Etoricoxib

Jika Anda ingin menggunakan obat etoricoxib untuk mengatasi masalah sendi, Anda perlu gunakannya sesuai dosis yang dianjurkan. Berikut adalah dosis yang digunakan pasien berdasarkan kondisi yang dialami:

  • Rematik

Bagi pasien yang mengalami rematik, dosis yang digunakan sebanyak 90 mg yang dikonsumsi sekali sehari.

  • Osteoartritis

Bagi pasien yang mengalami osteoartritis, dosis yang digunakan sebanyak 30 mg yang dikonsumsi sekali sehari. Dosis tersebut dapat ditingkatkan menjadi 60 mg jika pasien membutuhkan obat etoricoxib.

  • Gout akut

Bagi pasien yang mengalami gout akut, dosis yang digunakan sebanyak 120 mg yang dikonsumsi sekali sehari. Pasien perlu menggunakan obat etoricoxib untuk mengatasi kondisi tersebut paling lama 8 hari.

Efek Samping Obat Etoricoxib

Sama seperti obat lain, obat etoricoxib juga dapat menimbulkan efek samping berupa perut kembung, diare, sembelit, mual, muntah, dan sakit kepala. Pasien bisa saja mengalami kondisi yang lebih serius. Oleh karena itu, pasien perlu hubungi dokter jika kondisinya memburuk.

Jika Anda mengalami efek samping seperti ini dan ingin bertemu dengan dokter, Anda sebaiknya jangan lupa untuk beritahu dokter jika Anda memiliki kondisi berikut:

  • Gangguan hati.
  • Gagal jantung.
  • Hipertensi.
  • Sedang memasuki masa kehamilan.

Obat etoricoxib dapat diberikan kepada pasien yang memiliki kondisi berikut:

  • Memiliki reaksi alergi terhadap aspirin dan NSAID.
  • Hipertensi yang tidak terkendali.
  • Hipersensitivitas terhadap etoricoxib.
  • Gagal jantung dalam skala sedang hingga berat.
  • Penyakit jantung iskemik.
  • Penyakit serebrovaskular.
  • Gangguan ginjal dan hati.
  • Sedang memasuki masa menyusui.

Obat Etoricoxib Dengan Obat Lain

Selain kondisi seperti yang disebutkan di atas, pasien yang ingin mengkonsumsi obat etoricoxib perlu pahami bahwa obat tersebut tidak dapat digunakan secara bersamaan dengan obat lain, karena dapat menimbulkan efek yang buruk bagi tubuh. Oleh karena itu, pasien perlu bertanya ke dokter terlebih dahulu supaya dapat menyesuaikan pengobatannya. Dokter dapat mengurangi dosis obat etoricoxib.

Berikut adalah beberapa contoh obat lain yang tidak dapat dikonsumsi dengan obat etoricoxib:

  • Antikoagulan oral

Jika Anda mengkonsumsi obat tersebut dengan obat etoricoxib, maka Anda akan meningkatkan INR.

  • Rifampisin

Jika Anda menggunakan obat tersebut dengan obat etoricoxib, maka Anda akan mengurangi kadar etoricoxib pada plasma darah.

  • Serum

Jika Anda menggunakan obat tersebut dengan obat etoricoxib, maka Anda akan meningkatkan kadar etinilestradiol.

Jika Kondisi Anda Memburuk

Jika kondisi Anda memburuk, Anda sebaiknya temui dokter. Sebelum bertemu dengan dokter, Anda dapat mempersiapkan diri dengan beberapa hal sebagai berikut:

  • Daftar pertanyaan yang ingin Anda ajukan ke dokter.
  • Daftar gejala yang Anda alami.
  • Daftar riwayat medis (jika diperlukan).

Ketika Anda bertemu dengan dokter, dokter akan menanyakan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala tersebut terjadi?
  • Berapa lama gejala tersebut terjadi?
  • Apakah Anda memiliki penyakit tertentu?

Setelah mengetahui kondisi Anda, dokter dapat menentukan pengobatan untuk mengatasi kondisi yang Anda alami.

Kesimpulan

Obat etoricoxib dapat Anda gunakan untuk mengatasi masalah sendi. Meskipun demikian, obat tersebut perlu digunakan sesuai dosis yang dianjurkan, kecuali jika dokter mengubah dosis tersebut karena Anda mengalami kondisi tertentu. Efek samping karena obat tersebut juga bisa terjadi. Oleh karena itu, jika kondisi tidak membaik, Anda sebaiknya hubungi dokter.

