Alami Hidradenitis Suppurativa, Ini Pengobatan Umumnya

Masalah kulit tidak hanya jerawat ataupun kondisi kulit kering yang menyebabkan peradangan. Banyak jenis penyakit kulit yang mesti Anda waspadai karena menimbulkan gejala dan ketidaknyaman yang ekstra, contohnya eksim maupun hidradenitis suppurativa. 

Hidradenitis suppurativa mungkin belum terlalu familiar di telinga Anda. Namun sebenarnya, banyak orang yang kerap mengalami masalah kulit yang satu ini. Hidradenitis suppurativa merupakan kondisi kulit mengalami benjolan kecil seperti bisul. Bisul-bisul yang menjadi tanda penyakit ini kerap muncul di kawasan kulit yang bergesekan, seperti di ketiak ataupun selangkangan. Jika terus dibiarkan, benjolan ini akan menyebabkan jaringan parut bahkan abses pada kulit tersebut. 

Baiknya ketika muncul bisul-bisul kecil yang merupakan hidradenitis suppurativa di daerah yang bergesekan tersebut, Anda langsung menjumpai dokter untuk mendapatkan perawatan. Berikut adalah beberapa pengobatan yang biasanya akan dilakukan untuk para penderita hidradenitis suppurativa. 

  • Pemberian Antibiotik 

Dokter umumnya akan memberikan antibiotik untuk pasien hidradenitis suppurativa. Pemberian antibiotik bertujuan mengurangi benjolan kecil yang berisi nanah di kulit. Antibiotik jenis klindamisin ataupun dapson juga diberikan untuk mencegah dan mengobati infeksi yang terjadi akibat benjolan-benjolan tersebut. 

  • Pengobatan Hormonal 

Sampai saat ini belum diketahui pasti mengenai penyebab dari penyakit kulit yang satu ini. Namun dalam banyak kasus, ditemukan bahwa hidradenitis suppurativa berhubungan dengan kondisi hormon penderitanya. Karena itu, tidak jarang dokter memberikan pengobatan hormonal bagi pasien hidradenitis suppurativa untuk mengurangi gejalanya. Pengobatan hormonal yang biasa dilakukan, yakni pemberian pil KB, spironolakton, ataupun finasterida. 

  • Resep Anti-inflamasi 

Benjolan kecil yang merupakan gejala dari hidradenitis suppurativa mudah untuk pecah dan mengeluarkan nanah. Tidak jarang pula, kondisi ini menimbulkan kondisi peradangan di area kulit yang terkena. Untuk meredakan peradangan tersebut, dokter umumnya akan meresepkan obat anti-inflamasi. Tidak jarang pula ada pemberian resep berjenis metformin yang dikenal sebagai obat diabetes. 

  • Suntikan Intravena 

Tingkat keparahan pasien hidradenitis suppurativa berbeda-beda. Pemberian obat oral, khususnya untuk peradangan, hanya ampuh untuk penderita bergejala ringan maupun sedang. Jika benjolan sudah terlalu banyak dan infeksi sudah menyebar, dokter memilih untuk melakukan suntikan intravena. Lewat suntikan tersebut, diharapkan bakteri di tubuh yang menyebabkan radang bisa dikalahkan. 

  • Pengurangan Rambut 

Semakin banyak rambut yang ada di daerah ketiak ataupun selangkangan akan membuat risiko hadirnya benjolan-benjolan kecil berisi nanah semakin besar. Karena itu, tidak jarang dokter akan merekomendasikan pasien hidradenitis suppurativa untuk melakukan pengurangan rambut menggunakan metode lase. Kebanyakan pasien membutuhkan rata-rata tiga perawatan laser yang diberikan setiap empat hingga enam minggu sekali guna penanganan penyakit ini.

  • Pemberian Drainase 

Tujuan pengobatan yang satu ini lebih ke arah mengeringkan benjolan atau abses yang sudah terjadi akibat hidradenitis suppurativa. Benjolan yang cepat kering sekaligus bisa mengurangi rasa nyeri yang dialami pasien. 

  • Deroofing 

Perawatan deroofing juga akan direkomendasikan dokter untuk memulihkan kondisi kulit akibat hidradenitis suppurativa. Ini merupakan prosedur pengangkatan sel kulit. Untuk kasus hidradenitis suppurativa, sel kulit yang diangkat adalah yang menutupi saluran abses atau benjolan. Nantinya setelah diangkat, akan timbul luka yang hanya dibiarkan terbuka untuk bisa sembuh dengan sendirinya. Pembiaran luka terbuka untuk mengurangi risiko benjolan kecil tersebut datang kembali. 

  • Operasi Laser 

Apabila Anda termasuk pasien dengan hidradenitis suppurativa yang membandel, dokter akhirnya akan meminta Anda melakukan operasi laser. Pengobatan ini dinilai akan lebih efektif. Hanya saja, prose penyembuhan kulit akibat operasi laser lumayan panjang, memerlukan waktu sekitar 6 minggu. 

***

Jika tidak diobati, hidradenitis suppurativa bisa terus bermunculan dan mengganggu kenyamanan Anda. Ditambah lagi, bekas benjolan atau jaringan parut dari penyakit ini tentunya dapat mengurangi tingkat percaya diri penderitanya. Tidak ingin demikian, bukan?

Banyak Penyebab Dada Sesak, Ini Cara Meredakannya

Penyebab dada sesak sangat beraneka rupa. Tidak melulu mengarah pada serangan jantung, rasa sesak di dada yang menyerupai tindihan berat atau rasa tertusuk benda tajam juga rentan dipicu oleh berbagai masalah kesehatan lainnya. Beberapa masalah kesehatan lain yang menjadi penyebab dada sesak, di antaranya refluks lambung atau GERD, asma, hingga serangan panik yang timbul akibat kecemasan yang berlebihan. 

