Waspada Perdarahan Post Partum yang Jadi Sebab Tingginya Angka Kematian Ibu Melahirkan

Perdarahan post partum perdarahan setelah melahirkan tidaklah selalu terjadi sesaat ketika bayi telah dilahirkan. Perdarahan post partum adalah kondisi perdarahan yang terjadi dalam kurun waktu 24 jam setelah melahirkan. Namun, perdarahan masih mungkin terjadi bahkan hingga 12 minggu pasca persalinan. Kondisi ini disebut dengan perdarahan post partum sekunder.

Selama masa nifas, seorang ibu akan terus mengalami perdarahan. Namun, perdarahan yang terjadi dalam masa nifas tidak begitu berat dan jumlah darah yang keluar semakin hari akan semakin sedikit. Namun, jika selama masa tersebut darah yang keluar dalam jumlah yang cukup banyak, hal tersebut dapat menjadi gejala dari perdarahan post partum sekunder.

Idealnya, dua minggu pasca persalinan, perdarahan nifas akan berkurang banyak dan ibu perlahan akan kembali pulih. Namun, jika perdarahan tidak juga berhenti maupun tiba-tiba muncul perdarahan setelah sebelumnya mulai mereda, segera konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter. Lebih jelasnya tentang gejala perdarahan post partum sekunder, dapat disimak di bawah ini:

  • Perdarahan terjadi dalam jumlah yang banyak atau tidak mengalami pengurangan jumlah

Dalam masa nifas, perdarahan yang dialami ibu berlangsung dalam empat hingga enam minggu, walaupun memang dalam beberapa kasus ada yang mencapai minggu ke delapan. Beberapa hari setelah persalinan, darah yang keluar umumnya dalam jumlah yang banyak dan cenderung berwarna merah terang, sehingga terkadang ibu perlu mengenakan pembalut khusus ibu melahirkan.

Namun, dalam beberapa hari setelah kondisi tersebut, darah yang keluar akan berangsur berkurang jumlah, seperti darah ketika menstruasi. Ketika kondisi terjadi, ibu dapat mengenakan pembalut untuk menstruasi. Namun, jika pembalut tersebut sudah penuh dengan darah dalam waktu satu jam, hal tersebut dapat menjadi gejala adanya perdarahan post partum.

  • Lemas dan seperti ingin pingsan

Keluarnya darah dalam jumlah banyak akan berdampak pada kondisi tubuh. Ibu akan merasa lemas dan kepala terasa ringan, seperti ingin pingsan. Jika kondisi ini terus terjadi dan diikuti dengan gejala meningkatnya denyut jantung dan menurunnya tekanan darah, segera rujuk ke rumah sakit.

  • Terdapat gumpalan darah

Gumpalan darah dalam ukuran kecil umumnya akan keluar beberapa hari pasca persalinan. Dalam kondisi normal, gumpalan tersebut seharusnya tidak keluar lagi setelah beberapa hari.

Jika terdapat gumpalan darah dalam ukuran besar dan diikuti dengan keluarnya gumpalan kecil, dan kram perut, segera rujuk ke rumah sakit. Kondisi tersebut dapat menjadi pertanda adanya sisa plasenta yang tertinggal dalam rahim.

Mewaspadai gejala post partum sangatlah penting. Pasalnya, kondisi ini menjadi penyebab tingginya angka kematian ibu melahirkan di Indonesia.

Waspadai Penyebab Kolera yang Rawan Menyerang Masyarakat di Indonesia

Setidaknya terdapat 2,6 juta kasus kolera dengan 40 ribu lebih korban jiwa yang dilaporkan oleh WHO dalam kurun satu dasawarsa, dari 2006 hingga 2016. Bakteri Vibrio cholerae adalah penyebab utama dari penyakit kolera. Bakteri tersebut menginfeksi tubuh manusia melalui perantara makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Sesaat setelah bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh manusia, ia akan menginfeksi saluran pencernaan yang kemudian akan menyebabkan diare. Dalam kasus tertentu, diare berat yang tidak diatasi dapat menyebabkan dehidrasi berat dan kemungkinan meninggal dunia.

