Kenali Gejala, Jenis, dan Faktor Risiko Kanker Saluran Empedu

Dalam istilah medis, kanker saluran empedu dikenal juga dengan Cholangiocarcinoma. Kondisi ini merupakan kondisi kanker yang cukup langka namun fatal, dan menyerang saluran empedu.

Saluran empedu adalah rangkaian tabung yang mengangkut cairan empedu dari hati ke kantong empedu. Dari kantong empedu, empedu akan dibawa ke usus yang membantu memecah lemak dan makanan. 

Kanker pada saluran empedu kebanyakan menyerang bagian dalam saluran empedu yang terletak di bagian luar hati. Dalam kasus yang sangat jarang, kanker ini juga bisa berkembang di saluran yang terletak di bagian dalam organ hati.

Apa saja jenis-jenis kanker saluran empedu?

Ada beberapa jenis kanker saluran empedu yang dibedakan berdasarkan lokasi pertumbuhan tumornya. Hal ini juga menentukan tingkat keganasan dari kanker. Berikut ini jenis-jenisnya: 

  • Intrahepatic

Jenis yang satu ini sangat langka, hanya terjadi pada sekitar 5-10 persen kasus kanker saluran empedu yang pernah terjadi. Kanker ini terjadi pada bagian dalam hati. Pertumbuhannya menjalar dari cabang empedu yang lebih kecil di dalam hati.

  • Perihilar

Jenis perihilar cukup umum terjadi lebih bisa untuk disembuhkan. Pertumbuhan sel kankernya dimulai dari hilus hepatik, yaitu area dimana saluran hepatik kiri dan kanan telah bergabung. Setelah itu, dari hilus hepatik, barulah sel kanker berkembang ke luar dari hati.

  • Distal

Sama seperti jenis perihilar, jenis yang satu ini juga lebih bisa untuk disembuhkan dan lebih umum terjadi. Pertumbuhannya dimulai dari saluran empedu yang lebih jauh ke dalam, dekat dengan usus kecil.

Gejala kanker saluran empedu

Anda perlu mengenali seperti apa gejala kanker saluran empedu. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan penanganan dengan lebih cepat, sebelum pertumbuhan kanker menjadi semakin parah.

Beberapa gejala umum yang dirasakan oleh penderita antara lain:

  • Penyakit kuning, menimbulkan gejala berupa kulit yang menguning dan menjadi gejala paling umum. Gejala ini dapat dialami pada tahap awal maupun tahap akhir kanker, tergantung pada lokasi pertumbuhan tumor.
  • Perubahan warna urin dan kotoran saat buang air besar, menjadi lebih gelap. 
  • Gatal-gatal akibat penyakit kuning dan juga pertumbuhan sel kanker.
  • Nyeri pada perut yang menembus hingga ke bagian punggung. Ini terjadi seiring dengan pertumbuhan atau perkembangan kanker.

Selain gejala di atas, ada juga gejala umum berupa panas dingin, demam, kehilangan selera makan, penurunan berat badan, dan kelelahan. 

Terkadang, beberapa penderita bisa juga mengalami gejala tambahan. Namun, gejala tambahan ini sangat jarang terjadi. Gejala tambahan tersebut berupa pembesaran ukuran hati, limpa, dan kantong empedu. 

Penyebab dan faktor risiko kanker saluran empedu

Umumnya, jenis kanker yang satu ini lebih rentan terjadi pada pria dewasa atau lansia yang berusia 65 tahun ke atas. Selain itu, ada beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko penyakit ini, yaitu:

  • Ulcerative colitis
  • Paparan bahan kimia yang digunakan dalam industri pesawat terbang
  • Penyakit langka, seperti primary sclerosing cholangitis, hepatitis, Lynch syndrome, atau biliary papillomatosis
  • Infeksi cacing hati atau cacing pipih parasit
  • Infeksi saluran empedu yang menyebabkan peradangan kronis
  • Batu saluran empedu, serupa dengan batu kantong empedu

Jika Anda memiliki kondisi-kondisi di atas, sebaiknya perhatikan kesehatan Anda secara rutin. Bila merasakan gejala kanker saluran empedu, segera lakukan pemeriksaan ke dokter sebelum kondisi semakin memburuk.

Koarktasio Aorta Muncul Kembali Saat Dewasa, Begini Perawatannya

Koarktasio aorta adalah penyempitan aorta yang merupakan pembuluh darah arteri utama dan terbesar di dalam tubuh. Aorta berfungsi mengalirkan darah kaya oksigen dari jantung ke seluruh tubuh. 

Penyempitan aorta adalah kelainan yang didapat dari lahir. Gejalanya berkembang ketika penyempitan semakin parah sehingga harus dilakukan prosedur operasi untuk melebarkan pembuluh darah. Namun operasi tidak serta merta menyembuhkan kondisi tersebut karena saat dewasa, penyempitan bisa kembali terjadi.  

Mengapa bisa terjadi koarktasio berulang?

Pasien yang telah menjalani pengobatan koarktasio aorta saat usia anak-anak bisa mengalami kekambuhan koarktasio, dan komplikasi lanjutan lain termasuk aneurisma (pembengkakan pembuluh darah), dan pseudoaneurisma (kebocoran di dinding aorta). 

Peluang kekambuhan adalah 5-19 persen. Jika Anda menjalani prosedur angioplasti atau pemasangan stent, risiko kambuh berkisar antara 11-15 persen. Inilah pentingnya pasien melakukan pemeriksaan rutin setiap tahun untuk memantau kondisi aorta dan kemungkinan kekambuhan terjadi.

Gejala koarktasio aorta pada orang dewasa

Tanda koarktasio aorta akan muncul tergantung keparahan penyempitan. Pada beberapa kasus, gangguan terlihat ketika bayi atau pada usia anak-anak, sedangkan pada kondisi yang tidak terlalu parah koarktasio tidak akan terlihat hingga dewasa. 

