Depresi dan Gangguan Cemas pada Generasi Milenial

Generasi milenial mengubah cara orang memandang kesehatan mental. Lebih dari itu, generasi ini mendorong orang untuk membicarakan kesehatan mental. Persoalan yang sebetulnya dekat dan bisa dialami siapa saja, namun dalam kurun waktu yang panjang dianggap tabu untuk dibicarakan.

Memang benar, kasus depresi dan anxiety meningkat drastis di kalangan generasi milenial. Namun, hal ini terjadi karena generasi milenial merupakan generasi pertama yang tidak sungkan membicarakan tentang pergulatan mereka dengan gangguan mental. Harapannya, tidak ada lagi stigma terhadap orang dengan gangguan kesehatan mental.

Kesehatan mental generasi milenial

Depresi dan kecemasan merupakan dua jenis gangguan mental yang umum ditemui pada generasi milenial. Tekanan finansial, kesepian, keinginan menjadi sempurna, serta kelelahan di tempat kerja, merupakan beberapa faktor utama yang meningkatkan gangguan kesehatan mental pada generasi ini.

Mari kita bahas satu per satu faktor-faktor tersebut!

1. Generasi milenial tertekan secara finansial

Sebagian besar milenial merasakan tekanan, antara harus menyiapkan keuangan untuk hidup saat ini serta bertanggung jawab atas kebutuhan keuangan di masa depan. Sementara, diketahui bahwa kebanyakan milenial tidak memiliki dana pensiun.

Generasi milenial sibuk melunasi utang dan selalu ada di bawah tekanan untuk membeli rumah. Kerap kali, generasi ini dibandingkan dengan generasi sebelumnya, yang rata-rata sudah memiliki rumah di usia yang sama.

Perlu dipahami juga, generasi milenial tumbuh dalam atau setelah krisis ekonomi. Di mana biaya hidup semakin mahal. Walaupun gaya hidup juga memegang peranan penting dalam pengelolaan finansial ini.

Tekanan atau kesulitan finansial ini dapat berujung menjadi tekanan psikologis. Otak akan mengalami peradangan akut sebagai respons terhadap kesulitan finansial yang dialami.

Situasi ini berpotensi menimbulkan hubungan yang tidak baik dengan teman atau keluarga, konflik di tempat kerja, dan tekanan sosial. Semua hal tersebut dapat menjadi pemicu terjadinya depresi dan gangguan kecemasan.

2. Kelelahan di tempat kerja

Kelelahan dan tekanan di tempat kerja juga berkontribusi besar pada munculnya gangguan kesehatan mental di kalangan milenial. Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa 50% generasi milenial meninggalkan pekerjaan karena alasan kesehatan mental.

Hal ini juga sangat erat kaitannya dengan tekanan finansial. Kebanyakan milenial bekerja keras demi memenuhi ekspektasi, baik pribadi maupun lingkungan sekitar, terkait kemapanan finansial.

Lagi-lagi, situasi ini dapat berakhir menjadi depresi dan gangguan kecemasan.

3. Merasa kesepian

Dibandingkan generasi sebelumnya, generasi milenial cenderung lebih merasa kesepian. Setidaknya, sekitar 30% dari milenial hampir selalu merasa kesepian.

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa 1 dari 5 orang milenial mengaku tidak memiliki teman, 27% di antaranya mengaku tidak memiliki teman dekat, dan 30% mengaku tidak memiliki sahabat atau ‘best friend’.

Keberadaan media sosial turut menyumbang pada munculnya rasa kesepian ini. Generasi milenial diketahui banyak menghabiskan waktu untuk mengakses media sosial. Aktivitas ini, tanpa disadari, membuat para milenial jarang berinteraksi dengan orang di dunia nyata. Akibatnya, para milenial kerap merasa kesepian.

Kesepian dan isolasi sosial merupakan dua di antara berbagai pemicu utama depresi. Kondisi ini juga bisa sekaligus gejala dari depresi itu sendiri.

Seseorang yang mengalami depresi dapat merasa kesepian, meskipun ada orang di sekitarnya. Sebab kesepian merupakan perasaan internal yang memiliki kaitan erat dengan rendahnya self esteem.

Generasi milenial yang merasa sangat kesepian umumnya memiliki kesehatan fisik yang tidak baik, mengalami depresi, kesulitan membuat keputusan, merasakan stres, berpotensi menyalahgunakan alkohol atau obat-obatan terlarang, hingga memiliki dorongan untuk bunuh diri.

Bagi Anda, baik generasi milenial atau bukan, jika merasakan ada gangguan kesehatan mental yang dialami, atau sesederhana sering merasa kesepian, segeralah berkonsultasi dengan professional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *