Skleritis

Skleritis adalah peradangan pada bagian putih bola mata (sklera)

Skleritis merupakan gangguan berupa peradangan pada bagian putih bola mata (sklera). Sklera merupakan jaringan yang melindungi mata. Skleritis terdiri dari dua tipe, antara lain bagian depan sklera (anterior) dan bagian belakang sklera (posterior).

Gejala

Seseorang yang mengalami skleritis bisa mengalami gejala sebagai berikut:

  • Rasa nyeri di bagian mata.
  • Mata menjadi sensitif terhadap cahaya.
  • Mata mengalami kemerahan.
  • Pandangan kabur.
  • Air mata keluar tanpa sebab.
  • Terdapat tonjolan kecil pada bagian putih bola mata.

Penyebab

Skleritis disebabkan oleh gangguan autoimun. Gangguan autoimun bisa terjadi ketika sistem pertahanan tubuh menyerang jaringan sendiri. Tidak hanya itu, seseorang yang mengalami skleritis juga kemungkinan disebabkan oleh adanya infeksi pada mata, cedera mata, atau parasit.

Faktor Risiko

Skleritis bisa mengarah pada semua kalangan. Namun, wanita lebih berpotensi mengalami gangguan mata seperti ini. Tidak hanya itu, berikut adalah beberapa kriteria yang dapat membuat seseorang memiliki risiko yang lebih besar terhadap skleritis:

  • Penyakit Wegener

Penyakit Wegener merupakan gangguan yang melibatkan peradangan pada pembuluh darah.

  • Penyakit radang usus

Penyakit radang usus juga bisa berpotensi membuat seseorang mengalami skleritis.

  • Lupus

Lupus merupakan gangguan pada kekebalan dimana masalah tersebut menimbulkan peradangan kulit sehingga bisa mempengaruhi kondisi mata.

  • Jaringan mata

Jaringan mata seseorang bisa mengalami gangguan seperti skleritis karena pernah mengalami kecelakaan.

  • Infeksi mata

Infeksi mata juga bisa menjadi salah satu faktor yang dapat membuat seseorang mengalami risiko yang lebih besar terhadap skleritis. Infeksi mata mungkin ada kaitannya dengan penyakit autoimun.

  • Sindrom Sjogren

Sindrom Sjogren merupakan salah satu gangguan yang bisa terjadi pada mata akibat kelainan kekebalan tubuh.

Diagnosis

Jika Anda mengalami skleritis, Anda perlu periksa diri ke dokter. Dokter dapat membantu Anda dengan menanyakan kondisi Anda terlebih dahulu seperti gejala yang Anda alami. Setelah itu, dokter dapat melakukan diagnosis yang meliputi:

  • Ultrasonografi (USG)

USG dapat dilakukan untuk mengetahui jika ada perubahan di bagian sklera.

  • Tes darah

Tes darah dapat dilakukan untuk mengetahui jika ada gangguan pada sistem imun di dalam tubuh.

  • Biopsi

Biopsi pada sklera juga dapat dilakukan dengan melepaskan jaringan sklera supaya dapat diperiksa melalui mikroskop.

Pengobatan

Jika ingin mengobati skleritis, berikut adalah beberapa obat yang dapat digunakan:

  • Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID).
  • Pil kortikosteroid.
  • Glukokortikoid oral.
  • Obat imunosupresif.
  • Obat antijamur.
  • Obat antibiotik.

Pencegahan

Selain pengobatan di atas, berikut adalah beberapa cara yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah skleritis:

  • Hindari kebiasaan menggaruk di bagian mata.
  • Hindari penggunaan lensa untuk sementara waktu.
  • Hindari penggunaan riasan di bagian mata secara berlebihan.
  • Kenakan kacamata hitam agar mata tidak terkontaminasi.

Berkonsultasi Dengan Dokter

Jika Anda mengalami gangguan pada mata seperti skleritis, Anda dapat konsultasikan masalah tersebut ke dokter. Sebelum Anda berkonsultasi, Anda dapat mempersiapkan diri dengan melakukan beberapa hal di bawah ini:

  • Mencatat gejala yang Anda alami.
  • Mencatat penyakit yang Anda alami.
  • Mencatat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan ke dokter.