Ketika merasakan dada sesak, pergi menemui tenaga medis adalah jalan terbaik. Ini mengingat banyak penyebab dada sesak yang merupakan penyakit serius. Namun jika tidak memungkinkan untuk segera pergi ke dokter atau rumah sakit, cobalah meredakan gejalanya sedikit agar Anda bisa merasa lebih nyaman. 

Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat Anda ambil ketika mengalami dada sesak. Langkah penanganan ini tidaklah terlalu sulit dan bisa Anda lakukan dari mana saja, termasuk dari rumah. 

  1. Atur Pernapasan

Rasa sesak di dada bisa dikurangi dengan mengatur pernapasan secara lebih baik. Ketika Anda mengalami sesak di dada, cobalah untuk mengambil napas lebih dalam. Tarik napas dalam 8 hitungan dan lepaskan secara perlahan dapat membantu melonggarkan rongga-rongga di dada sehingga kesesakan bisa berkurang. 

Saat mengalami dada sesak, alur pernapasan juga menjadi lebih cepat. Padahal, pernapasan yang terlalu cepat membuat rasa sesak kiat menguat. Cobalah mengendalikannya dengan memperlambat ritme pernapasan Anda. Ritme yang lebih lambat bisa membuat tubuh lebih rileks sehingga rasa sakit dapat berkurang. 

  1. Perbaiki Postur Tubuh 

Beberapa penyebab dada sesak berasal dari masalah peradangan baik di otot maupun bagian tulang rusuk. Salah satu cara meredakan rasa sesak akibat hal tersebut dengan memperbaiki postur tubuh Anda. 

Ketika mengalami dada sesak, cobalah untuk meluruskan punggung agar tubuh menjadi lebih rileks. Jangan biarkan tangan meronta, tapi cobalah letakkan di pangkuan atau paha Anda. Memejamkan mata agar bisa lebih berkonsentrasi meredakan rasa sakit juga dapat Anda lakukan agar rasa sesak dapat lekas berkurang. 

  1. Konsumsi Air Hangat 

Salah satu penyebab dada sesak adalah naiknya asam lambung atau masalah di pencernaan. Untuk meredakan rasa sesak akibat hal tersebut, Anda dapat mencoba mengonsumsi air hangat. 

Air dengan suhu yang lebih tinggi efektif menghilangkan gas yang menjadi pemicu masalah refluks lambung. Air hangat juga dapat membantu melancarkan pencernaan sehingga tidak ada penumpukan gas di perut yang kerap menghadirkan rasa tidak nyaman di bagian dada. 

  1. Terapkan Diet Ideal 

Penyebab dada sesak beberapa di antaranya dipicu oleh masalah jantung dan pembuluh darah, mulai dari angina, penyakit jantung koroner, sampai peradangan otot jantung. Untuk meredakan gejala sesak yang ditimbulkan oleh penyakit-penyakit tersebut, cobalah untuk mulau menerapkan diet ideal. 

Kurangi makanan berlemak jenuh sesegera mungkin. Goreng-gorengan serta daging merah dan produk turunannya menjadi salah satu sumber lemak jenuh tersebut. Di samping itu, perbanyak asupan sayuran dan air putih. 

  1. Lekas Minum Obat 

Anda mungkin tidak bisa sesegera mungkin ke dokter untuk berkonsultasi mengenai rasa sesak di dada yang Anda alami. Namun, Anda bisa mengurangi gejalanya terlebih dahulu dengan mengonsumsi obat yang sesuai.

Secara umum, aspirin dapat menjadi obat yang bisa meredakan gejala sesak di dada. Namun jika Anda takut mengonsumsi obat-obatan kimia tanpa resep dokter, cobalah mencari obat tradisional. Bawang putih dan cuka apel disebut-sebut dapat menjadi penawar sesak di dada. 

*** 

Penyebab dada sesak tetap tidak boleh diremehkan. Jadi apabila gejala sesak dada menjadi berkurang dengan penanganan-penanganan di atas, tetap pastikan Anda segera menemui dokter untuk berkonsultasi lebih lanjut mengenai kondisi yang Anda alami.

Alami Mata Merah? Waspada Episkleritis dan Cara Mengatasinya!

Episkleritis adalah suatu kondisi peradangan atau inflamasi akut pada bagian episklera mata. Episklera sendiri merupakan jaringan tipis di antara konjungtiva dan sklera putih yang menampung jaringan pembuluh darah. Jika mata Anda merah, maka kemungkinan Anda dapat mengalami episkleritis. Apa penyebabnya? Bagaimana pula cara mengatasinya? Yuk, simak langsung di sini!

Kenali gejala dan penyebab episkleritis

Gejala episkleritis terkadang membuat mata Anda menjadi kemerahan, baik itu di salah satu ataupun kedua mata. Selain itu, beberapa orang mungkin dapat mengembangkan nodul putih di tengah kemerahan, sehingga disebut juga dengan episkleritis nodular. Gejala lain yang mungkin terjadi saat terserang episkleritis adalah peka terhadap cahaya (fotofobia) dan keluar cairan dari mata.

Dalam banyak kasus episkleritis, dokter mungkin akan sulit menemukan penyebabnya secara jelas. Umumnya, episkleritis yang sudah parah, sering didasari dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti:

  • Penyakit radang usus.
  • Penyakit Crohn.
  • Kolitis ulseratif.
  • Rheumatoid arthritis.
  • Psoriasis arthritis.
  • Polyarteritis nodosa.
  • Sarkoid.
  • Lupus.
  • Ankylosing spondylitis.