Beberapa Merek Dagang Fenofibrate yang Beredar di Indonesia

Fenofibrat adalah nama generik untuk obat yang berfungsi meningkatkan lipolisis (pemecahan lemak) dan eliminasi partikel yang kaya akan trigliserida dari plasma dengan mengaktifkan lipoprotein lipase (enzim untuk memecah lipid).

Secara umum, Fenofibrat digunakan sebagai penurun kadar trigliserida (asam lemak) dan kolesterol jahat dalam tubuh. Dengan begitu, HDL atau kolesterol baik dapat ditingkatkan sehingga seseorang dapat terhindar dari penyakit-penyakit yang berkaitan dengan penggumpalan darah di arteri.

Di Indonesia, ada banyak merek dagang dari Fenofibrate. Di bawah ini tersedia beberapa merek dagang tersebut. Perlu diingat bahwa daftar di bawah ini dipilih secara acak tanpa mempertimbangkan faktor-faktor seperti jumlah peredaran, harga, dan sebagainya. Berikut di antaranya:

  • Cholecaps

Cholecaps merupakan obat yang mengandung Finofibrate sebanyak 200 miligram dalam tiap kapsulnya. Produk ini dipasarkan oleh perusahaan farmasi Apotex inc. Cholecaps bukan obat bebas, karena itu untuk dapat menggunakannya seseorang butuh resep dari dokter.

  • Evothyl

Obat ini beredar di pasaran dengan nama Evothyl 300MG/100MG TAB, sesuai dengan bentuk dan kandungannya. Evothyl berbentuk tablet dengan masing-masing mengandung 300 atau 100 miligram Finofibrate. Obat ini diproduksi oleh perusahaan farmasi Guardian pharmatama.

  • Felosma

Perusahaan farmasi Bernofarm mengeluarkan produk Finofibrate dengan merek Felosma. Yang paling sering ditemukan, Felosma berbentuk kapsul dengan masing-masing kapsulnya mengandung 300 miligram Finofibrate. Sama seperti merek lainnya, Felosma juga merupakan obat resep.

  • Fenofibrate OGB Medikon

Merek dagang Finofibrate satu ini dikeluarkan oleh Medikon. Tiap tablet mengandung 200 miligram senyawa aktif yang digunakan untuk terapi sistemik dalam mengatasi hiperkolesterol dan hipertrigliserid dalam darah. 

  • Fenolip

Mepofarm juga memiliki produk Finofibrate. Perusahaan itu menjualnya dengan merek dagang Fenolip. Fenolip memiliki dua varian, pertama mengandung senyawa aktif Finofibrate 100 miligram dan kedua mengandung senyawa aktif Fenofibrate 300 miligram. Keduanya berbentuk kapsul.

  • Fenosup Lidose

Fenosup Lidose adalah merek dagang Finofibrate milik perusahaan farmasi Ethica. Tiap kemasan obat Fenosup Lidose mengandung zat aktif Finofibrate sebanyak 160 miligram. Jika Anda ke apotek, Fenosup Lidose dipasarkan dengan kemasan dos berisikan 30 kapsul.

  • Fibesco

Sama seperti Finofibrate lainnya, Fibesco adalah obat yang digunakan untuk mengurangi kolesterol dan trigliserida (asam lemak) dalam darah. Obat ini diproduksi oleh perusahaan farmasi Dipa pharmalab. Berbentuk kapsul, Fibesco mengandung 300 miligram Finofibrate tiap kapsulnya.

  • Fibramed

Pabrikan farmasi Promed mengeluarkan produk Finofibrate dengan nama dangan Fibramed. Obat ini berbentuk kapsul dengan kandungan senyawa aktif 300 miligram. Penggunaan Fibramed harus sesuai dengan resep atau instruksi dari dokter.

***

Itulah beberapa merek dagang Finofibrate yang beredar di Indonesia. Kurang lebih indikasi atau manfaat dari obat ini sama. Perbedaan masing-masing merek dagang mungkin hanya terletak di bentuk dan juga kandungan senyawa aktifnya.