Hipertensi adalah ciri umum seseorang menderita koarktasio aorta. Pasien yang menjalani perawatan saat bayi memiliki peluang kurang dari 5% menderita hipertensi pada dewasa awal, dan pasien yang dioperasi setelah usia satu tahun berisiko 25-33%. 

Gejala lain penyempitan aorta pada orang dewasa yaitu: 

  • Sakit kepala
  • Angina
  • Epistaksis atau mimisan
  • Kurangnya kinerja olahraga
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Kaki dingin
  • Nyeri tungkai setelah olahraga
  • Murmur jantung

Mengobati  koarktasio aorta

Ada beberapa jenis operasi pelebaran aorta. Dokter akan mempertimbangkan perawatan sesuai dengan usia, kondisi kesehatan, lamanya penyempitan telah terjadi, serta lokasi koarktasio. 

Salah satu prosedur yang umum dilakukan ketika terjadinya koarktasio berulang adalah kateterisasi. Dokter akan memasukkan balon guna memperluas area yang menyempit, dan menempatkan stent logam untuk menahan area tersebut agar tetap terbuka. 

Selain itu opsi prosedur yang tersedia meliputi:

  1. Reseksi dengan anastomosis ujung ke ujung

Metode ini melibatkan pengangkatan segmen aorta yang menyempit (reseksi), lalu menghubungkan dua bagian aorta yang sehat (anastomosis).

  1. Aortoplasti flap subklavia

Dokter akan menggunakan pembuluh darah arteri subklavia kiri untuk memperluas area aorta yang menyempit.

  1. Bypass perbaikan graft

Teknik ini melibatkan memotong area yang menyempit dengan memasukkan tabung yang disebut cangkok di antara bagian aorta. 

  1. Patch aortoplasty

Pada prosedur ini, dokter akan memotong area koarktasio aorta lalu menempelkan bahan sintetis untuk melebarkan pembuluh darah. Patch aortoplasty dilakukan jika koarktasio melibatkan segmen aorta yang panjang.

Mengelola kondisi koarktasio aorta

Pemeriksaan rutin harus dilakukan pasien pasca perawatan guna memantau kemungkinan komplikasi. Berikut beberapa tips mengelola koarktasio aorta:

  • Berolahraga secara teratur

Olahraga dapat mengontrol tekanan darah. Konsultasikan dengan dokter untuk mendapat rekomendasi olahraga yang tepat.

  • Mencegah endokarditis

Endokarditis adalah meradangnya lapisan jantung bagian dalam atau strukturnya akibat infeksi bakteri. Pemberian antibiotik dilakukan hanya jika Anda memiliki riwayat endokarditis atau menjalani operasi penggantian katup.

  • Mempertimbangkan waktu kehamilan

Wanita dengan koarktasio aorta, bahkan setelah pengobatan, memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi dan komplikasi jantung selama kehamilan dan persalinan. Konsultasikan dengan dokter bagaimana memiliki kehamilan yang aman. Anda juga perlu melakukan manajemen tekanan darah dengan cermat.

Catatan

Koarktasio aorta tidak bisa disembuhkan, dan hanya bisa diringankan. Kondisi ini akan bertahan seumur hidup. Tanyakan mengenai koarktasio aorta dan kelainan jantung pada dokter di aplikasi kesehatan SehatQ.

Download sekarang di App Store atau Google Play Store.

Mencegah Kebutaan Akibat Glaukoma Sudut Terbuka Primer

Glaukoma merupakan kerusakan saraf mata yang menjadi banyak penyebab kebutaan. Ada berbagai jenis glaukoma, dan glaukoma sudut terbuka primer (POAG) yang disebut juga dengan glaukoma sudut terbuka merupakan jenis yang paling umum. 

Seringkali pasien tidak menyadari bahwa mereha menderita kondisi tersebut sampai pada akhirnya mengalami kebutaan permanen. Maka dari itu sangat penting menyadari gejalanya sedini mungkin agar bisa melakukan tindakan pencegahan dan perawatan medis.

Sebab dan gejala glaukoma sudut terbuka primer

Secara umum glaukoma sudut terbuka primer disebabkan oleh tekanan yang diterima mata (intraokular) terlalu tinggi. Seiring waktu tekanan pada mata merusak saraf optik di bagian belakang mata sehingga menyebabkan kehilangan penglihatan permanen. 

Meski ada banyak sebab, beberapa kasus memiliki penyebab yang tidak bisa diidentifikasi. Adapun faktor risiko glaukoma sudut terbuka primer meliputi:

  • Usia. Orang yang lebih tua, terutama di atas 40 tahun sangat berisiko terkena kondisi ini.
  • Riwayat keluarga. Jika salah satu atau kedua orang tua atau saudara terkena glaukoma sudut terbuka, maka Anda berisiko 4 kali lebih banya mengembangkan kondisi ini. 
  • Ras. Etnis Afrika dan Amerika Latin serta keturunannya memiliki risiko jauh lebih tinggi.
  • Riwayat kesehatan. Orang dengan masalah medis seperti diabetes, hipertensi, dan miopia dapat meningkatkan risiko glaukoma sudut terbuka primer.
  • Gaya hidup. Merokok, asupan alkohol yang tinggi, dan obesitas dapat meningkatkan risiko.
  • Ketebalan kornea sentral yang lebih tipis

Pada orang etnis Afrika, gluakoma dapat berkembang pada usia yang lebih mudah dengan tingkat keparahan yang parah. Risiko kebutaan pun 6-8 kali lebih besar dari orang biasa. 

Penyakit ini sangat membahayakan karena pasien tidak merasakan gejala yang aneh. Beberapa pasien memiliki keluhan seperti mengalami kesulitan mengemudi, atau objek yang tiba-tiba hilang misalnya bagian kata hilang saat membaca. Tanda dan gejala jauh lebih jelas jika Anda menjalani pemeriksaan mata.