Jenis episkleritis

Episkleritis terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Episkleritis sederhana.

Ini adalah jenis episkleritis yang paling umum. Episkleritis sederhana menyebabkan peradangan mata yang berulang. Biasanya, dapat berlangsung 7 – 10 hari, bahkan lebih lama jika ada kondisi sistemik lainnya.

  • Episkleritis nodular.

Episkleritis nodular menyebabkan peradangan mata yang lebih sakit dibandingkan jenis sederhana. Umumnya, seseorang yang mengalami episkleritis nodular memang memiliki penyakit sistemik lainnya yang terkait.

Pengobatan episkleritis

Anda tidak perlu khawatir berlebihan, karena biasanya, episkleritis dapat hilang dengan sendirinya dalam waktu 3 minggu tanpa pengobatan. Jika Anda berobat ke dokter, proses pemulihan mata bisa lebih cepat. Pengobatan episkleritis dapat melibatkan hal-hal berikut:

  • Tetes mata kortikosteroid topikal yang diberikan beberapa kali sehari.
  • Obat tetes mata pelumas untuk meredakan iritasi dan kemerahan, seperi air mata buatan.
  • Kompres dengan kantong es sebanyak 3 – 4 kali sehari.
  • Obat antiinflamasi non-steroid yang diberikan melalui mulut. Obat ini diresepkan jika episkleritis yang Anda alami sudah parah.

Cara merawat mata yang mengalami episkleritis

Sekilas, episkleritis mungkin akan terlihat mengkhawatirkan, tetapi ini adalah kondisi yang sering terjadi dan biasanya, tidak menyebabkan masalah jangka panjang. Episkleritis dapat hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu, tetapi perawatan tertentu dapat membantu mempercepat proses penyembuhannya.

Selama proses penyembuhan mata dari episkleritis, cobalah untuk melindungi mata Anda dari cahaya terang, menggunakan obat tetes mata yang dijual di apotek untuk menenangkan mata, serta kompres dengan kantung es bagian mata yang terkena.

Cara ini dapat Anda lakukan di rumah meskipun tanpa berobat ke dokter. Jika tidak dilakukan perawatan atau dibiarkan saja, mungkin Anda akan merasakan ketidaknyamanan saat melakukan aktivitas sehari-hari.

Tidak jarang, mata merah akibat episkleritis ini mengurangi kepercayaan diri Anda saat bertemu dengan orang banyak di luar rumah. Anda bisa menggunakan kacamata hitam selama menunggu mata Anda pulih.

Mengingat penyebab episkleritis hingga saat ini belum jelas, tidak ada upaya untuk mencegah penyakit ini. Jika Anda memang memiliki riwayat penyakit sistemik lainnya dan mengalami episkleritis, maka penyebabnya mungkin dikaitkan dengan penyakit yang Anda alami tersebut.

Catatan dari SehatQ

Jika episkleritis yang Anda alami masih kategori sederhana, maka lakukanlah upaya perawatan di rumah untuk membantu proses pemulihannya. Namun, jika episkleritis yang Anda alami sangat sakit hingga tidak nyaman melakukan aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya Anda mengunjungi dokter untuk mendapatkan pengobatan lebih dan mempercepat proses penyembuhannya.

Kardiomiopati Hipertrofi, Ketika Otot Jantung Menebal

Kardiomiopati hipertrofi adalah penyakit dimana otot jantung Anda menjadi tebal secara tidak normal (hipertrofi). Otot jantung yang menebal dapat mempersulit jantung Anda untuk memompa darah.

Kardiomiopati hipertrofi sering tidak terdiagnosis karena banyak orang dengan penyakit ini hanya memiliki sedikit gejala, jika ada, dan dapat menjalani hidup normal tanpa masalah yang serius. Namun, pada sejumlah kecil penderita kardiomiopati hipertrofi, otot jantung yang menebal dapat menyebabkan sesak nafas, nyeri dada, atau masalah pada sistem kelistrikan jantung, yang mengakibatkan irama jantung abnormal yang mengancam jiwa (aritmia) atau kematian mendadak.

Tanda dan gejala kardiomiopati hipertrofi dapat mencakup satu atau beberapa hal berikut:

  • Nyeri dada, terutama saat berolahraga
  • Pingsan, terutama selama atau setelah berolahraga atau beraktivitas
  • Murmur jantung, yang mungkin dideteksi oleh dokter saat mendengarkan jantung Anda
  • Sensasi detak jantung yang cepat, berdebar-debar atau berdebar-debar (palpitasi)
  • Sesak nafas, terutama saat berolahraga

Kardiomiopati hipertrofi biasanya disebabkan oleh gen abnormal (mutasi gen) yang menyebabkan otot jantung Anda tumbuh tebal secara tidak normal. Pada kebanyakan orang dengan kardiomiopati hipertrofi, dinding otot (septum) antara dua ruang bawah jantung (ventrikel) menjadi lebih tebal dari biasanya. Akibatnya, dinding yang lebih tebal bisa menghalangi aliran darah keluar dari jantung. Ini disebut kardiomiopati hipertrofi obstruktif.

Jika tidak ada penyumbatan aliran darah yang signifikan, kondisi ini disebut kardiomiopati hipertrofi non obstruktif. Namun, ruang pompa utama jantung (ventrikel kiri) bisa menjadi kaku. Hal ini membuat jantung Anda sulit untuk rileks dan mengurangi jumlah darah yang dapat ditahan dan dikirim oleh ventrikel ke tubuh dengan setiap detak jantung. 

