Entrostop Anak untuk Usia Berapa?

Entrostop Anak kerap menjadi pilihan orangtua untuk mengatasi diare pada anak. Diare merupakan kondisi yang sering terjadi pada anak-anak, bahkan sejak usia bayi di bawah satu tahun sekalipun.

Namun penggunaan Entrostop untuk anak tidak bisa untuk segala usia. Simak penjelasannya berikut ini.

Entrostop dapat digunakan untuk anak usia berapa?

Entrostop anak merupakan obat herbal berbentuk cair atau sirup yang berfungsi mengatasi gejala diare pada anak. Kombinasi kandungan ekstrak daun teh, daun jambu biji, jahe, dan kunyit yang ampuh mengurangi frekuensi buang air besar dan melawan infeksi virus dan mencegah dehidrasi akibat diare. 

Bahan-bahan herbal pilihan tersebut aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Dengan rasa jambu biji yang manis, anak-anak tetap dapat mengonsumsinya dengan enak dan nikmati. 

Meskipun diare bisa terjadi pada anak-anak hingga bayi, namun Entrostop anak tidak disarankan untuk diberikan pada anak-anak berusia di bawah 6 tahun.

Obat herbal ini hanya dianjurkan pemakaiannya untuk anak usia 6-12 tahun dan juga orang dewasa. Apabila anak Anda masih berusia di bawah 6 tahun, sebaiknya periksakan ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Hal ini disebabkan kandungan di dalam obat herbal tersebut masih belum cocok untuk pencernaan pada bayi di bawah usia 5 tahun. Salah satunya adalah ekstrak daun jambu biji.

Daun jambu biji sudah sejak dulu digunakan sebagai obat tradisional untuk masalah pencernaan seperti mencret dan diare. Beberapa studi pendukung juga menyebutkan bahwa ekstrak daun jambu biji bersifat antibakteri, sehingga ampuh mengatasi bakteri yang menyebabkan diare. 

Penyebab diare pada anak

Diare merupakan kondisi di mana feses berbentuk cair sehingga menyebabkan anak harus bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air besar. Kondisi ini umum dan jarang terjadi dalam waktu lama.

Akan tetapi jika diare tidak selesai juga setelah lebih dari 2 hari, maka bisa jadi menandakan diare kronis yang lebih serius. Biasanya diare kronis disebabkan oleh penyakit lain seperti iritasi usus atau penyakit Celiac.

Diare dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini:

  • Infeksi bakteri
  • Infeksi virus
  • Sulit mencerna atau intoleransi makanan
  • Respons sistem imun pada makanan tertentu atau alergi makanan
  • Reaksi terhadap obat-obatan
  • Penyakit usus, misalnya penyakit radang usus
  • Parasit yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau air
  • Masalah pada fungsi pencernaan, seperti iritasi usus
  • Operasi pada perut

Anak-anak yang mengunjungi negara lain juga berisiko mengalami diare pelancong. Biasanya disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang tidak bersih dan terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit.

Di Indonesia sendiri, diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi. Pada tahun 2008 bahkan terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) pada 69 kecamatan dengan jumlah kasus sebanyak 8,133 orang, kematian sebanyak 239 orang.

Diikuti pada tahun 2009 di mana terjadi KLB di 24 kecamatan dengan jumlah kasus sebanyak 5.756 orang dan kematian 100 orang. Kemudian di tahun 2010 terjadi KLB di 33 kecamatan dengan jumlah kasus sebanyak 4.204 orang dan angka kematian mencapai 73 orang. 

Data tersebut menunjukkan bahwa diare, meskipun umum dan dapat sembuh dengan sendirinya, tetap tidak bisa diremehkan. Kementerian Kesehatan memastikan penyebab utama kematian akibat diare adalah kebersihan yang tidak tepat di rumah maupun di sarana kesehatan.

Oleh karena itu, kita perlu mengatasi diare dengan tepat, bisa dengan menggunakan obat seperti Entrostop Anak atau obat lainnya yang dianjurkan dokter. Yang tidak kalah pentingnya adalah juga melakukan pencegahan terhadap segala penyebab diare.