Selama Anda berkonsultasi dengan dokter, dokter juga akan menanyakan kepada Anda seperti:

  • Kapan gejala skleritis terjadi?
  • Apakah gejala tersebut membaik atau memburuk?

Kesimpulan

Skleritis merupakan salah satu gangguan yang bisa terjadi pada mata yang perlu diwaspadai. Berbagai gejala bisa timbul seperti pandangan kabur. Oleh karena itu, jika Anda ingin mengatasi gangguan seperti ini, Anda sebaiknya lakukan hal-hal yang dianjurkan di atas. Jika Anda ingin bertanya mengenai skleritis, Anda bisa tanyakan persoalan ini ke dokter.

Penyakit yang Sebabkan Gejala Sakit Perut Bagian Atas

Sakit perut bagian atas dapat menjadi gejala adanya penyakit tertentu.

Perut bagian atas memiliki sejumlah organ yang penting untuk tubuhmu. Beberapa organ tersebut di antaranya ialah perut, limpa, pankreas, ginjal, kelenjar adrenal, sebagian dari usus besar, hati, kantung empedu, dan bagian dari usus kecil yang biasa disebut dengan duodenum. Maka dari itu, ada beberapa kondisi mendasar yang dapat menyebabkan sakit perut bagian atas.

Berikut ini beberapa kondisi yang biasanya mengiringi rasa sakit perut bagian atas yang perlu diketahui:

  • Nyeri atau tekanan hebat
  • Demam
  • Mual atau muntah yang tidak akan hilang
  • Penurunan berat badan tak terduga
  • Kulit yang menguning
  • perut berkeringat
  • Perut terasa sangat lembut ketika disentuh
  • Tinja berdarah

Berdasar sejumlah organ tersebut, ada beberapa penyakit yang bisa menyebabkan sakit perut bagian atas, yaitu:

  • Batu Empedu

Batu empedu adalah timbunan padat cairan empedu dan cairan pencernaan lainnya yang terbentuk di kantong empedu kamu. Biasanya, batu empedu menjadi penyebab umum timbulnya rasa sakit yang di sisi kanan perut bagian atas.

Jika kamu mengalami gangguan di batu empedu, sensasi sakit tidak hanya di perut bagian atas saja, tetapi juga di bahu kanan, mengalami mual atau muntah, sakit punggung di antara tulang belikat, rasa sakit yang tiba-tiba, serta intens di tengah perut dan di bawah tulang dada.

  • Hepatitis

Hepatitis adalah infeksi hati yang dapat menyebabkan rasa sakit di sisi kanan perut bagian atas. Gejala umum yang biasanya dialami pengidap hepatitis adalah kelemahan dan kelelahan, mual dan muntah, demam, nafsu makan yang buruk, urine berwarna gelap, nyeri sendi, penyakit kuning, gatal pada kulit, serta kehilangan nafsu makan.

  • Abses hati

Abses hati disebabkan oleh sejumlah bakteri umum yang menyebabkan kumpulan nanah di hati. Abses hati juga bisa menyebabkan infeksi darah, kerusakan hati, ataupun infeksi perut, seperti usus buntu atau usus berlubang.

Gejala lain dari abses hati selain nyeri di perut bagian atas adalah rasa sakit di bagian kanan bawah dada, urine berwarna gelap, kehilangan nafsu makan, mual, muntah, penurunan berat badan mendadak, penyakit kuning demam, menggigil, serta berkeringat di malam hari.

  • GERD

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah acid reflux yang dapat mengiritasi lapisan esofagus kamu. GERD dapat menyebabkan nyeri ulu hati, yang mungkin kamu rasakan dari perut ke dada. Kondisi ini dapat mengakibatkan kamu merasakan sakit di perut bagian atas.

Gejala lain GERD dapat termasuk sakit dada, gangguan saat menelan makanan, arus balik makanan atau cairan asam, perasaan memiliki benjolan di tenggorokan kamu, batuk kronis, serta masalah tidur dan radang tenggorokan.

  • Hiatal Hernia

Hernia hernia terjadi ketika bagian perut kamu menonjol ke atas melalui otot besar yang memisahkan diafragma dan perut. Kamu mungkin akan merasakan sakit di sisi kiri perut bagian atas, karena di situlah sebagian besar perut berada.

Ada beberapa gejala lain yang mengiringi penyakit ini, seperti mulas, acid reflux, masalah saat menelan, sesak napas, arus balik makanan atau cairan ke mulut, bahkan sampai memuntahkan darah.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai penyebab sakit perut bagian atas dan penyakit apa yang mengiringinya, bisa tanyakan langsung ke dokter-dokter yang ahli. Nantinya dokter tersebut akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu.

Demikian penjelasan mengenai sakit perut bagian atas yang perlu dipahami. Semoga menambah wawasan dan pengetahuanmu.

Neuroblastoma

Neuroblastoma merupakan kanker yang berawal dari sel-sel saraf yang belum matang (neuroblast). Kondisi seperti ini dapat terjadi di beberapa bagian tubuh manusia, namun lebih sering muncul di bagian kelenjar adrenal pada bagian atas ginjal atau jaringan saraf tulang belakang yang meliputi leher, dada, perut, dan panggul.

Kanker ini juga dapat menyebar ke organ lain seperti sumsum tulang belakang, kelenjar getah bening, tulang, hati, bahkan kulit. Neuroblastoma lebih berpotensi terjadi pada anak-anak yang berusia 5 tahun ke bawah.

Gejala

Gejala neuroblastoma bergantung pada bagian yang terjangkit dan seberapa jauh kanker tersebut menyebar di tubuh manusia. Jika neuroblastoma terjadi di bagian perut, berikut adalah gejala yang dialami penderita:

  • Pembengkakan di bagian perut dan terasa sakit.
  • Mengalami benjolan di bagian bawah kulit, namun tidak menimbulkan rasa sakit bila disentuh.
  • Mengalami perubahan dalam kebiasaan buang air besar.

Jika neuroblastoma terjadi di bagian dada, maka gejala yang akan dialami penderita adalah sebagai berikut:

  • Nafas berbunyi.
  • Rasa sakit di bagian dada.
  • Perubahan di bagian mata seperti ukuran pupil yang berbeda pada kedua mata.

Seseorang juga bisa mengalami gejala lain yang meliputi:

  • Bola mata yang lebih menonjol dari biasa.
  • Lingkaran hitam seperti memar di sekitar mata.
  • Rasa sakit di bagian punggung.
  • Demam.
  • Berat badan mengalami penurunan.
  • Sakit pada bagian tulang.

Penyebab

Pada awalnya, kanker terjadi karena sel-sel sehat bermutasi sehingga memicu pertumbuhan secara berlebihan. Sel-sel tersebut kemudian berubah menjadi sel kanker yang terus bertumbuh dan berkembang secara tidak terkendali sehingga dapat membentuk tumor.

Neuroblastoma berasal dari kata ‘neuroblast’ yang merupakan sel-sel saraf yang belum matang dimana sel-sel tersebut terbentuk ketika janin berkembang di dalam rahim. Pada saat bayi lahir, neuroblast akan berubah menjadi sel dan serat saraf, serta sel kelenjar adrenal. Neuroblast yang tersisa biasanya akan matang dan menghilang. Jika tidak, maka akan berpotensi menjadi tumor.

Sama seperti jenis kanker lain, penyebab mutasi genetik pada kanker tersebut belum jelas. Namun, anak-anak dengan riwayat keluarga neuroblastoma lebih berpotensi mengalami risiko terhadap penyakit tersebut.

Diagnosis

Jika anak Anda mengalami neuroblastoma, Anda sebaiknya bawa anak Anda ke dokter anak. Dokter anak dapat melakukan pemeriksaan fisik yang meliputi:

  • Tes fisik

Tes fisik dilakukan untuk mengetahui gejala yang dialami anak.

  • Tes urine

Neuroblastoma menghasilkan katekolamin sehingga kadar katekolamin di dalam tubuh menjadi lebih tinggi sehingga perlu diperiksa melalui tes urine.

  • Tes pencitraan

Tes pencitraan dilakukan untuk melihat massa tumor di dalam tubuh. Tes pencitraan meliputi X-ray, ultrasonografi (USG), CT scan, atau MRI.

  • Pengambilan sampel jaringan

Pengambilan sampel jaringan atau biopsi dapat dilakukan jika terdapat massa di dalam tubuh. Cara ini dapat menginformasikan jenis sel yang ada di dalam tumor dan karakteristik genetik sel kanker secara spesifik.