Kardiomiopati hipertrofi biasanya diturunkan melalui keluarga. Jika Anda memiliki orang tua dengan kardiomiopati hipertrofi, Anda memiliki kemungkinan 50% mengalami mutasi genetik untuk penyakit tersebut. Orang tua, anak-anak, atau saudara kandung dari penderita kardiomiopati hipertrofi harus bertanya kepada dokter tentang skrining penyakit tersebut. Kardiomiopati hipertrofi juga bisa didapat akibat tekanan darah tinggi atau penuaan. Namun, dalam kasus lain, penyebab kardiomiopati hipertrofi tidak diketahui.

Tidak ada pencegahan yang diketahui untuk kardiomiopati hipertrofi. Tetapi penting untuk mengidentifikasi kondisinya sedini mungkin untuk mendapatkan pengobatan dan mencegah terjadinya komplikasi.

Sejumlah kondisi dapat menyebabkan sesak nafas dan jantung berdebar-debar. Penting untuk mendapatkan diagnosis yang cepat, akurat, dan perawatan yang tepat. Temui dokter Anda jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan kardiomiopati hipertrofi atau gejala apapun yang terkait dengan kardiomiopati hipertrofi.

Mengenal Antibiotik Aminoglikosida

Dalam mengatasi berbagai penyakit atau infeksi bakteri, biasanya dokter memberikan antibiotik kepada pasien. Dalam praktiknya, bukan tidak mungkin dokter merekomendasikan jenis aminoglikosida apabila ditemukan kasus yang cenderung tak tertangani jika menggunakan antibiotik lini pertama.

Aminoglikosida sendiri adalah golongan antibiotik yang kerap digunakan untuk mengobati infeksi bakteri kategori berat. Biasanya, jenis tersebut diberikan dokter apabila tubuh pasien cenderung bereproduksi dengan cepat atau dapat dikatakan sulit ditangani dengan obat-obat yang sebelumnya dikonsumsi.

Pada beberapa kesempatan, dokter mencantumkan aminoglikosida apabila infeksi disebabkan oleh bakteri gram negatif. Meski demikian, jenis tersebut juga disebut-sebut efektif untuk sekian bakteri gram positif, contohnya seperti staphylococci.

Proses kerja antibiotik tersebut adalah dengan menghambat produksi protein yang dibutuhkan bakteri dalam hal berkembang biak atau bertahan hidup. Selain itu, karena aminoglikosida merupakan antibiotik bakterisidal, maka disebut dapat membunuh bakteri secara langsung.

Di pasaran sendiri, aminoglikosida memiliki ragam jenis produk, seperti Streptomycin, Framycetin, Tobramycin, Kanamycin, Amikacin, Dibekacin, Gentamicin, Neomycin, Paromomycin, Ribostamycin, Sisomicin, Isepamicin dan lain sebagainya.

Meski demikian, biasanya beragam jenis tersebut juga tak bisa digunakan untuk semua jenis infeksi bakteri. Misalnya, Streptomycin yang diperuntukkan untuk pasien pengidap penyakit TBC. Walau begitu, saat ini penggunaan tersebut relatif jarang digunakan lagi dengan alasan toksisitas dan ketidaknyamanan ketika pemberian.

Di sisi lain, pembaca yang membutuhkan antibiotik aminoglikosida juga perlu memperhatikan beberapa hal sebelum menggunakannya. Karena obat ini diresepkan oleh dokter, maka sebelum itu anda harus memberikan informasi medis sedetail-detailnya.

Terkait itu, yang dimaksud adalah apakah anda memiliki alergi terhadap sulfit atau suatu kandungan yang kerap ditemukan dalam buah kering. Lalu, menderita gangguan ginjal, gerakan mata yang tidak terkontrol, masalah pendengaran dan masalah pada keseimbangan.

Berikutnya adalah sudah berusia 65 tahun atau lebih. Lalu, dalam situasi memiliki bayi yang juga mempunyai masalah infeksi berat dan diberikan aminoglikosida oleh dokter. Selanjutnya, kondisi jika anda menderita penyakit yang dapat mempengaruhi saraf dan otot, contohnya multiple sclerosis dan myasthenia gravis.

Di sisi lain, pemberian antibiotik aminoglikosida pada pasien yang mengidap penyakit mitokondria juga tidak dianjurkan karena dapat mengakibatkan pasien mengalami gangguan terjemahan mtDNA.

Kemudian hal yang perlu diperhatikan, disarankan aminoglikosida tidak dikonsumsi bagi perempuan yang sedang hamil. Saran tersebut mengingat terdapat bukti positif antibiotik tersebut berisiko untuk janin manusia. Oleh sebab itu, bagi ibu hamil yang dalam pengobatan infeksi diminta mengkonsumsi jenis ini, sangat dianjurkan untuk berdiskusi dengan dokter terkait keamanannya.

Kondisi-kondisi yang sudah dijabarkan di atas, jika pembaca memilikinya, sebaiknya disampaikan kepada dokter sejujur-jujurnya dan selengkap-lengkapnya sebelum menerima resep aminoglikosida. Hal ini dikarenakan obat tersebut juga berisiko menimbulkan reaksi alergi bagi sebagian orang.

Selanjutnya, sebagai indikasi aminoglikosida pada umumnya merupakan antibiotik yang digunakan untuk terapi infeksi serius pada saluran pencernaan, infeksi saluran kemih, dan infeksi saluran pernapasan.

