Hati-hati Efek Samping Haloperidol

Haloperidol adalah obat yang digunakan untuk merawat beberapa gangguan mental atau suasana hati tertentu, seperti schizophrenia. Obat ini dapat membantu Anda untuk berpikir dengan lebih jelas, tidak gugup, sehingga Anda dapat beraktivitas dengan lebih baik setiap harinya. Haloperidol juga dapat membantu mencegah potensi bunuh diri pada orang-orang yang sering melukai diri sendiri, mengurangi agresi dan keinginan untuk melukai orang lain, dan mengurangi pikiran-pikiran dan halusinasi negatif. Haloperidol juga dapat digunakan untuk merawat gerakan atau pembicaraan (baik kata ataupun suara) tidak terkontrol pada orang-orang yang menderita sindrom Tourette. Selain itu, haloperidol juga digunakan untuk gangguan perilaku parah pada anak-anak hiperaktif apabila perawatan dan obat-obatan lain tidak efektif bekerja. Haloperidol merupakan obat psikriatik jenis anti-psikotik yang bekerja dengan cara membantu mengembalikan keseimbangan zat-zat alami tertentu yang ada di otak (neurotransmitter). Meskipun banyak manfaatnya, ada beberapa efek samping haloperidol yang perlu diketahui. Artikel ini akan membahas hal tersebut.

Efek samping haloperidol salah satunya adalah menyebabkan kantuk. Selain itu, haloperidol dapat memengaruhi sistem saraf pusat (kecemasan, rasa lelah, dan gangguan tidur), gastrointestinal (konstipasi atau diare dan mual atau muntah), efek hormon (menurunnya kemampuan seksual, siklus menstruasi bulanan yang berubah, dan meningkatnya level prolactin), serta efek anticholinergic (mulut kering, pandangan yang kabur, bertambahnya berat badan, dan berkurangnya sensitivitas terhadap panas atau dingin). Haloperidol juga dapat menyebabkan efek samping yang serius, seperti sakit dan pembengkakan payudara atau produksi ASI (hanya terjadi pada wanita) yang tidak biasa; kesulitan buang air kecil, atau hilangnya kontrol kandung kemih secara tiba-tiba; pusing, demam, menggigil, radang tenggorokan, kejang, dan ruam kulit; gejala-gejala pergerakan (extrapyramidal) seperti gemetar, kaku, gerakan yang lambat, gelisah, bentuk otot yang tidak normal, dan gerakan memutar pada kepala, leher, dan lidah.

Efek samping haloperidol juga dapat menyebabkan juga dapat menyebabkan tardive dyskinesia, yaitu sebuah gangguan pergerakan yang ditunjukkan dengan gejala seperti gerakan lidah atau mengunyah dan gerakan kaki yang tidak terkontrol dan terjadi secara terus-menerus. Efek samping serius lain juga melibatkan dystonia, sebuah gerakan tidak normal dan kontraksi berkepanjangan yang disebabkan karena gangguan bentuk otot. Gejala dystonia di antaranya adalah kejang otot tidak terkontrol pada bagian wajah, tangan, lengan, atau kaki; gerakan tubuh yang memutar; kesulitan bernapas; kesulitan berbicara dan menelan; serta kesulitan berjalan dan kehilangan keseimbangan. Haloperidol juga dapat menyebabkan gangguan kardiovaskular, seperti tekanan darah rendah, detak jantung tidak teratur, dan kelelahan. Jaundice, yaitu berubahnya warna kulit dan bagian putih mata menjadi kuning serta infeksi paru-paru bernama bronchopneumonia juga merupakan beberapa efek samping haloperidol lainnya.

Dengan mengetahui efek samping haloperidol di atas, tentunya konsumsi obat ini harus mengikuti dosis dan resep yang direkomendasikan oleh dokter. Dosis, bentuk, dan seberapa sering Anda perlu mengonsumsi haloperidol akan bergantung pada usia, kondisi gangguan yang dirawat, seberapa parah kondisi tersebut, obat-obatan lain yang sedang Anda konsumsi (karena efek samping haroperidol lain adalah adanya interaksi negatif dengan obat lain), dan bagaimana tubuh Anda berekasi dengan dosis pertama. Pada orang dewasa usia 18 hingga 54 tahun, dosis biasanya berkisar antara 0,5-5 mg 2 hingga 3 kali sehari, dengan dosis maksimal perhari adalah 100 mg. Untuk anak usia 3-12 tahun (dengan berat 15-40kg) dosis harian yang direkomendasikan adalah 0,05 hingga 0,15 mg per kilogram berat badan per hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *