahim wanita atau ovarium.

Adapun adalah kondisi ketika jaringan yang membentuk lapisan dalam dinding rahim tumbuh di luar rahim. Jaringan yang disebut endometrium ini dapat tumbuh di indung telur, usus, tuba falopi (saluran telur), vagina, atau di rektum (bagian akhir usus yang terhubung ke anus).  

Normalnya, endometrium akan menebal sebagai tempat untuk menempelnya sel telur yang sudah dibuahi. Bila tidak dalam kondisi hamil, endometrium tersebut akan luruh, lalu keluar dari tubuh sebagai darah menstruasi. Akan tetapi pada kasus endometriosis, jaringan endometrium di luar rahim tersebut juga ikut menebal, tetapi tidak dapat luruh dan keluar dari tubuh. Kondisi tersebut dapat menimbulkan keluhan nyeri, bahkan dapat menyebabkan kemandulan atau infertilitas wanita.

Seseorang paling mudah mengenali ciri ciri miom, kista, dan endometriosis tentu saja dari gejala yang timbul. Gejala miom tergantung ukuran dan letak mioma. Bisa tidak bergejala sampai terasa nyeri di panggul, rasa penuh di bagian perut sehingga panggul dan saluran indung telur terasa ditekan, konstipasi, dan gangguan perdarahan saat tidak dalam periode menstruasi.

Seseorang bisa mulai curiga tengah mengalami kista jika merasakan nyeri saat buang air kecil, sering buang air kecil, siklus menstruasi yang berubah, perut kembung, hingga mengalami mual dan muntah seperti saat sedang hamil. Pasalnya, kondisi-kondisi tersebut termasuk ke dalam gejala kista.

Sementara itu, gejala yang dibawa endometriosis biasanya hampir sama dengan dua kondisi sebelumnya, untuk sebagian yang mengalami gangguan endometriosis akan merasa nyeri panggul yang lebih hebat selama menstruasi, sakit saat berhubungan intim, dan sakit saat buang air besar.

Informasi mengenai gejala atau ciri-ciri ketiga kondisi tersebut sebenarnya dapat membantu tugas dokter yang akan melakukan pemeriksaan. Ketika seseorang mengeluhkan kondisi-kondisi yang disebutkan di atas, seharusnya dia sudah mampu mengindikasikan satu kondisi yang spesifik. Maksudnya, dia setidaknya sudah punya kecurigaan terhadap satu masalah kesehatan reproduksi tersebut. Misalnya, ketika dia mengalami ciri ciri miom dia tinggal menginformasikannya ke dokter sehingga dokter bisa langsung fokus menindaklanjuti keluhan dari pasien.

Diagnosis yang cepat dan tepat, bisa menentukan nasib penderita di kemudian hari. Sebab, ketiga kondisi ini amat berkaitan dengan masalah-masalah fertilitas atau kesuburan. Ketiga kondisi ini bisa membuat seorang wanita sulit hamil. Oleh sebab itu, informasi mengenai perbedaan ketiga kondisi ini, utamanya perihal ciri ciri miom, kista, dan endometriosis, amat berguna bagi setiap wanita usia produktif.

Rekomendasi Obat Telat Datang Bulan yang Aman Dikonsumsi

Pada umumnya siklus menstruasi akan terjadi secara rutin setiap satu bulan sekali. Namun, terdapat beberapa kondisi yang bisa membuat siklus haid menjadi tidak teratur, seperti kondisi yang menyebabkan siklus menstruasi datang lebih lambat. Kondisi fisik hingga masalah hormonal bisa menjadi penyebab terganggunya siklus menstruasi pada perempuan.  Jika terlambat datang bulan disebabkan oleh hal seperti stres atau pola hidup, Anda tidak perlu mengkonsumsi obat telat datang bulan. Cukup mengubah pola hidup Anda menjadi lebih baik seperti menjauhi hal-hal yang membuat Anda stres dan mengonsumsi makanan dengan kadar gizi seimbang.