Dari penjelasan-penjelasan di atas, kita dapat mengetahui secara umum bahwa antibiotik aminoglikosida merupakan obat yang diperuntukkan bagi pasien yang sedang mengalami infeksi berat. Di sisi lain, juga memiliki beragam merek produk dan tentunya diproduksi berdasarkan pengobatan infeksi yang berbeda-beda.

Selanjutnya, sebelum mengkonsumsi aminoglikosida sebagai obat, sangat disarankan pembaca memberikan informasi rekam medis sedetail-detailnya, mengingat antibiotik jenis tersebut juga bisa menimbulkan risiko alergi.

Terakhir, yang perlu diingat dan dicatat adalah kita tidak boleh mengkonsumsi aminoglikosida secara sembarangan, bahkan mengatur dosisnya sendiri. Daripada terjadi yang tidak-tidak, sebelum mengkonsumsi antibiotik itu sebaiknya sesuai dengan anjuran dokter dan memang obat tersebut baru diberikan sebagaimana dengan resep yang dikeluarkan dokter.

Cara Mengatasi Alergi Matahari Ringan hingga Berat

Apakah Anda termasuk orang yang memiliki alergi matahari? Jangan khawatir, ada beberapa cara untuk mengatasi alergi matahari, mulai dari alergi tingkat ringan hingga berat. Jika Anda memiliki alergi matahari yang parah, maka mungkin Anda perlu mendapatkan pengobatan medis sesuai dengan saran dari dokter.

Penyebab seseorang mengalami alergi matahari

Sama seperti alergi debu atau makanan tertentu, alergi matahari juga merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh Anda terhadap cahaya matahari. Gejala yang paling sering muncul adalah ruam, kemerahan, dan gatal-gatal.

Bagian tubuh yang paling sering diserang adalah bagian V pada leher, punggung tangan, permukaan luar lengan, dan kaki. Dalam kasus yang jarang terjadi, reaksi alergi matahari bisa lebih parah dengan gejala gatal-gatal dan lepuh kecil yang menyebar ke bagian kulit lainnya.

Hingga saat ini, munculnya alergi matahari masih belum dapat dipastikan. Harvard Health Publishing menjelaskan bahwa sistem kekebalan tubuh mengenali beberapa komponen kulit yang diubah sinar matahari sebagai ‘benda asing’. Akibatnya, muncul respons perlawanan terhadap ‘benda asing’ tersebut dalam bentuk reaksi alergi matahari.

Munculnya gejala bisa berbeda-beda setiap orang, bergantung pada seberapa sensitifnya kulit seseorang terhadap sinar matahari. Dalam beberapa kasus, gejala alergi matahari ada yang muncul begitu terkena paparan sinar matahari.

Cara mengatasi alergi matahari

Untuk alergi matahari yang masih terbilang ringan, Anda dapat melakukan upaya untuk mencegah dan meminimalisir gejala alergi yang muncul dengan cara:

  1. Mencari tempat berteduh, terutama jika Anda sedang melakukan aktivitas di luar ruangan pada jam 10 pagi hingga 4 sore. Jam-jam tersebut adalah waktu paparan sinar matahari maksimum.
  2. Menggunakan tabir surya di kulit dan bibir, terutama mengandung SPF 30 atau lebih, berspektrum luas (mampu melindungi dari sinar UVA dan UVB), dan tahan air (water proof).
  3. Usahakan area tubuh yang terpapar cahaya matahari tetap lembab untuk mengurangi tingkat keparahan gejala jika muncul.
  4. Menggunakan pakaian dan aksesoris lainnya untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Misalnya kacamata hitam, baju dan celana panjang, serta topi dengan pinggiran lebar.
  5. Teliti dalam memilih produk perawatan kulit dan obat-obatan, terutama antibiotik tertentu yang dapat memicu erupsi fotoalergi.

Jika mengalami alergi matahari yang parah, pengobatan medis mungkin dibutuhkan untuk menanganinya, seperti:

  1. Obat-obatan.

Umumnya, dokter kulit mungkin meresepkan beberapa obat-obatan untuk meringankan gejala pada reaksi alergi matahari yang parah. Obat-obatan yang diberikan mulai dari krim yang mengandung kortikosteroid, antihistamin, pil kortikosteroid (Prednison), beta-karoten, dan obat malaria hydroxychloroquine (Plaquenil). Tentunya, pemberian obat ini berdasarkan tingkat keparahan alergi matahari yang dialami.

  • Terapi.

Biasanya, fototerapi paling sering dilakukan jika alergi matahari sudah sangat parah. Fototerapi menggunakan lampu khusus untuk menyinari area tubuh yang sering terpapar oleh cahaya matahari. Dalam banyak kasus, fototerapi dilakukan sebanyak lima kali paparan setiap minggu selama tiga minggu.

Tanda alergi matahari sudah parah

Berikut tanda-tanda alergi matahari sudah parah, meliputi:

  • Ruam dan gatal tidak kunjung mereda bahkan setelah menggunakan produk perawatan yang dijual bebas, seperti krim kortikosteroid.
  • Ruam dan gatal menyebar dan menyerang bagian tubuh lainnya, termasuk bagian yang tertutup pakaian.
  • Terjadi perdarahan abnormal di bawah kulit yang terpapar cahaya matahari.
  • Gatal-gatal yang disertai pembengkakan di sekitar mata atau bibir, pingsan, atau kesulitan bernapas atau menelan.

Jarang sekali kasus alergi dapat sembuh total, termasuk alergi matahari. Oleh sebab itu, jika Anda memiliki alergi ini, maka lakukanlah tindakan perlindungan dari sinar matahari untuk mencegah atau mengurangi gejala yang muncul. Gejala alergi matahari yang sudah parah harus segera dibawa ke rumah sakit untuk ditangani secara medis dengan dokter spesialis.