Mencegah kebutaan akibat glaukoma sudut terbuka primer

Glaukoma sudut terbuka primer merupakan penyebab utama kebutaan yang belum dapat disembuhkan. Namun kebutaan dapat dicegah dengan menjalani perawatan medis. Pengobatan berfokus pada mengurangi tekanan intraokular dan kerusakan saraf optik.

Ada beberapa perawatan yang tersedia, mulai dari pemberian obat-obatan hingga operasi. Tak jarang dokter menggabungkan beberapa perawatan untuk mendapat efek lebih baik.

  1. Obat tetes mata

Pengobatan pertama untuk mengatasi glaukoma sudut terbuka primer adalah pemberian obat tetes mata resep. Ini digunakan untuk mengurangi produksi air di mata atau meningkatkan drainase dari mata.

  1. Pengobatan oral

Terkadang dokter meresepkan pengobatan oral sebagai pengganti obat tetes tertentu. Obat yang umum diberikan antara lain penghambat karbonat anhidrase, dan diuretik osmotik. Sebelum pemberian dokter akan mempertimbangkan kondisi Anda terlebih dahulu.

  1. Operasi

Ada sejumlah prosedur pembedahan untuk glaukoma sudut terbuka primer. Prosedur ini bertujuan mengurangi tekanan mata, mengurangi terhadap ketergantungan obat, dan membantu mencegah kehilangan penglihatan akibat penyakit tersebut. 

Efek beberapa prosedur dapat berkurang seiring waktu, sehingga mungkin diperlukan prosedur tambahan setelah beberapa tahun. Adapun prosedurnya meliputi:

  • Terapi laser selektif (SLT), merupakan pengobatan awal untuk pasien yang tidak merespon terapi obat. 
  • Terapi laser argon (ALT), efeknya bertahan hingga 3-5 tahun setelah terapi/
  • Trabekulektomi, dilakukan jika terapi laser SLT dan ALT gagal atau bekerja tidak efektif.
  • Operasi implan drainase, umumnya dilakukan setelah beberapa kali upaya trabekuletomi gagal.
  • Ablasi tubuh siliaris, merupakan opsi terakhir dalam perawatan glaukoma sudut terbuka primer. 

Catatan

Glaukoma sudut terbuka primer dapat menyerang siapa saja dan kehilangan penglihatan dapat terjadi secara tiba-tiba. Untuk mencegah hal itu terjadi, sangat penting untuk menjalani pemeriksaan mata secara rutin. 

Floppy Eyelid Syndrome, Ketika Kelopak Mata Terlihat Kuyu

Mata adalah salah satu indra yang paling banyak dilihat. Ketika berbicara, seseorang akan menatap mata, sehingga sering disebut sebagai jendela jiwa. Namun bagaimana jika mata terlihat kuyu akibat kelopak mata yang seperti mengendur?

Dalam istilah medis kondisi ini disebut dengan floppy eyelid syndrome (FES) atau sindrom mata terkulai. Gangguan ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1981 oleh Culbertson dan Ostler. Mereka menemukan sindrom ini dialami oleh pasien pria yang kelebihan berat badan dengan kelopak mata atas terkulai, kenyal, dan mudah terbuka.

Namun pada awalnya floppy eyelid syndrome belum dikenali sebagai suatu penyakit. 

Penyebab floppy eyelid syndrome

Ada beberapa kondisi yang menjadi faktor risiko atau penyebab dari sindrom floppy eyelid. Biasanya sindrom ini dikaitkan dengan konjungtivitis papiler kronis. Faktor lain yang dapat menyebabkan floppy eyelid syndrome antara lain:

  • Obesitas atau kelebihan berat badan
  • Iritasi mata 
  • Apnea tidur obstruktif (obstructive sleep apnea/OSA)
  • Matting atau kotoran mata
  • Blepharoptosis dan dermatochalasis
  • Keratopati kornea belang-belang
  • Keratitis
  • Neovaskularisasi kornea bilateral
  • Ulserasi kornea
  • Jaringan parut pada kornea
  • Sindrom erosi kornea berulang
  • Sindrom Down
  • Keratitis filamen
  • Ektropion atau posisi kelopak mata bawah yang membalik

Menggosok mata terlalu kencang atau posisi tidur yang cenderung lebih banyak menekankan pada salah satu sisi juga dapat meningkatkan risiko. Ketika kelopak mata mendapatkan tekanan terus menerus (stres mekanis berulang) jumlah elastin pada kelopak mata akan berkurang sehingga menyebabkan floppy eyelid syndrome.

Gejala floppy eyelid syndrome

Sindrom floppy eyelid dapat dialami oleh siapa saja dengan rentang usia 2-80 tahun, tapi pada kebanyakan kasus sindrom ini lebih banyak dialami oleh laki-laki gemuk paruh baya (40-50 tahun). 

Floppy eyelid syndrome memiliki gejala yang serupa dengan penyakit lain, sehingga seringkali tidak terdiagnosis secara akurat pada permulaan penyakit ini muncul. Gejala yang umum terjadi meliputi:

  • Kulit kelopak mata atas yang mudah dibuka
  • Kulit kelopak mata atas yang tampak memanjang dan tumpang tindih di atas tepi kelopak bawah
  • Keluarnya lendir atau cairan keputihan dari mata
  • Mata kering

Bagaimana mengobati floppy eyelid syndrome?

Dokter akan mendiagnosis sindrom floppy eyelid berdasarkan gejala yang tampak. Karena floppy eyelid syndrome dikaitkan dengan apnea tidur obstruktif (OSA), kemungkinan besar pasien juga ditangani oleh spesialis gangguan tidur. 