Seluruh penggunaan obat ini harus berdasarkan resep dokter. Karena seperti produk farmasi lainnya, konsumsi Finofibrate yang tidak tepat memiliki berbagai efek bagi kesehatan. Efek samping paling umum dari Finofibrate seperti gangguan pada saluran pencernaan diantaranya mual, muntah, dan nyeri perut.

Sementara efek samping yang jarang terjadi, meski masih ada kemungkinan, adalah vertigo, eksim, trombositopenia, anemia, leukopenia, eosinopilia, ruam kulit, dermatitis, pruritus, urtikaria, impotensi, sakit kepala, pusing, pandangan kabur, sakit kuning kolestatik, angiodema, edema larings, fibrilasi atrium, pankreatitis, miastenia, miopati, rabdomiolisis, nyeri ekstremitas, mialgia disertai dengan meningkatnya kreatin kinase.

Masih ada beberapa kondisi medis lain yang bisa menjadi efek samping dari penggunaan hampir seluruh merek dagang Finofibrate. Namun, mungkin semua itu kembali kepada masing-masing kondisi pasien.

Chloramphenicol

Chloramphenicol merupakan jenis obat yang dapat digunakan untuk mengatasi infeksi karena adanya mikroorganisme. Obat chloramphenicol bekerja dalam menghambat sintesis protein bakteri. Obat chloramphenicol hanya dapat digunakan oleh penderita yang mengalami infeksi mata yang disebabkan oleh bakteri.

Kemasan Obat Chloramphenicol

Obat chloramphenicol dapat diperoleh melalui resep dokter. Obat tersebut juga tersedia dalam kemasan tetes, tablet, salep, dan suntik. Obat chloramphenicol hanya dapat dikonsumsi oleh orang dewasa.

Penggunaan Obat Chloramphenicol

Jika Anda ingin menggunakan obat chloramphenicol, Anda dapat menggunakannya. Dosis yang digunakan setiap orang juga berbeda, tergantung pada kondisi yang dialami. Oleh karena itu, Anda dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum menggunakan obat tersebut.

Jika Anda mengalami infeksi okular, Anda sebaiknya gunakan obat tetes yang diteteskan setiap 2 jam. Dosis awal yang sebaiknya Anda gunakan adalah sebanyak 0,5 persen. Jika kondisi membaik, Anda dapat tingkatkan dosis tersebut. Anda juga disarankan untuk terus menggunakan obat tersebut selama 48 jam.

Jika Anda mengalami meningitis bakterial, infeksi bakteri Anaerob, abses otak, tularemia, atau gastroenteritis berat, Anda sebaiknya gunakan tablet oral sebanyak 50 mg/kgBB/hari yang dibagi dalam 4 dosis, dan dinaikkan hingga 100 mg/kg/hari khusus meningitis. Pengobatan dengan obat tersebut dapat Anda lanjutkan setelah suhu tubuh Anda normal selama 4 hari pada penyakit riketsia dan 8 hingga 10 hari pada demam tifoid.

Jika Anda menggunakan obat chloramphenicol dalam bentuk tetes, Anda sebaiknya tetes sebanyak 2 hingga 3 kali dengan kadar 5 persen yang dilakukan 2 hingga 3 kali sehari.

Efek Samping Obat Chloramphenicol

Sama seperti obat lain, obat chloramphenicol juga dapat menimbulkan efek samping berupa penglihatan kabur (sementara), menyengat, terbakar, demam, dan pendarahan saluran cerna pada penggunaan obat dalam bentuk tetes. Jika kondisi memburuk, Anda sebaiknya hubungi dokter.

Anda perlu dirawat jika Anda mengalami kondisi sebagai berikut:

  • Supresi sumsum tulang dan anemia aplastik ireversibel.
  • Anafilaksis.
  • Neutropenia.
  • Trombositopenia.
  • Sindrom bayi abu-abu.

Hal-Hal Lain yang Perlu Diperhatikan

Anda sebaiknya konsultasikan dengan dokter jika Anda memiliki kondisi medis sebagai berikut:

  • Alergi terhadap chloramphenicol atau obat antibiotik lain.
  • Memiliki gangguan pada hati atau ginjal.
  • Anemia.
  • Diabetes.
  • Bayi prematur.
  • Kondisi tubuh yang disebabkan oleh terapi radiasi.