Kenali Gejala Leukemia Pada Anak

Leukemia adalah kanker paling umum pada anak-anak dan remaja. Banyak gejala leukemia pada anak-anak dapat memiliki penyebab lain juga, dan paling sering gejala ini tidak disebabkan oleh leukemia.

Secara keseluruhan, leukemia pada anak-anak adalah penyakit yang jarang. Sekitar 3 dari 4 leukemia pada anak-anak dan remaja adalah leukemia limfositik akut dan sebagian besar kasus yang tersisa adalah leukemia myeloid akut.

Leukemia dimulai di sumsum tulang, di mana sel-sel darah baru dibuat. Gejala leukemia sering disebabkan oleh masalah di sumsum tulang. Saat sel-sel leukemia menumpuk di sumsum, mereka dapat memusnahkan sel-sel darah normal. Akibatnya, seorang anak mungkin tidak memiliki cukup sel darah merah normal, sel darah putih, dan trombosit darah.  

Kekurangan ini muncul pada tes darah, tetapi mereka juga dapat menyebabkan gejala.  Sel-sel leukemia mungkin juga menyerang area lain dari tubuh, yang juga dapat menyebabkan gejala.

Banyak gejala leukemia pada anak-anak juga merupakan gejala umum, penyakit anak yang kurang serius. Leukemia bisa bersifat kronis, dan gejalanya mungkin berkembang perlahan, atau bisa akut, dan gejalanya bisa muncul dengan sangat cepat.

Jika anak Anda memiliki gejala berikut, dan orang tua atau pengasuh mencurigai leukemia, penting untuk menghubungi dokter.

  1. Anemia
  2. Infeksi yang sering
  3. Mudah memar dan berdarah
  4. Nyeri tulang atau sendi
  5. Pembengkakan
  6. Kurang nafsu makan, sakit perut, dan penurunan berat badan
  7. Batuk atau kesulitan bernafas
  8. Sakit kepala, muntah, dan kejang
  9. Ruam kulit
  10. Kelelahan ekstrim
  11. Selalu merasa kurang sehat

Tanda-tanda awal leukemia bisa sulit dikenali. Gejala juga dapat bervariasi dari anak ke anak, tidak semua anak-anak dengan leukemia menunjukkan gejala-gejala yang tercantum di atas.

Gejala awal juga tergantung pada apakah seorang anak menderita leukemia akut atau kronis. Jika Anda mengetahui gejala-gejala di atas, yang terbaik adalah membawa anak ke dokter sesegera mungkin. Diagnosis yang cepat dapat memastikan bahwa anak menerima perawatan yang tepat dengan cepat.

Namun, banyak dari gejala-gejala ini umum dan dapat menunjukkan berbagai penyakit.  Dokter akan melakukan berbagai tes dan penilaian sebelum membuat diagnosis leukemia. 

Skleritis

Skleritis adalah peradangan pada bagian putih bola mata (sklera)

Skleritis merupakan gangguan berupa peradangan pada bagian putih bola mata (sklera). Sklera merupakan jaringan yang melindungi mata. Skleritis terdiri dari dua tipe, antara lain bagian depan sklera (anterior) dan bagian belakang sklera (posterior).

Gejala

Seseorang yang mengalami skleritis bisa mengalami gejala sebagai berikut:

  • Rasa nyeri di bagian mata.
  • Mata menjadi sensitif terhadap cahaya.
  • Mata mengalami kemerahan.
  • Pandangan kabur.
  • Air mata keluar tanpa sebab.
  • Terdapat tonjolan kecil pada bagian putih bola mata.

Penyebab

Skleritis disebabkan oleh gangguan autoimun. Gangguan autoimun bisa terjadi ketika sistem pertahanan tubuh menyerang jaringan sendiri. Tidak hanya itu, seseorang yang mengalami skleritis juga kemungkinan disebabkan oleh adanya infeksi pada mata, cedera mata, atau parasit.

Faktor Risiko

Skleritis bisa mengarah pada semua kalangan. Namun, wanita lebih berpotensi mengalami gangguan mata seperti ini. Tidak hanya itu, berikut adalah beberapa kriteria yang dapat membuat seseorang memiliki risiko yang lebih besar terhadap skleritis:

  • Penyakit Wegener

Penyakit Wegener merupakan gangguan yang melibatkan peradangan pada pembuluh darah.

  • Penyakit radang usus

Penyakit radang usus juga bisa berpotensi membuat seseorang mengalami skleritis.

  • Lupus

Lupus merupakan gangguan pada kekebalan dimana masalah tersebut menimbulkan peradangan kulit sehingga bisa mempengaruhi kondisi mata.

  • Jaringan mata

Jaringan mata seseorang bisa mengalami gangguan seperti skleritis karena pernah mengalami kecelakaan.

  • Infeksi mata

Infeksi mata juga bisa menjadi salah satu faktor yang dapat membuat seseorang mengalami risiko yang lebih besar terhadap skleritis. Infeksi mata mungkin ada kaitannya dengan penyakit autoimun.

  • Sindrom Sjogren

Sindrom Sjogren merupakan salah satu gangguan yang bisa terjadi pada mata akibat kelainan kekebalan tubuh.

Diagnosis

Jika Anda mengalami skleritis, Anda perlu periksa diri ke dokter. Dokter dapat membantu Anda dengan menanyakan kondisi Anda terlebih dahulu seperti gejala yang Anda alami. Setelah itu, dokter dapat melakukan diagnosis yang meliputi:

  • Ultrasonografi (USG)

USG dapat dilakukan untuk mengetahui jika ada perubahan di bagian sklera.