Pengobatan terbagi menjadi terapi medis dan prosedur bedah. Tindakan suportif seperti memberi cairan pelumas pada mata dan antihistamin dapat mencegah kelopak mata teriritasi. Menggunakan penutup mata juga efektif mengatasi keluhan pasien untuk sementara waktu. Pasien juga diminta untuk menghindari menggosok atau membebani mata untuk memperburuk kondisinya. 

Prosedur bedah yang dilakukan bertujuan untuk mengencangkan kelopak mata. Karena sebagian besar pasien sindrom floppy eyelid juga menderita OSA, mempertimbangkannya bersama dengan posisi terlentang juga penting. 

Terapi bedah lain yang bisa dilakukan meliputi:

  • Pemendekan kelopak mata horizontal, untuk mencegah kecenderungan kelopak mata untuk kembali membuka keluar. Selama prosedur ini dilakukan, perbaikan ptosis, reposisi bulu mata, dan blepharoplasty juga dilakukan.
  • Canthopexy lateral, merupakan prosedur yang lebih efektif dari pemendekan kelopak mata.
  • Tarsorrhaphy, dilakukan kepada pasien yang gagal merespon prosedur pemendekan kelopak mata. 

Catatan

Menderita floppy eyelid syndrome akan terasa sangat mengganggu dan mengganjal. Kondisi ini harus segera ditangani, karena jika tidak dapat menyebabkan komplikasi kesehatan lainnya. 

Diskusikan mengenai floppy eyelid syndrome atau gangguan penglihatan lainnya dengan dokter melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download aplikasinya sekarang di App Store atau Google Play Store. 

Gejala, Penyebab, dan Faktor Resiko Kondisi ITBS

Iliotibal Band Syndrome atau ITBS merupakan cedera yang terjadi ketika jaringan ikat atau pada paha Anda digunakan secara berlebihan. Saat cedera terjadi, Anda akan merasakan nyeri. 

Iliotibal Band adalah jaringan ikat panjang atau fasia yang membentang di sepanjang bagian luar kaki Anda. Jaringan ini terbentang dari arah pinggul sampai dengan lutut serta tulang kering. 

Mengenal gejala ITBS

Gejala utama ITBS sebenarnya berupa nyeri pada sisi luar lutut, tepat di atas persendian. Nyeri ini pada awalnya bisa menghilang setelah Anda melakukan pemanasan. Akan tetapi, lama-kelamaan, Anda akan merasakan nyeri semakin memburuk seiring dengan gerakan olahraga Anda. 

Apabila terus dibiarkan, rasa nyeri ini akan semakin berkembang dan memicu sensasi terbakar. Terkadang, rasa nyeri ini juga bisa sampai ke dekat area pinggul Anda. Rasa sakit akan semakin menjadi ketika Anda menuruni tangga atau bangun dari posisi duduk. 

Semakin lama, nyeri akan semakin terasa. Nyeri ini lama-kelamaan bisa menyebabkan pembengkakan. 

Selain itu, Anda juga mungkin akan merasakan adanya gejala lain berupa:

  • Nyeri pada kaki bagian atas dan bawah
  • Merasakan bunyi ‘klik’ atau bunyi benturan di bagian luar lutut Anda
  • Rasa nyeri yang diikuti sensasi terbakar di bagian luar lutut
  • Bagian luar lutut memerah dan menjadi hangat

Seringkali, gejala-gejala ini lebih umum ditemukan pada atlet atau orang yang terbiasa melakukan olahraga lari, bersepeda, mendayung, atau basket. 

Apa yang membuat seseorang mengalami ITBS?

ITBS sebenarnya bisa terjadi apabila Anda menggunakan pita IT terlalu berlebihan ketika berolahraga. Penggunaan berlebihan terjadi ketika Anda berolahraga dengan peningkatan interval yang terlalu cepat.

Akan tetapi, selain karena kebiasaan yang buruk saat berolahraga, kondisi ini juga bisa dipicu oleh kesalahan biomekanik. Contoh kesalahan biomekanik yang menyebabkan hal ini adalah: 

  • Pronasi kaki yang berlebihan
  • Kaki tertekuk
  • Perbedaan panjang kaki
  • Kemiringan panggul lateral

Gejala dari ITBS memang lebih rentan dialami oleh atlet atau orang yang biasa berolahraga. Akan tetapi, hal ini juga bisa terjadi apabila Anda memiliki pekerjaan yang menuntut Anda untuk naik dan turun tangga secara rutin.

Faktor resiko ITBS

Golongan faktor resiko dari kondisi ITBS ada pada kebiasaan buruk saat berolahraga, seperti: 

  • Lari di permukaan yang salah

Saat Anda berlari di permukaan yang tidak tepat untuk digunakan berlari, maka penggunaan pita IT bisa saja menjadi berlebihan, membuat Anda menderita sindrom ini.

Beberapa jenis permukaan yang tidak tepat digunakan saat berlari adalah saat berlari menuruni bukit, berlari hanya di satu sisi jalan, atau berlari di permukaan yang miring dan bukan datar. 

  • Memiliki kondisi fisik tertentu

Beberapa masalah medis secara fisik juga bisa mempengaruhi dan meningkatkan resiko terkena ITBS. Kondisi fisik tersebut antara lain kaki tertetuk, arthritis lutut,  serta satu kaki lebih panjang dari kaki yang lain. 

Selain itu, kebiasaan dalam berjalan dengan memutar kaki atau pergelangan kaki ke dalam juga bisa meningkatkan resiko kondisi ini. 

  • Berlari dengan teknik yang salah

Dalam berolahraga, tentunya ada teknik yang harus diikuti demi kesehatan dan keamanan diri Anda sendiri. Berlari dengan teknik yang salah bisa memicu ITBS. 

Beberapa kesalahan teknik saat berlari berupa kurang melakukan peregangan, mengenakan sepatu kets yang usang, dan tidak memberi jeda istirahat saat olahraga.