Selain kondisi di atas, Anda juga dianjurkan untuk tidak menggunakan kontak lensa jika Anda ingin menggunakan obat chloramphenicol, karena dapat menimbulkan efek samping seperti penglihatan kabur. Jika penglihatan Anda kabur, Anda tidak diperbolehkan untuk mengemudi.

Obat chloramphenicol juga sebaiknya tidak Anda gunakan secara bersamaan dengan obat lain, karena dapat menimbulkan interaksi berupa:

  • Penurunan efek zat besi dan vitamin B12 khusus penderita anemia.
  • Gangguan pada kerja obat kontrasepsi oral.
  • Peningkatan efek phynitoin (obat yang digunakan untuk mengontrol kejang).

Jika Anda Ingin Bertemu dengan Dokter

Jika Anda ingin bertemu dengan dokter, Anda dapat mempersiapkan diri dengan beberapa hal sebagai berikut:

  • Daftar pertanyaan yang ingin Anda ajukan ke dokter.
  • Daftar gejala yang Anda alami karena kondisi medis tertentu.
  • Daftar riwayat medis.

Ketika Anda bertemu dengan dokter, dokter akan menanyakan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala yang Anda alami terjadi?
  • Berapa lama gejala yang Anda alami terjadi?
  • Apakah Anda memiliki riwayat medis?

Setelah mengetahui kondisi Anda, dokter dapat menentukan pengobatan yang lebih tepat untuk mengatasi kondisi yang Anda alami.

Kesimpulan

Obat chloramphenicol dapat mengatasi infeksi karena bakteri. Meskipun demikian, obat tersebut juga dapat menimbulkan efek samping seperti pandangan kabur (untuk sementara waktu). Oleh karena itu, Anda sebaiknya konsultasikan dengan dokter apakah obat chloramphenicol aman untuk digunakan atau tidak.

Bisakah Mengganti Methycobal dengan Beragam Bahan Alami?

Methycobal adalah obat yang dirancang untuk mengatasi masalah saraf primer. Manfaat itu bisa didapat lantaran kandungan utama obat ini, yakni mecobalamin atau lebih dikenal dengan vitamin B12. Methycobal juga masuk ke dalam kelompok vitamin B kompleks.

Obat ini umumnya berbentuk kapsul, meski tersedia pula yang berbentuk cairan atau likuid. Methycobal termasuk obat keras sehingga penggunaannya harus berdasarkan resep dari dokter. Di Indonesia, PT Eisai Indonesia, merupakan produsen yang cukup populer dalam lingkaran dagang obat ini. Produk Methycobal yang mereka lepas ke pasaran memiliki satuan dosis 500 mikrogram.

Ada banyak sekali manfaat yang bisa diberikan vitamin B12 bagi tubuh. Pasalnya, vitamin B12 merupakan vitamin neurotropik yang berfungsi untuk menjaga, memelihara, dan menormalkan fungsi saraf dengan memperbaiki gangguan metabolisme sel saraf dan memberikan asupan yang dibutuhkan agar saraf mampu bekerja dengan baik.

Tak hanya itu, vitamin B12 yang dikandung Methycobal juga digunakan untuk mengatasi keracunan sianida dan tingginya kadar homosistein dalam darah (hiperhomosisteinemia). Vitamin B12 pun amat diperlukan untuk melancarkan fungsi dan perkembangan otak, saraf, sel darah, dan banyak bagian tubuh lainnya.

Meski banyak manfaatnya, tak dapat dimungkiri jika obat yang merupakan hasilan dari industri farmasi memiliki berbagai efek samping bagi manusia. Selain itu, obat juga bisa menyebabkan kontraindikasi atau efek kebalikan dari manfaat yang bisa diberikan suatu obat (risiko). Ini belum termasuk interaksi obat serta kemungkinan berbahaya yang dapat dialami seseorang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Sebenarnya, vitamin B12 yang amat dibutuhkan manusia ini dapat didapat dari berbagai bahan alami. Artinya, seseorang tak selalu harus mengonsumsi Methycobal untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12. Kita dapat mengganti dengan bahan makanan yang juga kaya akan vitamin B12, seperti:

  • Daging sapi

Selain mengandung zat besi, daging sapi juga mengandung vitamin B12. Dalam 85 gram daging sapi, setidaknya terkandung 1,3 mcg vitamin B12. Daging sapi merupakan sumber protein dan vitamin B2 (riboflavin).