  • Aspirasi dan biopsi sumsum tulang

Cara ini dilakukan untuk mengetahui jika neuroblastoma sudah menyebar hingga ke sumsum tulang belakang.

Pengobatan

Pengobatan neuroblastoma dapat dilakukan dengan cara berikut:

  • Kemoterapi

Kemoterapi dapat dilakukan untuk membunuh sel-sel kanker di dalam tubuh. Kemoterapi bisa berupa suntikan atau obat berbentuk pil.

  • Imunoterapi

Imunoterapi dapat dilakukan dengan menggunakan obat yang mendorong sistem imun dalam tubuh untuk membantu membunuh sel-sel kanker di dalam tubuh.

  • Terapi radiasi

Terapi radiasi dapat dilakukan untuk membunuh sel-sel kanker, dengan menggunakan sinar bertenaga tinggi (sinar-X).

  • Operasi

Operasi dapat dilakukan dengan mengangkat sebagian atau seluruh bagian yang terjangkit tumor atau kanker.

Waspada Perdarahan Post Partum yang Jadi Sebab Tingginya Angka Kematian Ibu Melahirkan

Perdarahan post partum perdarahan setelah melahirkan tidaklah selalu terjadi sesaat ketika bayi telah dilahirkan. Perdarahan post partum adalah kondisi perdarahan yang terjadi dalam kurun waktu 24 jam setelah melahirkan. Namun, perdarahan masih mungkin terjadi bahkan hingga 12 minggu pasca persalinan. Kondisi ini disebut dengan perdarahan post partum sekunder.

Selama masa nifas, seorang ibu akan terus mengalami perdarahan. Namun, perdarahan yang terjadi dalam masa nifas tidak begitu berat dan jumlah darah yang keluar semakin hari akan semakin sedikit. Namun, jika selama masa tersebut darah yang keluar dalam jumlah yang cukup banyak, hal tersebut dapat menjadi gejala dari perdarahan post partum sekunder.

Idealnya, dua minggu pasca persalinan, perdarahan nifas akan berkurang banyak dan ibu perlahan akan kembali pulih. Namun, jika perdarahan tidak juga berhenti maupun tiba-tiba muncul perdarahan setelah sebelumnya mulai mereda, segera konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter. Lebih jelasnya tentang gejala perdarahan post partum sekunder, dapat disimak di bawah ini:

  • Perdarahan terjadi dalam jumlah yang banyak atau tidak mengalami pengurangan jumlah

Dalam masa nifas, perdarahan yang dialami ibu berlangsung dalam empat hingga enam minggu, walaupun memang dalam beberapa kasus ada yang mencapai minggu ke delapan. Beberapa hari setelah persalinan, darah yang keluar umumnya dalam jumlah yang banyak dan cenderung berwarna merah terang, sehingga terkadang ibu perlu mengenakan pembalut khusus ibu melahirkan.

Namun, dalam beberapa hari setelah kondisi tersebut, darah yang keluar akan berangsur berkurang jumlah, seperti darah ketika menstruasi. Ketika kondisi terjadi, ibu dapat mengenakan pembalut untuk menstruasi. Namun, jika pembalut tersebut sudah penuh dengan darah dalam waktu satu jam, hal tersebut dapat menjadi gejala adanya perdarahan post partum.

  • Lemas dan seperti ingin pingsan

Keluarnya darah dalam jumlah banyak akan berdampak pada kondisi tubuh. Ibu akan merasa lemas dan kepala terasa ringan, seperti ingin pingsan. Jika kondisi ini terus terjadi dan diikuti dengan gejala meningkatnya denyut jantung dan menurunnya tekanan darah, segera rujuk ke rumah sakit.

  • Terdapat gumpalan darah

Gumpalan darah dalam ukuran kecil umumnya akan keluar beberapa hari pasca persalinan. Dalam kondisi normal, gumpalan tersebut seharusnya tidak keluar lagi setelah beberapa hari.

Jika terdapat gumpalan darah dalam ukuran besar dan diikuti dengan keluarnya gumpalan kecil, dan kram perut, segera rujuk ke rumah sakit. Kondisi tersebut dapat menjadi pertanda adanya sisa plasenta yang tertinggal dalam rahim.