Itulah gejala, penyebab, dan faktor resiko dari ITBS. Selama Anda mengetahui dan penerapkan teknik berlari yang tepat, Anda bisa menghindari gejala dari kondisi ini.

Alami Hidradenitis Suppurativa, Ini Pengobatan Umumnya

Masalah kulit tidak hanya jerawat ataupun kondisi kulit kering yang menyebabkan peradangan. Banyak jenis penyakit kulit yang mesti Anda waspadai karena menimbulkan gejala dan ketidaknyaman yang ekstra, contohnya eksim maupun hidradenitis suppurativa. 

Hidradenitis suppurativa mungkin belum terlalu familiar di telinga Anda. Namun sebenarnya, banyak orang yang kerap mengalami masalah kulit yang satu ini. Hidradenitis suppurativa merupakan kondisi kulit mengalami benjolan kecil seperti bisul. Bisul-bisul yang menjadi tanda penyakit ini kerap muncul di kawasan kulit yang bergesekan, seperti di ketiak ataupun selangkangan. Jika terus dibiarkan, benjolan ini akan menyebabkan jaringan parut bahkan abses pada kulit tersebut. 

Baiknya ketika muncul bisul-bisul kecil yang merupakan hidradenitis suppurativa di daerah yang bergesekan tersebut, Anda langsung menjumpai dokter untuk mendapatkan perawatan. Berikut adalah beberapa pengobatan yang biasanya akan dilakukan untuk para penderita hidradenitis suppurativa. 

  • Pemberian Antibiotik 

Dokter umumnya akan memberikan antibiotik untuk pasien hidradenitis suppurativa. Pemberian antibiotik bertujuan mengurangi benjolan kecil yang berisi nanah di kulit. Antibiotik jenis klindamisin ataupun dapson juga diberikan untuk mencegah dan mengobati infeksi yang terjadi akibat benjolan-benjolan tersebut. 

  • Pengobatan Hormonal 

Sampai saat ini belum diketahui pasti mengenai penyebab dari penyakit kulit yang satu ini. Namun dalam banyak kasus, ditemukan bahwa hidradenitis suppurativa berhubungan dengan kondisi hormon penderitanya. Karena itu, tidak jarang dokter memberikan pengobatan hormonal bagi pasien hidradenitis suppurativa untuk mengurangi gejalanya. Pengobatan hormonal yang biasa dilakukan, yakni pemberian pil KB, spironolakton, ataupun finasterida. 

  • Resep Anti-inflamasi 

Benjolan kecil yang merupakan gejala dari hidradenitis suppurativa mudah untuk pecah dan mengeluarkan nanah. Tidak jarang pula, kondisi ini menimbulkan kondisi peradangan di area kulit yang terkena. Untuk meredakan peradangan tersebut, dokter umumnya akan meresepkan obat anti-inflamasi. Tidak jarang pula ada pemberian resep berjenis metformin yang dikenal sebagai obat diabetes. 

  • Suntikan Intravena 

Tingkat keparahan pasien hidradenitis suppurativa berbeda-beda. Pemberian obat oral, khususnya untuk peradangan, hanya ampuh untuk penderita bergejala ringan maupun sedang. Jika benjolan sudah terlalu banyak dan infeksi sudah menyebar, dokter memilih untuk melakukan suntikan intravena. Lewat suntikan tersebut, diharapkan bakteri di tubuh yang menyebabkan radang bisa dikalahkan. 

  • Pengurangan Rambut 

Semakin banyak rambut yang ada di daerah ketiak ataupun selangkangan akan membuat risiko hadirnya benjolan-benjolan kecil berisi nanah semakin besar. Karena itu, tidak jarang dokter akan merekomendasikan pasien hidradenitis suppurativa untuk melakukan pengurangan rambut menggunakan metode lase. Kebanyakan pasien membutuhkan rata-rata tiga perawatan laser yang diberikan setiap empat hingga enam minggu sekali guna penanganan penyakit ini.

  • Pemberian Drainase 

Tujuan pengobatan yang satu ini lebih ke arah mengeringkan benjolan atau abses yang sudah terjadi akibat hidradenitis suppurativa. Benjolan yang cepat kering sekaligus bisa mengurangi rasa nyeri yang dialami pasien. 

  • Deroofing 

Perawatan deroofing juga akan direkomendasikan dokter untuk memulihkan kondisi kulit akibat hidradenitis suppurativa. Ini merupakan prosedur pengangkatan sel kulit. Untuk kasus hidradenitis suppurativa, sel kulit yang diangkat adalah yang menutupi saluran abses atau benjolan. Nantinya setelah diangkat, akan timbul luka yang hanya dibiarkan terbuka untuk bisa sembuh dengan sendirinya. Pembiaran luka terbuka untuk mengurangi risiko benjolan kecil tersebut datang kembali. 

  • Operasi Laser 

Apabila Anda termasuk pasien dengan hidradenitis suppurativa yang membandel, dokter akhirnya akan meminta Anda melakukan operasi laser. Pengobatan ini dinilai akan lebih efektif. Hanya saja, prose penyembuhan kulit akibat operasi laser lumayan panjang, memerlukan waktu sekitar 6 minggu. 

***

Jika tidak diobati, hidradenitis suppurativa bisa terus bermunculan dan mengganggu kenyamanan Anda. Ditambah lagi, bekas benjolan atau jaringan parut dari penyakit ini tentunya dapat mengurangi tingkat percaya diri penderitanya. Tidak ingin demikian, bukan?

Banyak Penyebab Dada Sesak, Ini Cara Meredakannya

Penyebab dada sesak sangat beraneka rupa. Tidak melulu mengarah pada serangan jantung, rasa sesak di dada yang menyerupai tindihan berat atau rasa tertusuk benda tajam juga rentan dipicu oleh berbagai masalah kesehatan lainnya. Beberapa masalah kesehatan lain yang menjadi penyebab dada sesak, di antaranya refluks lambung atau GERD, asma, hingga serangan panik yang timbul akibat kecemasan yang berlebihan. 