Bakteri yang menjadi penyebab kolera cenderung menyukai sanitasi yang buruk. Tidak adanya sarana yang menyediakan air bersih maupun fasilitas kebersihan lain, seperti fasilitas mandi cuci kakus yang memadai, yang juga dipicu oleh perilaku pribadi yang tidak menjaga kebersihan, mampu meningkatkan risiko penyakit kolera.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI, penyakit kolera terbilang cukup ditemukan di Indonesia. Namun, hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan bahwa Indonesia terbebas dari penyakit kolera. Faktanya, tingkat indikator perilaku hidup bersih di Indonesia hanya menyentuh angka 32,2%. Angka tersebut menunjukkan masih tingginya peluang bakteri penyebab kolera hadir di tengah kehidupan masyarakat.

Telah disebutkan bahwa terdapat kaitan yang erat tentang minimnya ketersediaan sarana sanitasi dan air bersih bagi masyarakat dengan tingkatan risiko risiko penyakit kolera, terlebih jika terjadi perang maupun bencana alam yang melanda Indonesia. Dapat diasumsikan bahwa, pada kondisi tertentu tersebut, sarana sanitasi dan sumber air bersih akan mengalami kerusakan, sehingga banyak pengungsi yang akan berkumpul di suatu tempat yang tidak ada akses air bersih sama sekali.

Risiko ini tentu dapat dikurangi dengan menerapkan pola hidup yang bersih. Hal sederhana seperti membiasakan diri mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, baik sebelum maupun setelah makan, begitu juga ketika setelah menggunakan toilet.

Mengolah bahan makanan yang akan dikonsumsi secara tepat juga dapat mengurangi risiko masuknya bakteri penyebab kolera ke dalam tubuh. Hal ini dapat dilakukan dengan memastikan bahwa bahan tersebut telah dicuci bersih dan dimasak dengan matang.

Apa itu Penyakit Limfoma dan Bagaimana Penangannya?

Apakah Anda pernah mendengar penyakit limfoma? Limfoma adalah suatu kondisi keganasan yang menyerang sel darah putih, limfosit, yang mulanya pada bagian kelenjar atau jaringan getah bening.

Limfoma memiliki beberapa jenis, salah satunya limfoma Hodgkin dan limfoma non-hodgkin (NHL). Perbedaan dari kedua jenis limfoma tersebut, yaitu ada atau tidaknya sel Reed-Sternberg yang dimiliki oleh limfoma Hodgkin.

Jenis NHL adalah tipe limfoma yang umumnya sering terjadi jika dibandingkan dengan tipe limfoma lainnya. Tipe NHL biasanya menyerang kelompok usia orang dewasa, namun tidak tertutup kemungkinan bahwa ia dapat menyerang usia yang lebih muda juga.

Apa saja gejala dari penyakit limfoma NHL?

Beberapa gejala yang umumnya dikeluhkan oleh pasien NHL, di antaranya:

  • Nyeri dan bengkak pada bagian perut.
  • Rasa nyeri pada bagian dada disertai batuk dan kesulitan bernapas.
  • Timbulnya bengkak pada kelenjar getah bening di area leher, ketiak, maupun selangkangan.
  • Demam dan berkeringat ketika malam hari.
  • Mudah merasa lelah.
  • Berat badan menurun tanpa alasan yang jelas.

Penyebab terjadinya NHL yaitu adanya perubahan atau mutasi pada DNA di salah satu sel darah putih (sel limfosit). Meskipun begitu, penyebab yang memicu perubahan DNA ini belum diketahui sampai sekarang. Ada beberapa dugaan, seperti usia yang semakin menua, kondisi obesitas, adanya paparan terhadap bahan karsinogen, radiasi, kemoterapi, dan juga dapat terjadi karena adanya gangguan sistem kekebalan tubuh (HIV/AIDS, infeksi Epstein-Barr virus, atau infeksi Helicobacter pylori). Selain itu, faktor keturunan juga diduga menjadi pemicu seseorang mengalami NHL.