  • Tes darah

Tes darah dapat dilakukan untuk mengetahui jika ada gangguan pada sistem imun di dalam tubuh.

  • Biopsi

Biopsi pada sklera juga dapat dilakukan dengan melepaskan jaringan sklera supaya dapat diperiksa melalui mikroskop.

Pengobatan

Jika ingin mengobati skleritis, berikut adalah beberapa obat yang dapat digunakan:

  • Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID).
  • Pil kortikosteroid.
  • Glukokortikoid oral.
  • Obat imunosupresif.
  • Obat antijamur.
  • Obat antibiotik.

Pencegahan

Selain pengobatan di atas, berikut adalah beberapa cara yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah skleritis:

  • Hindari kebiasaan menggaruk di bagian mata.
  • Hindari penggunaan lensa untuk sementara waktu.
  • Hindari penggunaan riasan di bagian mata secara berlebihan.
  • Kenakan kacamata hitam agar mata tidak terkontaminasi.

Berkonsultasi Dengan Dokter

Jika Anda mengalami gangguan pada mata seperti skleritis, Anda dapat konsultasikan masalah tersebut ke dokter. Sebelum Anda berkonsultasi, Anda dapat mempersiapkan diri dengan melakukan beberapa hal di bawah ini:

  • Mencatat gejala yang Anda alami.
  • Mencatat penyakit yang Anda alami.
  • Mencatat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan ke dokter.

Selama Anda berkonsultasi dengan dokter, dokter juga akan menanyakan kepada Anda seperti:

  • Kapan gejala skleritis terjadi?
  • Apakah gejala tersebut membaik atau memburuk?

Kesimpulan

Skleritis merupakan salah satu gangguan yang bisa terjadi pada mata yang perlu diwaspadai. Berbagai gejala bisa timbul seperti pandangan kabur. Oleh karena itu, jika Anda ingin mengatasi gangguan seperti ini, Anda sebaiknya lakukan hal-hal yang dianjurkan di atas. Jika Anda ingin bertanya mengenai skleritis, Anda bisa tanyakan persoalan ini ke dokter.

Penyakit yang Sebabkan Gejala Sakit Perut Bagian Atas

Sakit perut bagian atas dapat menjadi gejala adanya penyakit tertentu.

Perut bagian atas memiliki sejumlah organ yang penting untuk tubuhmu. Beberapa organ tersebut di antaranya ialah perut, limpa, pankreas, ginjal, kelenjar adrenal, sebagian dari usus besar, hati, kantung empedu, dan bagian dari usus kecil yang biasa disebut dengan duodenum. Maka dari itu, ada beberapa kondisi mendasar yang dapat menyebabkan sakit perut bagian atas.

Berikut ini beberapa kondisi yang biasanya mengiringi rasa sakit perut bagian atas yang perlu diketahui:

  • Nyeri atau tekanan hebat
  • Demam
  • Mual atau muntah yang tidak akan hilang
  • Penurunan berat badan tak terduga
  • Kulit yang menguning
  • perut berkeringat
  • Perut terasa sangat lembut ketika disentuh
  • Tinja berdarah

Berdasar sejumlah organ tersebut, ada beberapa penyakit yang bisa menyebabkan sakit perut bagian atas, yaitu:

  • Batu Empedu

Batu empedu adalah timbunan padat cairan empedu dan cairan pencernaan lainnya yang terbentuk di kantong empedu kamu. Biasanya, batu empedu menjadi penyebab umum timbulnya rasa sakit yang di sisi kanan perut bagian atas.

Jika kamu mengalami gangguan di batu empedu, sensasi sakit tidak hanya di perut bagian atas saja, tetapi juga di bahu kanan, mengalami mual atau muntah, sakit punggung di antara tulang belikat, rasa sakit yang tiba-tiba, serta intens di tengah perut dan di bawah tulang dada.

  • Hepatitis

Hepatitis adalah infeksi hati yang dapat menyebabkan rasa sakit di sisi kanan perut bagian atas. Gejala umum yang biasanya dialami pengidap hepatitis adalah kelemahan dan kelelahan, mual dan muntah, demam, nafsu makan yang buruk, urine berwarna gelap, nyeri sendi, penyakit kuning, gatal pada kulit, serta kehilangan nafsu makan.

  • Abses hati

Abses hati disebabkan oleh sejumlah bakteri umum yang menyebabkan kumpulan nanah di hati. Abses hati juga bisa menyebabkan infeksi darah, kerusakan hati, ataupun infeksi perut, seperti usus buntu atau usus berlubang.

Gejala lain dari abses hati selain nyeri di perut bagian atas adalah rasa sakit di bagian kanan bawah dada, urine berwarna gelap, kehilangan nafsu makan, mual, muntah, penurunan berat badan mendadak, penyakit kuning demam, menggigil, serta berkeringat di malam hari.

  • GERD

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah acid reflux yang dapat mengiritasi lapisan esofagus kamu. GERD dapat menyebabkan nyeri ulu hati, yang mungkin kamu rasakan dari perut ke dada. Kondisi ini dapat mengakibatkan kamu merasakan sakit di perut bagian atas.

Gejala lain GERD dapat termasuk sakit dada, gangguan saat menelan makanan, arus balik makanan atau cairan asam, perasaan memiliki benjolan di tenggorokan kamu, batuk kronis, serta masalah tidur dan radang tenggorokan.