Ketika merasakan dada sesak, pergi menemui tenaga medis adalah jalan terbaik. Ini mengingat banyak penyebab dada sesak yang merupakan penyakit serius. Namun jika tidak memungkinkan untuk segera pergi ke dokter atau rumah sakit, cobalah meredakan gejalanya sedikit agar Anda bisa merasa lebih nyaman. 

Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat Anda ambil ketika mengalami dada sesak. Langkah penanganan ini tidaklah terlalu sulit dan bisa Anda lakukan dari mana saja, termasuk dari rumah. 

  1. Atur Pernapasan

Rasa sesak di dada bisa dikurangi dengan mengatur pernapasan secara lebih baik. Ketika Anda mengalami sesak di dada, cobalah untuk mengambil napas lebih dalam. Tarik napas dalam 8 hitungan dan lepaskan secara perlahan dapat membantu melonggarkan rongga-rongga di dada sehingga kesesakan bisa berkurang. 

Saat mengalami dada sesak, alur pernapasan juga menjadi lebih cepat. Padahal, pernapasan yang terlalu cepat membuat rasa sesak kiat menguat. Cobalah mengendalikannya dengan memperlambat ritme pernapasan Anda. Ritme yang lebih lambat bisa membuat tubuh lebih rileks sehingga rasa sakit dapat berkurang. 

  1. Perbaiki Postur Tubuh 

Beberapa penyebab dada sesak berasal dari masalah peradangan baik di otot maupun bagian tulang rusuk. Salah satu cara meredakan rasa sesak akibat hal tersebut dengan memperbaiki postur tubuh Anda. 

Ketika mengalami dada sesak, cobalah untuk meluruskan punggung agar tubuh menjadi lebih rileks. Jangan biarkan tangan meronta, tapi cobalah letakkan di pangkuan atau paha Anda. Memejamkan mata agar bisa lebih berkonsentrasi meredakan rasa sakit juga dapat Anda lakukan agar rasa sesak dapat lekas berkurang. 

  1. Konsumsi Air Hangat 

Salah satu penyebab dada sesak adalah naiknya asam lambung atau masalah di pencernaan. Untuk meredakan rasa sesak akibat hal tersebut, Anda dapat mencoba mengonsumsi air hangat. 

Air dengan suhu yang lebih tinggi efektif menghilangkan gas yang menjadi pemicu masalah refluks lambung. Air hangat juga dapat membantu melancarkan pencernaan sehingga tidak ada penumpukan gas di perut yang kerap menghadirkan rasa tidak nyaman di bagian dada. 

  1. Terapkan Diet Ideal 

Penyebab dada sesak beberapa di antaranya dipicu oleh masalah jantung dan pembuluh darah, mulai dari angina, penyakit jantung koroner, sampai peradangan otot jantung. Untuk meredakan gejala sesak yang ditimbulkan oleh penyakit-penyakit tersebut, cobalah untuk mulau menerapkan diet ideal. 

Kurangi makanan berlemak jenuh sesegera mungkin. Goreng-gorengan serta daging merah dan produk turunannya menjadi salah satu sumber lemak jenuh tersebut. Di samping itu, perbanyak asupan sayuran dan air putih. 

  1. Lekas Minum Obat 

Anda mungkin tidak bisa sesegera mungkin ke dokter untuk berkonsultasi mengenai rasa sesak di dada yang Anda alami. Namun, Anda bisa mengurangi gejalanya terlebih dahulu dengan mengonsumsi obat yang sesuai.

Secara umum, aspirin dapat menjadi obat yang bisa meredakan gejala sesak di dada. Namun jika Anda takut mengonsumsi obat-obatan kimia tanpa resep dokter, cobalah mencari obat tradisional. Bawang putih dan cuka apel disebut-sebut dapat menjadi penawar sesak di dada. 

*** 

Penyebab dada sesak tetap tidak boleh diremehkan. Jadi apabila gejala sesak dada menjadi berkurang dengan penanganan-penanganan di atas, tetap pastikan Anda segera menemui dokter untuk berkonsultasi lebih lanjut mengenai kondisi yang Anda alami.

Alami Mata Merah? Waspada Episkleritis dan Cara Mengatasinya!

Episkleritis adalah suatu kondisi peradangan atau inflamasi akut pada bagian episklera mata. Episklera sendiri merupakan jaringan tipis di antara konjungtiva dan sklera putih yang menampung jaringan pembuluh darah. Jika mata Anda merah, maka kemungkinan Anda dapat mengalami episkleritis. Apa penyebabnya? Bagaimana pula cara mengatasinya? Yuk, simak langsung di sini!

Kenali gejala dan penyebab episkleritis

Gejala episkleritis terkadang membuat mata Anda menjadi kemerahan, baik itu di salah satu ataupun kedua mata. Selain itu, beberapa orang mungkin dapat mengembangkan nodul putih di tengah kemerahan, sehingga disebut juga dengan episkleritis nodular. Gejala lain yang mungkin terjadi saat terserang episkleritis adalah peka terhadap cahaya (fotofobia) dan keluar cairan dari mata.

Dalam banyak kasus episkleritis, dokter mungkin akan sulit menemukan penyebabnya secara jelas. Umumnya, episkleritis yang sudah parah, sering didasari dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti:

  • Penyakit radang usus.
  • Penyakit Crohn.
  • Kolitis ulseratif.
  • Rheumatoid arthritis.
  • Psoriasis arthritis.
  • Polyarteritis nodosa.
  • Sarkoid.
  • Lupus.
  • Ankylosing spondylitis.

Jenis episkleritis

Episkleritis terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Episkleritis sederhana.

Ini adalah jenis episkleritis yang paling umum. Episkleritis sederhana menyebabkan peradangan mata yang berulang. Biasanya, dapat berlangsung 7 – 10 hari, bahkan lebih lama jika ada kondisi sistemik lainnya.