Namum perlu kehati-hatian dan kebijaksanaan dalam mengonsumsi daging sapi. Karena di balik beragamnya kandungan nutrisi, daging merah memiliki kandungan kolesterol yang tinggi, sehingga bila dikonsumsi secara berlebihan, dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular.

  • Daging ayam dan telurnya

Daging ayam juga mengandung vitamin B12, terutama di bagian dada. Dalam 85 gram dada ayam, terkandung 0,3 mcg vitamin B12. Kandungan protein di dalamnya juga bisa membantu pembakaran lemak dalam tubuh. Selain itu, 1 butir telur rebus yang besar mengandung 0,5 mcg vitamin B12.

  • Makanan Laut

Tak ada yang dapat menyangkal gizi dan nutrisi yang dikandung oleh makanan laut. Hampir semua makanan laut mengandung vitamin B12. Bahan makanan laut yang terbukti memiliki kandungan vitamin b12 terbanyak adalah kerang.

Dibanding daging sapi dan ayam, dalam jumlah yang sama, kerang bisa memberikan 84 mikogram (mcg) mecobalamin. Sementara kepiting, dalam jumlah yang sama (85 gram) mengandung 10 mcg vitamin B12.

Ikan salmon yang terkenal dengan kandungan protein dan omega-3 hanya mengandung sekitar 5 mcg, kalah dari ikan sarden yang mengandung sekitar 7,5 mcg micobalamin dalam jumlah yang sama, yakni 85 gram.

  • Susu dan produk turunannya

Dalam 1 gelas susu rendah lemak, terkandung 1 mcg vitamin B12. Produk olahan susu, seperti yoghurt juga bisa memenuhi kebutuhan vitamin B12 manusia. Dalam 225 gram yoghurt rendah lemak mengandung 1 mcg vitamin B12.

Beberapa makanan di atas bisa dijadikan alternatif seseorang untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan vitamin B12 mereka, meski mungkin tidak secepat jika mengonsumsi Methycobal. Sebab dalam satu kapsul Methycobal, seseorang bisa langsung mendapat asupan micobalamin sebesar 500 mikrogram.

Namun, perlu diingat bahwa Methycobal digunakan pada saat atau kondisi tertentu. Jika Anda dalam kondisi sehat dan baik-baik saja, seseorang tak butuh asupan sebanyak itu. Sehingga dengan menjaga pola konsumsi, sebenarnya seseorang bisa hidup sehat asalkan gizi, nutrisi, dan senyawa-senyawa lain yang dibutuhkan tubuh tetap mencukupi.

4 Golongan Antibiotik yang Sering Digunakan

Ada 10 golongan antibiotik yang bisa dipilih sesuai kondisi penyakit

Antibiotik adalah kelompok obat-obatan yang digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh beberapa kuman, bakteri dan parasit tertentu. Antibiotik biasanya dibagi menjadi beberapa golongan berdasarkan mekanisme kerjanya, struktur kimia, atau spektrum aktivitas.

Meskipun antibiotik obat-obatan yang digunakan untuk infeksi, mereka tidak bekerja melawan infeksi yang disebabkan oleh virus misalnya seperti, flu biasa. Antibiotik biasanya hanya diresepkan untuk infeksi bakteri yang lebih serius, karena banyak infeksi membaik dengan sendirinya. Penggunaan antibiotik yang benar juga sangat penting untuk membantu mengurangi resistensi antibiotik. 

Terdapat berbagai antibiotik yang tersedia dan datang dalam berbagai merek yang berbeda. Antibiotik biasanya dibagi menjadi beberapa golongan berdasarkan cara kerjanya. Setiap jenis antibiotik hanya bekerja melawan beberapa jenis bakteri atau parasit tertentu. Inilah sebabnya mengapa berbagai golongan antibiotik digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi.

Berikut golongan utama antibiotik yang paling umum digunakan:

  • Penisilin 

Penisilin adalah golongan antibiotik yang menyerang berbagai macam bakteri.  Mereka adalah antibiotik pertama yang digunakan dokter. Jamur penicillium adalah sumber penisilin, yang dapat dikonsumsi secara oral atau injeksi.

  • Sefalosporin 

Sefalosporin adalah golongan antibiotik β-laktam yang awalnya berasal dari jamur Acremonium, yang sebelumnya dikenal sebagai “Cephalosporium”. Sefalosporin diindikasikan untuk profilaksis dan pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang peka terhadap bentuk antibiotik khusus ini. 