  • Hiatal Hernia

Hernia hernia terjadi ketika bagian perut kamu menonjol ke atas melalui otot besar yang memisahkan diafragma dan perut. Kamu mungkin akan merasakan sakit di sisi kiri perut bagian atas, karena di situlah sebagian besar perut berada.

Ada beberapa gejala lain yang mengiringi penyakit ini, seperti mulas, acid reflux, masalah saat menelan, sesak napas, arus balik makanan atau cairan ke mulut, bahkan sampai memuntahkan darah.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai penyebab sakit perut bagian atas dan penyakit apa yang mengiringinya, bisa tanyakan langsung ke dokter-dokter yang ahli. Nantinya dokter tersebut akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu.

Demikian penjelasan mengenai sakit perut bagian atas yang perlu dipahami. Semoga menambah wawasan dan pengetahuanmu.

Neuroblastoma

Neuroblastoma merupakan kanker yang berawal dari sel-sel saraf yang belum matang (neuroblast). Kondisi seperti ini dapat terjadi di beberapa bagian tubuh manusia, namun lebih sering muncul di bagian kelenjar adrenal pada bagian atas ginjal atau jaringan saraf tulang belakang yang meliputi leher, dada, perut, dan panggul.

Kanker ini juga dapat menyebar ke organ lain seperti sumsum tulang belakang, kelenjar getah bening, tulang, hati, bahkan kulit. Neuroblastoma lebih berpotensi terjadi pada anak-anak yang berusia 5 tahun ke bawah.

Gejala

Gejala neuroblastoma bergantung pada bagian yang terjangkit dan seberapa jauh kanker tersebut menyebar di tubuh manusia. Jika neuroblastoma terjadi di bagian perut, berikut adalah gejala yang dialami penderita:

  • Pembengkakan di bagian perut dan terasa sakit.
  • Mengalami benjolan di bagian bawah kulit, namun tidak menimbulkan rasa sakit bila disentuh.
  • Mengalami perubahan dalam kebiasaan buang air besar.

Jika neuroblastoma terjadi di bagian dada, maka gejala yang akan dialami penderita adalah sebagai berikut:

  • Nafas berbunyi.
  • Rasa sakit di bagian dada.
  • Perubahan di bagian mata seperti ukuran pupil yang berbeda pada kedua mata.

Seseorang juga bisa mengalami gejala lain yang meliputi:

  • Bola mata yang lebih menonjol dari biasa.
  • Lingkaran hitam seperti memar di sekitar mata.
  • Rasa sakit di bagian punggung.
  • Demam.
  • Berat badan mengalami penurunan.
  • Sakit pada bagian tulang.

Penyebab

Pada awalnya, kanker terjadi karena sel-sel sehat bermutasi sehingga memicu pertumbuhan secara berlebihan. Sel-sel tersebut kemudian berubah menjadi sel kanker yang terus bertumbuh dan berkembang secara tidak terkendali sehingga dapat membentuk tumor.

Neuroblastoma berasal dari kata ‘neuroblast’ yang merupakan sel-sel saraf yang belum matang dimana sel-sel tersebut terbentuk ketika janin berkembang di dalam rahim. Pada saat bayi lahir, neuroblast akan berubah menjadi sel dan serat saraf, serta sel kelenjar adrenal. Neuroblast yang tersisa biasanya akan matang dan menghilang. Jika tidak, maka akan berpotensi menjadi tumor.

Sama seperti jenis kanker lain, penyebab mutasi genetik pada kanker tersebut belum jelas. Namun, anak-anak dengan riwayat keluarga neuroblastoma lebih berpotensi mengalami risiko terhadap penyakit tersebut.

Diagnosis

Jika anak Anda mengalami neuroblastoma, Anda sebaiknya bawa anak Anda ke dokter anak. Dokter anak dapat melakukan pemeriksaan fisik yang meliputi:

  • Tes fisik

Tes fisik dilakukan untuk mengetahui gejala yang dialami anak.

  • Tes urine

Neuroblastoma menghasilkan katekolamin sehingga kadar katekolamin di dalam tubuh menjadi lebih tinggi sehingga perlu diperiksa melalui tes urine.

  • Tes pencitraan

Tes pencitraan dilakukan untuk melihat massa tumor di dalam tubuh. Tes pencitraan meliputi X-ray, ultrasonografi (USG), CT scan, atau MRI.

  • Pengambilan sampel jaringan

Pengambilan sampel jaringan atau biopsi dapat dilakukan jika terdapat massa di dalam tubuh. Cara ini dapat menginformasikan jenis sel yang ada di dalam tumor dan karakteristik genetik sel kanker secara spesifik.

  • Aspirasi dan biopsi sumsum tulang

Cara ini dilakukan untuk mengetahui jika neuroblastoma sudah menyebar hingga ke sumsum tulang belakang.

Pengobatan

Pengobatan neuroblastoma dapat dilakukan dengan cara berikut:

  • Kemoterapi

Kemoterapi dapat dilakukan untuk membunuh sel-sel kanker di dalam tubuh. Kemoterapi bisa berupa suntikan atau obat berbentuk pil.

  • Imunoterapi

Imunoterapi dapat dilakukan dengan menggunakan obat yang mendorong sistem imun dalam tubuh untuk membantu membunuh sel-sel kanker di dalam tubuh.

  • Terapi radiasi

Terapi radiasi dapat dilakukan untuk membunuh sel-sel kanker, dengan menggunakan sinar bertenaga tinggi (sinar-X).

  • Operasi

Operasi dapat dilakukan dengan mengangkat sebagian atau seluruh bagian yang terjangkit tumor atau kanker.