  • Episkleritis nodular.

Episkleritis nodular menyebabkan peradangan mata yang lebih sakit dibandingkan jenis sederhana. Umumnya, seseorang yang mengalami episkleritis nodular memang memiliki penyakit sistemik lainnya yang terkait.

Pengobatan episkleritis

Anda tidak perlu khawatir berlebihan, karena biasanya, episkleritis dapat hilang dengan sendirinya dalam waktu 3 minggu tanpa pengobatan. Jika Anda berobat ke dokter, proses pemulihan mata bisa lebih cepat. Pengobatan episkleritis dapat melibatkan hal-hal berikut:

  • Tetes mata kortikosteroid topikal yang diberikan beberapa kali sehari.
  • Obat tetes mata pelumas untuk meredakan iritasi dan kemerahan, seperi air mata buatan.
  • Kompres dengan kantong es sebanyak 3 – 4 kali sehari.
  • Obat antiinflamasi non-steroid yang diberikan melalui mulut. Obat ini diresepkan jika episkleritis yang Anda alami sudah parah.

Cara merawat mata yang mengalami episkleritis

Sekilas, episkleritis mungkin akan terlihat mengkhawatirkan, tetapi ini adalah kondisi yang sering terjadi dan biasanya, tidak menyebabkan masalah jangka panjang. Episkleritis dapat hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu, tetapi perawatan tertentu dapat membantu mempercepat proses penyembuhannya.

Selama proses penyembuhan mata dari episkleritis, cobalah untuk melindungi mata Anda dari cahaya terang, menggunakan obat tetes mata yang dijual di apotek untuk menenangkan mata, serta kompres dengan kantung es bagian mata yang terkena.

Cara ini dapat Anda lakukan di rumah meskipun tanpa berobat ke dokter. Jika tidak dilakukan perawatan atau dibiarkan saja, mungkin Anda akan merasakan ketidaknyamanan saat melakukan aktivitas sehari-hari.

Tidak jarang, mata merah akibat episkleritis ini mengurangi kepercayaan diri Anda saat bertemu dengan orang banyak di luar rumah. Anda bisa menggunakan kacamata hitam selama menunggu mata Anda pulih.

Mengingat penyebab episkleritis hingga saat ini belum jelas, tidak ada upaya untuk mencegah penyakit ini. Jika Anda memang memiliki riwayat penyakit sistemik lainnya dan mengalami episkleritis, maka penyebabnya mungkin dikaitkan dengan penyakit yang Anda alami tersebut.

Catatan dari SehatQ

Jika episkleritis yang Anda alami masih kategori sederhana, maka lakukanlah upaya perawatan di rumah untuk membantu proses pemulihannya. Namun, jika episkleritis yang Anda alami sangat sakit hingga tidak nyaman melakukan aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya Anda mengunjungi dokter untuk mendapatkan pengobatan lebih dan mempercepat proses penyembuhannya.

Kardiomiopati Hipertrofi, Ketika Otot Jantung Menebal

Kardiomiopati hipertrofi adalah penyakit dimana otot jantung Anda menjadi tebal secara tidak normal (hipertrofi). Otot jantung yang menebal dapat mempersulit jantung Anda untuk memompa darah.

Kardiomiopati hipertrofi sering tidak terdiagnosis karena banyak orang dengan penyakit ini hanya memiliki sedikit gejala, jika ada, dan dapat menjalani hidup normal tanpa masalah yang serius. Namun, pada sejumlah kecil penderita kardiomiopati hipertrofi, otot jantung yang menebal dapat menyebabkan sesak nafas, nyeri dada, atau masalah pada sistem kelistrikan jantung, yang mengakibatkan irama jantung abnormal yang mengancam jiwa (aritmia) atau kematian mendadak.

Tanda dan gejala kardiomiopati hipertrofi dapat mencakup satu atau beberapa hal berikut:

  • Nyeri dada, terutama saat berolahraga
  • Pingsan, terutama selama atau setelah berolahraga atau beraktivitas
  • Murmur jantung, yang mungkin dideteksi oleh dokter saat mendengarkan jantung Anda
  • Sensasi detak jantung yang cepat, berdebar-debar atau berdebar-debar (palpitasi)
  • Sesak nafas, terutama saat berolahraga

Kardiomiopati hipertrofi biasanya disebabkan oleh gen abnormal (mutasi gen) yang menyebabkan otot jantung Anda tumbuh tebal secara tidak normal. Pada kebanyakan orang dengan kardiomiopati hipertrofi, dinding otot (septum) antara dua ruang bawah jantung (ventrikel) menjadi lebih tebal dari biasanya. Akibatnya, dinding yang lebih tebal bisa menghalangi aliran darah keluar dari jantung. Ini disebut kardiomiopati hipertrofi obstruktif.

Jika tidak ada penyumbatan aliran darah yang signifikan, kondisi ini disebut kardiomiopati hipertrofi non obstruktif. Namun, ruang pompa utama jantung (ventrikel kiri) bisa menjadi kaku. Hal ini membuat jantung Anda sulit untuk rileks dan mengurangi jumlah darah yang dapat ditahan dan dikirim oleh ventrikel ke tubuh dengan setiap detak jantung. 

Kardiomiopati hipertrofi biasanya diturunkan melalui keluarga. Jika Anda memiliki orang tua dengan kardiomiopati hipertrofi, Anda memiliki kemungkinan 50% mengalami mutasi genetik untuk penyakit tersebut. Orang tua, anak-anak, atau saudara kandung dari penderita kardiomiopati hipertrofi harus bertanya kepada dokter tentang skrining penyakit tersebut. Kardiomiopati hipertrofi juga bisa didapat akibat tekanan darah tinggi atau penuaan. Namun, dalam kasus lain, penyebab kardiomiopati hipertrofi tidak diketahui.

