10 Bahaya Operasi Kosmetik yang Perlu Diketahui, Tanya Dokter Bedah Plastik Terlebih Dahulu

Operasi plastik memang jadi topik yang hangat dibicarakan karena terkait dengan kecantikan atau ketampanan. Biasanya orang yang melakukan operasi plastik ini adalah mereka yang tidak pede dengan penampilannya. Namun, perlu diketahui pro dan kontranya. Sebelum memutuskan untuk melakukan ini, sebaiknya terlebih dahulu Anda tanya dokter bedah plastik berbagai risikonya.

Risiko Melakukan Operasi Plastik yang Perlu Anda Pertimbangkan

Berbagai jenis operasi pasti memiliki risiko, termasuk operasi plastik. Penting sekali untuk memahami berbagai risiko yang mungkin muncul karena tindakan medis ini sebelum melakukannya. Selain itu, berdiskusi dan tanya dokter bedah plastik untuk mendapatkan jawaban terbaik.

  1. Mengalami Kerusakan Saraf

Tindakan bedah biasanya berisiko terjadi kerusakan saraf, termasuk tindakan operasi plastik. Biasnya komplikasi terjadi di saraf wajah yang membuat Anda sulit memberikan ekspresi muka. Bahkan sangat berisiko mengalami mata terkulai. Namun, kebanyakan berbagai kasus kerusakan saraf yang terjadi akibat dari operasi plastik bisa ditangani, ada pula yang mengalami kerusakan permanen.

  1. Infeksi

Infeksi menjadi komplikasi yang umumnya terjadi setelah operasi plastik. Infeksi yang terjadi salah satunya adalah infeksi selulitis yang merupakan infeksi pada kulit. Di beberapa kasus, infeksi setelah operasi plastik ini terjadi di bagian tubuh dalam dan bisa menjadi parah. Sehingga membutuhkan antibiotik secara intravena untuk mengatasinya.

  1. Perdarahan

Operasi plastik juga berisiko menyebabkan terjadinya perdarahan. Jika perdarahan ini tidak terkontrol, bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah menurun dan berisiko mengalami kematian.

Kondisi ini bisa terjadi selama proses operasi atau pun setelah dilakukannya operasi. Pada kasus operasi plastik, biasanya perdarahan terjadi karena pasien sangat aktif bergerak.

  1. Seroma

Seroma adalah kumpulan cairan limfatik yang ada di permukaan kulit. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya pembengkakan dan rasa sakit. Sebenarnya, risiko terjadinya seroma ini bisa di semua jenis operasi, termasuk operasi plastik abdominoplasty.

Jika kumpulan cairan tersebut cukup besar, maka dokter bisa menyingkirkannya dengan jarum. Meski cairan tersebut berisiko muncul kembali.

  1. Terbentuknya Jaringan Parut

Pada semua jenis tindakan bedah, biasanya berisiko terbentuk jaringan parut, termasuk operasi plastik. Hal ini bisa mengganggu pasien karena tujuan dari operasi plastik sendiri adalah untuk mempercantik atau meningkatkan ketampanan. 

Risiko terbentuknya jaringan parut ini bisa diminimalisir dengan melakukan berbagai hal seperti mengonsumsi makanan sehat, tidak merokok setelah operasi, serta mengikuti semua saran dari dokter.

  1. Hematoma

Hematoma merupakan kumpulan darah yang terbentuk di luar pembuluh darah dan umumnya menyebabkan rasa sakit. Hampir semua jenis operasi biasanya terjadi kondisi hematoma, seperti pembesaran payudara maupun facelift.

  1. Kegagalan Operasi Plastik

Ketakutan terbesar orang yang melakukan operasi kosmetik adalah terjadi kegagalan. Hasil operasi mungkin saja tidak sesuai dengan keinginan. Bahkan jika terjadi kegagalan, maka dapat membuat penampilan bahkan lebih buruk dari sebelumnya.

  1. Gumpalan Darah

Gumpalan darah memang menjadi risiko umum yang dialami oleh berbagai prosedur medis, termasuk juga operasi plastik. Jenis gumpalan yang terbentuk adalah trombosis vena dalam yang muncul di area kaki. 

Meski tak banyak kasus yang mengancam jiwa, namun tentu gumpalan darah ini perlu ditangani dokter. Kondisi ini dapat mengancam jiwa jika gumpalan darah bergerak melalui pembuluh balik menuju jantung dan juga paru-paru.