Telat datang bulan bukan hanya karena adanya tanda kehamilan, namun terdapat beberapa penyebab seorang wanita memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur. Berikut ini adalah penyebab telat datang bulan: 

  • Sedang menggunakan alat kontrasepsi IUD;
  • Mengganti pil KB dengan obat-obatan lain; 
  • Aktivitas fisik atau olahraga yang berlebihan; 
  • Polip rahim atau penebalan pada lapisan uterus;
  • Kondisi tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme) atau tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme);
  • Fibroid rahim adalah tumor jinak dari rahim; 
  • Hormon estrogen yang terlalu sedikit atau terlalu banyak;
  • Ketidakseimbangan hormon;
  • Gangguan genetik atau kromosom seperti sindrom turner dan sindrom sawyer; 
  • Obat-obatan tertentu yang memiliki efek samping amenorrhea, yaitu kondisi di mana wanita tidak bisa haid; hingga
  • Masalah struktural pada organ reproduksi wanita, seperti disabilitas dari lahir atau infeksi di rahim.

Seorang perempuan dikatakan harus mencari obat telat datang bulan bila telah mengalami kondisi seperti: 

  • Tidak menstruasi selama 3 bulan berturut-turut;
  • Tidak menstruasi selama 3 kali dalam 1 tahun;
  • Siklus menstruasi Anda terlalu sering atau setiap 21 hari sekali;
  • Siklus menstruasi Anda sering telat atau siklus setiap 35 hari sekali;
  • Menstruasi terjadi lebih dari 7 hari;
  • Anda merasakan sakit yang tidak biasa setiap menstruasi. 

Sebaiknya Anda memeriksakan diri ke dokter terlebih dulu sebelum memutuskan untuk minum obat telat datang bulan. Beberapa kasus telat datang bulan mungkin tidak memerlukan perawatan khusus, namun sebagian kondisi lain mungkin mempengaruhi siklus menstruasi Anda dan membutuhkan perawatan khusus. Berikut ini adalah beberapa rekomendasi obat telat datang bulan yang biasanya diberikan oleh dokter, yaitu: 

  • Metformin 

Metformin merupakan obat yang digunakan untuk menurunkan resistensi insulin. Wanita yang memiliki sindrom ovarium polikistik (PCOS) dan indeks massa tubuh lebih dari 35 mungkin memiliki risiko resisten insulin yang dapat berpengaruh pada ovarium. 

Manfaat utama obat metformin bukan untuk melancarkan datang bulan, tapi dapat membantu mengatasi telat datang bulan dilihat dari penyebabnya. Anda dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum mengambil dosis obat metformin.

  • Clomiphene 

Clomiphene adalah obat untuk membantu produksi telur atau ovulasi pada wanita. Obat clomiphene ini termasuk dalam golongan kelas obat stimulan ovulasi. Cara kerja obat clomiphene hampir serupa dengan estrogen, yaitu hormon alami wanita yang memicu perkembangan telur di ovarium. Umumnya, dokter akan menyarankan untuk minum obat clomiphene untuk masalah telat datang bulan karena obat ini dapat memicu ovulasi dan pelepasan telur. 

  • Letrozole

Obat letrozole juga berfungsi untuk memicu terjadinya ovulasi. Obat letrozole ini umumnya digunakan oleh wanita obesitas yang menderita PCOS. Obat letrozole terbukti 19,1 persen lebih efektif dari obat clomiphene dalam mengatasi masalah kesuburan pada wanita dengan PCOS. Selain itu, obat letrozole juga digunakan untuk perawatan beberapa jenis kanker payudara pada wanita setelah menopause. Harap konsultasikan pada dokter sebelum dan selama Anda mengkonsumsi obat ini. 

  • Progestin

Progesteron berperan sebagai hormon yang meregulasi siklus menstruasi, kehamilan, hormon seksual, kesuburan, dan perkembangan embrio. Progestin adalah obat telat datang bulan di apotek yang efektif. Umumnya, wanita yang telat datang bulan minum progestin dalam dosis rendah agar siklus menstruasinya menjadi lancar dan teratur kembali.

Itulah beberapa rekomendasi obat telat datang bulan yang aman dikonsumsi berdasarkan anjuran dokter. Sebelum minum obat, tidak ada salahnya jika Anda terlebih dahulu mencoba menerapkan gaya hidup sehat. Misalnya dengan menjaga berat badan seimbang, olahraga teratur, tidur cukup, dan mengonsumsi makanan sehat. Jika setelah berobat menstruasi Anda masih mengalami gangguan, konsultasikan ke dokter spesialis kandungan