Tidak ada pencegahan yang diketahui untuk kardiomiopati hipertrofi. Tetapi penting untuk mengidentifikasi kondisinya sedini mungkin untuk mendapatkan pengobatan dan mencegah terjadinya komplikasi.

Sejumlah kondisi dapat menyebabkan sesak nafas dan jantung berdebar-debar. Penting untuk mendapatkan diagnosis yang cepat, akurat, dan perawatan yang tepat. Temui dokter Anda jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan kardiomiopati hipertrofi atau gejala apapun yang terkait dengan kardiomiopati hipertrofi.

Mengenal Antibiotik Aminoglikosida

Dalam mengatasi berbagai penyakit atau infeksi bakteri, biasanya dokter memberikan antibiotik kepada pasien. Dalam praktiknya, bukan tidak mungkin dokter merekomendasikan jenis aminoglikosida apabila ditemukan kasus yang cenderung tak tertangani jika menggunakan antibiotik lini pertama.

Aminoglikosida sendiri adalah golongan antibiotik yang kerap digunakan untuk mengobati infeksi bakteri kategori berat. Biasanya, jenis tersebut diberikan dokter apabila tubuh pasien cenderung bereproduksi dengan cepat atau dapat dikatakan sulit ditangani dengan obat-obat yang sebelumnya dikonsumsi.

Pada beberapa kesempatan, dokter mencantumkan aminoglikosida apabila infeksi disebabkan oleh bakteri gram negatif. Meski demikian, jenis tersebut juga disebut-sebut efektif untuk sekian bakteri gram positif, contohnya seperti staphylococci.

Proses kerja antibiotik tersebut adalah dengan menghambat produksi protein yang dibutuhkan bakteri dalam hal berkembang biak atau bertahan hidup. Selain itu, karena aminoglikosida merupakan antibiotik bakterisidal, maka disebut dapat membunuh bakteri secara langsung.

Di pasaran sendiri, aminoglikosida memiliki ragam jenis produk, seperti Streptomycin, Framycetin, Tobramycin, Kanamycin, Amikacin, Dibekacin, Gentamicin, Neomycin, Paromomycin, Ribostamycin, Sisomicin, Isepamicin dan lain sebagainya.

Meski demikian, biasanya beragam jenis tersebut juga tak bisa digunakan untuk semua jenis infeksi bakteri. Misalnya, Streptomycin yang diperuntukkan untuk pasien pengidap penyakit TBC. Walau begitu, saat ini penggunaan tersebut relatif jarang digunakan lagi dengan alasan toksisitas dan ketidaknyamanan ketika pemberian.

Di sisi lain, pembaca yang membutuhkan antibiotik aminoglikosida juga perlu memperhatikan beberapa hal sebelum menggunakannya. Karena obat ini diresepkan oleh dokter, maka sebelum itu anda harus memberikan informasi medis sedetail-detailnya.

Terkait itu, yang dimaksud adalah apakah anda memiliki alergi terhadap sulfit atau suatu kandungan yang kerap ditemukan dalam buah kering. Lalu, menderita gangguan ginjal, gerakan mata yang tidak terkontrol, masalah pendengaran dan masalah pada keseimbangan.

Berikutnya adalah sudah berusia 65 tahun atau lebih. Lalu, dalam situasi memiliki bayi yang juga mempunyai masalah infeksi berat dan diberikan aminoglikosida oleh dokter. Selanjutnya, kondisi jika anda menderita penyakit yang dapat mempengaruhi saraf dan otot, contohnya multiple sclerosis dan myasthenia gravis.

Di sisi lain, pemberian antibiotik aminoglikosida pada pasien yang mengidap penyakit mitokondria juga tidak dianjurkan karena dapat mengakibatkan pasien mengalami gangguan terjemahan mtDNA.

Kemudian hal yang perlu diperhatikan, disarankan aminoglikosida tidak dikonsumsi bagi perempuan yang sedang hamil. Saran tersebut mengingat terdapat bukti positif antibiotik tersebut berisiko untuk janin manusia. Oleh sebab itu, bagi ibu hamil yang dalam pengobatan infeksi diminta mengkonsumsi jenis ini, sangat dianjurkan untuk berdiskusi dengan dokter terkait keamanannya.

Kondisi-kondisi yang sudah dijabarkan di atas, jika pembaca memilikinya, sebaiknya disampaikan kepada dokter sejujur-jujurnya dan selengkap-lengkapnya sebelum menerima resep aminoglikosida. Hal ini dikarenakan obat tersebut juga berisiko menimbulkan reaksi alergi bagi sebagian orang.

Selanjutnya, sebagai indikasi aminoglikosida pada umumnya merupakan antibiotik yang digunakan untuk terapi infeksi serius pada saluran pencernaan, infeksi saluran kemih, dan infeksi saluran pernapasan.

Dari penjelasan-penjelasan di atas, kita dapat mengetahui secara umum bahwa antibiotik aminoglikosida merupakan obat yang diperuntukkan bagi pasien yang sedang mengalami infeksi berat. Di sisi lain, juga memiliki beragam merek produk dan tentunya diproduksi berdasarkan pengobatan infeksi yang berbeda-beda.

Selanjutnya, sebelum mengkonsumsi aminoglikosida sebagai obat, sangat disarankan pembaca memberikan informasi rekam medis sedetail-detailnya, mengingat antibiotik jenis tersebut juga bisa menimbulkan risiko alergi.

Terakhir, yang perlu diingat dan dicatat adalah kita tidak boleh mengkonsumsi aminoglikosida secara sembarangan, bahkan mengatur dosisnya sendiri. Daripada terjadi yang tidak-tidak, sebelum mengkonsumsi antibiotik itu sebaiknya sesuai dengan anjuran dokter dan memang obat tersebut baru diberikan sebagaimana dengan resep yang dikeluarkan dokter.