  1. Komplikasi Anestesi

Bius atau anestesi dilakukan untuk membuat pasien yang akan menjalani bedah hilang kesadaran sesaat, sehingga tidak merasakan ketika operasi berlangsung. Komplikasi anestesi yang dimaksud seperti stroke, infeksi paru-paru, serangan jantung, bahkan bisa menyebabkan kematian.

  1. Kematian

Bisa dibilang semua jenis operasi itu berisiko menyebabkan kematian pasien. Meskipun risiko ini kemungkinan sangat kecil, tapi tetap ada kemungkinan tersebut saat menjalani bedah. Biasanya, komplikasi akibat obat bius menjadi penyebab kasus kematian terbanyak.

Oleh sebab itu, penting sekali untuk mengetahui bahaya melakukan operasi plastik ini sebelum memutuskan akan menjalaninya. Sehingga sebaiknya berdiskusilah dengan seksama dan tanya dokter bedah plastik. Meskipun secara keseluruhan, risiko operasi plastik jarang terjadi. Tapi, tak ada salahnya untuk tetap waspada dan mencari informasi.

Kenali Jenis Operasi Prostat Sebelum Memutuskan untuk Melakukan Prosedur Tersebut

Kaum adam memiliki kelenjar khusus dalam tubuhnya, yaitu kelenjar prostat. Kelenjar tersebut terletak di bagian bawah kandung kemih yang memiliki fungsi untuk memproduksi cairan yang nantinya akan membawa sperma. Kelenjar prostat ini dilalui oleh saluran kencing atau uretra.

Kelenjar prostat akan mengalami perubahan ukuran, semakin usia bertambah, maka kelenjar ini akan semakin besar, sehingga terkadang ia mengganggu proses buang air kecil. Faktor penyebab pembesaran ukuran kelenjar ini dapat diakibatkan oleh kanker atau proses pembesaran prostat jinak (BPH). Akibat dari dua faktor tersebut, banyak dari kaum pria kemudian memilih untuk melakukan operasi prostat.

Apa saja jenis operasi prostat?

Pada kenyataannya, jenis operasi prostat dapat bermacam-macam, mulai dari operasi yang bersifat radikal sampai tidak invasif. Pemilihan jenis prosedur operasi prostat dipengaruhi oleh tingkat keseriusan kasus dan tujuan melakukan operasi itu sendiri.

Dalam kasus tertentu, seperti operasi kanker prostat, prosedur operasi akan dilakukan dengan mengangkat sebanyak mungkin jaringan kanker. Sementara itu, untuk kasus BPH, operasi prostat dilakukan untuk mengikis jaringan prostat yang menjepit saluran kencing. Ada pun jenis-jenis operasi prostat, antara lain:

  • Prostatektomi terbuka

Prostatektomi adalah suatu prosedur operasi pengangkatan prostat yang dilakukan dengan membuang prostat serta jaringan di area sekitarnya. Dalam operasi ini, dokter akan membuat sayatan dari pusar ke arah tulang selangkangan atau dengan membuat sayatan pada area antara skrotum dengan anus, yang disebut dengan perineum.

  • Reseksi prostat transurethral/Transurethral Resection of The Prostate (TURP)

Prosedur TURP merupakan prosedur yang paling sering digunakan dalam mengatasi kasus BPH. Prosedur ini menggunakan alat endoskopi yang dilengkapi dengan kamera. Alat tersebut kemudian dimasukkan ke dalam uretra, lalu dilakukan pengangkatan jaringan prostat yang mengalami pembesaran.

Insisi transurethral prostat atau Transutethral Incision of The Prostate (TUIP) merupakan prosedur yang serupa dengan TURP. Hanya saja, perbedaannya terletak pada jumlah jaringan prostat yang diangkat. Prosedur TUIP hanya membutuhkan sayatan kecil untuk mengurangi tekanan prostat pada uretra. Dengan begitu, proses buang air kecil dapat dilakukan dengan lebih mudah.

  • Laser

Prosedur laser ini bekerja dengan mematikan sel-sel kelenjar prostat dan membuat ukuran kelenjar tersebut menjadi lebih kecil. Prosedur ini tidak akan memberikan hasil efektif untuk kasus prostat yang besar. Kelebihan dari prosedur ini adalah efek samping yang lebih ringan dan juga rendahnya risiko perdarahan yang mungkin terjadi.

  • Laparoskopi

Pada dasarnya prosedur laparoskopi dilakukan dengan prinsip yang sama dengan prostatektomi terbuka. Namun, sayatan yang dibuat pada prosedur ini berukuran lebih kecil.