Bagaimana mengatasi penyakit limfoma NHL?

Ketika Anda mengalami gejala dari penyakit ini seperti yang sudah disebutkan di atas, maka langkah yang terbaik adalah datang dan berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan menyarankan Anda untuk mengikuti beberapa tes, seperti tes darah, urine, pengambilan jaringan, dan tes radiologi untuk mendeteksi adanya NHL dalam tubuh Anda.

Jika hasil dari pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa Anda didiagnosis dengan NHL, maka dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan terapi untuk meningkatkan kekebalan tubuh dengan tujuan membunuh sel-sel limfosit yang memicu NHL tersebut.

Sebagai catatan, hingga saat ini belum ditemukan cara yang tepat untuk secara efektif mengatasi NHL. Namun, dengan diagnosis dini dan penanganan lebih awal, beberapa risiko yang tidak diinginkan dapat dihindari.

Cara Mengaplikasikan Salep Ruam Popok untuk Lansia

Bukan hanya bayi yang bisa mengalami ruam popok, orang lanjut usia juga bisa. Kondisi ini tentu sangat tidak nyaman dan perlu segera diatasi, salah satunya adalah dengan mengaplikasikan salep ruam popok untuk lansia. Pada dasarnya, ruam popok pada bayi dan lansia memiliki gejala yang hampir sama. Saat mengalami ruam popok, kulit akan berwarna merah muda, kering, dan terasa gatal. Jika tidak segera diatasi, gejala ini bisa mengakibatkan kulit menjadi iritasi, terluka, bengkak, dan mirip seperti luka bakar. Penderitanya juga akan merasakan gatal dan panas pada kulit.

Saat gejala-gejala tersebut terjadi, coba ingat-ingat apakah hal tersebut diakibatkan karena jarang mengganti popok atau memiliki alergi terhadap kandungan kimia tertentu yang mungkin terdapat dalam popok. Kedua pertanyaan itu penting karena sebagian besar penyebab ruam popok adalah karena frekuensi pergantian popok cenderung tidak teratur ataupun adanya alergi tertentu. Jika tidak, mungkin orang tersebut mengidap infeksi jamur karena area yang ditutupi popok terlalu lembap dikarenakan sifat popok yang tidak breathable.

Kondisi ini bisa terjadi di area sekitar kemaluan, paha, bokong, hingga panggul. Jika ruam popok yang disebabkan oleh jamur, daerah kemerahan bisa juga tumbuh bintil seperti biang keringat dan menjalar hingga ke bagian lipatan di sekitar area kemaluan.

Cara mengatasi ruam popok

Salah satu cara untuk mengatasi ruam popok adalah dengan mengoleskan salep ruam popok dengan dosis untuk lansia. Salep tersebut harung mengandung zinc oxide yang diaplikasikan pada area yang terinfeksi sebanyak 2 hingga 4 kali dalam sehari sampai ruam popok sembuh. Jika ruam popok masih terasa nyeri, Anda bisa mengoleskan salep kemudian menepuk-nepuk agar krim dapat menyerap dengan sempurna ke kulit.

Ketika mandi, bilas area yang luka dengan air mengalir. Salep ruang popok yang mengandung zinc oxide ini terasa lengket di tangan maupun di area yang diolesi salep. Jika merasa terganggu, oleskan juga petroleum jelly setelah memakai salep dan sebelum menggunakan popok kembali. Untuk mempercepat proses penyembuhan, sebaiknya tidak menggunakan popok untuk beberapa jam dalam sehari. Hal ini akan membuat sirkulasi udara di lebih lancar sehingga ruam akan lebih mudah dan lebih cepat kering.