  • Tetrasiklin 

Tetrasiklin adalah antibiotik yang digunakan untuk mengobati sejumlah infeksi, termasuk jerawat, kolera, brucellosis, wabah, malaria, dan sifilis yang dikonsumsi melalui mulut.

  • Aminoglikosida 

Berbeda dari antibiotik lain yang lebih sering dikonsumsi secara oral, aminoglikosida lebih sering diberikan secara injeksi atau suntikan, langsung ke pembuluh darah. Contoh obat yang masuk dalam golongan antibiotik ini antara lain gentamicin, tobramycin, amikacin.

Biasanya dokter meresepkan antibiotik untuk pengobatan infeksi bakteri. Jika Anda terlalu sering menggunakan antibiotik atau menggunakannya secara salah, bakteri mungkin menjadi resisten. Hal ini berarti bahwa, antibiotik menjadi kurang efektif terhadap jenis bakteri tersebut karena bakteri mampu meningkatkan pertahanannya.

Beberapa golongan antibiotik bekerja dengan cara membunuh kuman, bakteri atau parasit. Hal ini sering dilakukan dengan mengganggu struktur dinding sel bakteri atau parasit.  Sedangkan beberapa antibiotik bekerja dengan menghentikan bakteri atau parasit agar tidak bertambah banyak.

Mengenal Tentang Midazolam, Obat yang Kontroversial

Midazolam termasuk dalam golongan obat Benzodiazepine yang bekerja pada sistem saraf pusat. Oleh karena itu obat Midazolam dapat menyebabkan efek relaksasi, mengantuk, dan menyebabkan hilangnya ingatan sebagian atau total selama penggunaan obat. Midazolam biasanya digunakan sebagai obat bius agar pasien bisa menahan sakit dari prosedur media yang akan dilakukan. Selain itu, obat ini juga sering digunakan di ICU pada pasien yang dipasang alat ventilator.

Obat ini juga memiliki efek mengurangi kecemasan. Tidak heran, midazolam tidak dijual bebas dan hanya bisa diberikan oleh tenaga medis di fasilitas kesehatan. Namun, apa saja efek sampingnya? Simak penjelasan berikut ini.

Efek samping midazolam

Efek samping dari midazolam dapat menyebabkan penekanan pada sistem pernapasan sehingga menyebabkan orang yang menggunakannya sulit untuk bernapas. Oleh karena itu, midazolam sebaiknya tidak digunakan pada pasien dengan penyakit pernapasan seperti PPOK. Jika penggunaannya tidak tepat, midazolam dapat menyebabkan napas berhenti yang akhirnya mengakibatkan kerusakan pada otak secara permanen bahkan dapat menyebabkan kematian.

Midazolam juga tidak dianjurkan pada wanita hamil dan menyusui karena obat ini dapat melewati ari-ari dan menyebabkan janin di dalam kandungan mengalami efek midazolam. Efek samping penggunaan obat ini juga bervariasi. Mulai dari efek samping yang ringan hingga berat tergantung dosis obat yang digunakan. Efek samping yang sering terjadi dengan penggunaan midazolam antara lain:

  • Rasa lelah
  • Sakit kepala
  • Sulit mengontrol diri
  • Gangguan keseimbangan
  • Gampang marah
  • Halusinasi
  • Bicara tidak jelas
  • Gemetaran
  • Sulit bernapas

Jika dosis midazolam berlebihan, akan terjadi gejala overdosis sebagai berikut:

  • Hilangnya kesadaran
  • Perasaan ngantuk terus-menerus
  • Gampang jatuh

Efek yang ditimbulkan, yaitu mengantuk, sakit kepala, dan batuk akibat iritasi tenggorokan. Selain itu, penggunaan pada hidung dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan hidung berair.

Penggunaan obat baru ini tidak diperbolehkan pada penderita glaukoma sudut tertutup. Adanya konsumsi obat sedasi lainnya, seperti obat nyeri golongan opioid, dapat menyebabkan efek sedasi berat, depresi pernapasan, koma hingga kematian.

Sebelum Anda memutuskan untuk menggunakan obat ini, sebaiknya konsultasikan dahulu pada dokter mengenai obat lainnya yang sedang Anda konsumsi.