Mewaspadai gejala post partum sangatlah penting. Pasalnya, kondisi ini menjadi penyebab tingginya angka kematian ibu melahirkan di Indonesia.

Waspadai Penyebab Kolera yang Rawan Menyerang Masyarakat di Indonesia

Setidaknya terdapat 2,6 juta kasus kolera dengan 40 ribu lebih korban jiwa yang dilaporkan oleh WHO dalam kurun satu dasawarsa, dari 2006 hingga 2016. Bakteri Vibrio cholerae adalah penyebab utama dari penyakit kolera. Bakteri tersebut menginfeksi tubuh manusia melalui perantara makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Sesaat setelah bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh manusia, ia akan menginfeksi saluran pencernaan yang kemudian akan menyebabkan diare. Dalam kasus tertentu, diare berat yang tidak diatasi dapat menyebabkan dehidrasi berat dan kemungkinan meninggal dunia.

Bakteri yang menjadi penyebab kolera cenderung menyukai sanitasi yang buruk. Tidak adanya sarana yang menyediakan air bersih maupun fasilitas kebersihan lain, seperti fasilitas mandi cuci kakus yang memadai, yang juga dipicu oleh perilaku pribadi yang tidak menjaga kebersihan, mampu meningkatkan risiko penyakit kolera.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI, penyakit kolera terbilang cukup ditemukan di Indonesia. Namun, hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan bahwa Indonesia terbebas dari penyakit kolera. Faktanya, tingkat indikator perilaku hidup bersih di Indonesia hanya menyentuh angka 32,2%. Angka tersebut menunjukkan masih tingginya peluang bakteri penyebab kolera hadir di tengah kehidupan masyarakat.

Telah disebutkan bahwa terdapat kaitan yang erat tentang minimnya ketersediaan sarana sanitasi dan air bersih bagi masyarakat dengan tingkatan risiko risiko penyakit kolera, terlebih jika terjadi perang maupun bencana alam yang melanda Indonesia. Dapat diasumsikan bahwa, pada kondisi tertentu tersebut, sarana sanitasi dan sumber air bersih akan mengalami kerusakan, sehingga banyak pengungsi yang akan berkumpul di suatu tempat yang tidak ada akses air bersih sama sekali.

Risiko ini tentu dapat dikurangi dengan menerapkan pola hidup yang bersih. Hal sederhana seperti membiasakan diri mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, baik sebelum maupun setelah makan, begitu juga ketika setelah menggunakan toilet.

Mengolah bahan makanan yang akan dikonsumsi secara tepat juga dapat mengurangi risiko masuknya bakteri penyebab kolera ke dalam tubuh. Hal ini dapat dilakukan dengan memastikan bahwa bahan tersebut telah dicuci bersih dan dimasak dengan matang.

Apa itu Penyakit Limfoma dan Bagaimana Penangannya?

Apakah Anda pernah mendengar penyakit limfoma? Limfoma adalah suatu kondisi keganasan yang menyerang sel darah putih, limfosit, yang mulanya pada bagian kelenjar atau jaringan getah bening.

Limfoma memiliki beberapa jenis, salah satunya limfoma Hodgkin dan limfoma non-hodgkin (NHL). Perbedaan dari kedua jenis limfoma tersebut, yaitu ada atau tidaknya sel Reed-Sternberg yang dimiliki oleh limfoma Hodgkin.

Jenis NHL adalah tipe limfoma yang umumnya sering terjadi jika dibandingkan dengan tipe limfoma lainnya. Tipe NHL biasanya menyerang kelompok usia orang dewasa, namun tidak tertutup kemungkinan bahwa ia dapat menyerang usia yang lebih muda juga.

Apa saja gejala dari penyakit limfoma NHL?

Beberapa gejala yang umumnya dikeluhkan oleh pasien NHL, di antaranya:

  • Nyeri dan bengkak pada bagian perut.
  • Rasa nyeri pada bagian dada disertai batuk dan kesulitan bernapas.
  • Timbulnya bengkak pada kelenjar getah bening di area leher, ketiak, maupun selangkangan.
  • Demam dan berkeringat ketika malam hari.
  • Mudah merasa lelah.
  • Berat badan menurun tanpa alasan yang jelas.

Penyebab terjadinya NHL yaitu adanya perubahan atau mutasi pada DNA di salah satu sel darah putih (sel limfosit). Meskipun begitu, penyebab yang memicu perubahan DNA ini belum diketahui sampai sekarang. Ada beberapa dugaan, seperti usia yang semakin menua, kondisi obesitas, adanya paparan terhadap bahan karsinogen, radiasi, kemoterapi, dan juga dapat terjadi karena adanya gangguan sistem kekebalan tubuh (HIV/AIDS, infeksi Epstein-Barr virus, atau infeksi Helicobacter pylori). Selain itu, faktor keturunan juga diduga menjadi pemicu seseorang mengalami NHL.

Bagaimana mengatasi penyakit limfoma NHL?

Ketika Anda mengalami gejala dari penyakit ini seperti yang sudah disebutkan di atas, maka langkah yang terbaik adalah datang dan berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan menyarankan Anda untuk mengikuti beberapa tes, seperti tes darah, urine, pengambilan jaringan, dan tes radiologi untuk mendeteksi adanya NHL dalam tubuh Anda.

Jika hasil dari pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa Anda didiagnosis dengan NHL, maka dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan terapi untuk meningkatkan kekebalan tubuh dengan tujuan membunuh sel-sel limfosit yang memicu NHL tersebut.

Sebagai catatan, hingga saat ini belum ditemukan cara yang tepat untuk secara efektif mengatasi NHL. Namun, dengan diagnosis dini dan penanganan lebih awal, beberapa risiko yang tidak diinginkan dapat dihindari.

Cara Mengaplikasikan Salep Ruam Popok untuk Lansia

Bukan hanya bayi yang bisa mengalami ruam popok, orang lanjut usia juga bisa. Kondisi ini tentu sangat tidak nyaman dan perlu segera diatasi, salah satunya adalah dengan mengaplikasikan salep ruam popok untuk lansia. Pada dasarnya, ruam popok pada bayi dan lansia memiliki gejala yang hampir sama. Saat mengalami ruam popok, kulit akan berwarna merah muda, kering, dan terasa gatal. Jika tidak segera diatasi, gejala ini bisa mengakibatkan kulit menjadi iritasi, terluka, bengkak, dan mirip seperti luka bakar. Penderitanya juga akan merasakan gatal dan panas pada kulit.

Saat gejala-gejala tersebut terjadi, coba ingat-ingat apakah hal tersebut diakibatkan karena jarang mengganti popok atau memiliki alergi terhadap kandungan kimia tertentu yang mungkin terdapat dalam popok. Kedua pertanyaan itu penting karena sebagian besar penyebab ruam popok adalah karena frekuensi pergantian popok cenderung tidak teratur ataupun adanya alergi tertentu. Jika tidak, mungkin orang tersebut mengidap infeksi jamur karena area yang ditutupi popok terlalu lembap dikarenakan sifat popok yang tidak breathable.

Kondisi ini bisa terjadi di area sekitar kemaluan, paha, bokong, hingga panggul. Jika ruam popok yang disebabkan oleh jamur, daerah kemerahan bisa juga tumbuh bintil seperti biang keringat dan menjalar hingga ke bagian lipatan di sekitar area kemaluan.

Cara mengatasi ruam popok

Salah satu cara untuk mengatasi ruam popok adalah dengan mengoleskan salep ruam popok dengan dosis untuk lansia. Salep tersebut harung mengandung zinc oxide yang diaplikasikan pada area yang terinfeksi sebanyak 2 hingga 4 kali dalam sehari sampai ruam popok sembuh. Jika ruam popok masih terasa nyeri, Anda bisa mengoleskan salep kemudian menepuk-nepuk agar krim dapat menyerap dengan sempurna ke kulit.

Ketika mandi, bilas area yang luka dengan air mengalir. Salep ruang popok yang mengandung zinc oxide ini terasa lengket di tangan maupun di area yang diolesi salep. Jika merasa terganggu, oleskan juga petroleum jelly setelah memakai salep dan sebelum menggunakan popok kembali. Untuk mempercepat proses penyembuhan, sebaiknya tidak menggunakan popok untuk beberapa jam dalam sehari. Hal ini akan membuat sirkulasi udara di lebih lancar sehingga ruam akan lebih mudah dan lebih cepat kering.