Cara Mengobati Sperma Berwarna Kuning

Sperma berwarna kuning pada umumnya tidak menimbulkan kekhawatiran. Tetapi jika timbul gejala lain, seperti demam atau nyeri saat buang air kecil atau ejakulasi, maka Anda harus segera memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan dari dokter.

Penyebab Sperma Berwarna Kuning

Cairan sperma atau air mani pada umumnya berwarna abu-abu keputihan. Akan tetapi, ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan sperma berwarna kuning. Berikut penyebab sperma berwarna kuning yang perlu Anda waspadai.

  • Terdapat urin di dalam air mani: Air mani mengalir melalui uretra, yang merupakan tabung yang sama yang dilalui oleh urin. Ada kemungkinan beberapa urin berwarna kuning dapat bercampur dengan air mani, yang akan memberikan warna kuning pada air mani.
  • Penyakit kuning: Hal ini bisa terjadi ketika organ hati mengalami kesulitan memecah zat bilirubin, yaitu produk sampingan dari penghancuran sel darah merah. Penyakit kuning juga dapat mata menjadi tampak menguning, tetapi juga dapat menyebabkan kulit dan air mani berwarna kuning.
  • Tingginya jumlah sel darah putih: Peradangan dapat menghasilkan sel darah putih yang berlebih. Hal tersebut dapat dilepaskan melalui air mani, suatu kondisi yang dikenal sebagai pyospermia atau leukocytospermia. Sel darah putih tambahan dapat menyebabkan sperma berwarna kuning, yang bisa menjadi hasil dari infeksi.
  • IMS: Infeksi menular seksual, seperti klamidia, herpes, atau gonore dapat menyebabkan sperma berwarna kuning. Dalam hal ini, air mani pria mungkin juga memiliki bau yang tidak sedap.
  • Perubahan pola makan: Makan makanan yang mengandung pewarna juga dapat menyebabkan air mani menjadi berwarna kuning. Bau ejakulasi juga dapat berubah jika seorang pria baru saja makan makanan berbau tajam, seperti bawang putih, bawang merah, asparagus, atau brokoli.
  • Ejakulasi yang jarang: Jika seorang pria tidak mengalami ejakulasi dalam beberapa waktu; maka air mani dapat bercampur dengan urin.

Kapan Harus Menemui Dokter?

Sementara sperma berwarna kuning muda biasanya tidak perlu dikhawatirkan, ada saat-saat ketika seorang pria harus menemui dokter karena sperma berwarna kuning, terutama jika air maninya sudah berwarna kuning tua.

Anda harus menghubungi penyedia layanan kesehatan atau dokter jika Anda mengalami sperma berwarna kuning dan gejala seperti berikut ini.

  • Sakit perut.
  • Kelelahan yang ekstrim .
  • Air mani atau sperma berbau busuk.
  • Sering buang air kecil atau buang air kecil menjadi terasa sakit .
  • Nyeri punggung di bagian bawah.
  • Terasa menyakitkan saat ejakulasi.
  • Muncul tanda-tanda infeksi seperti demam dan menggigil.
  • Kulit atau mata menjadi kuning (jaundice).

Pengobatan Sperma Berwarna Kuning

Perawatan atau pengobatan akan tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Jika infeksi menyebabkan air mani kuning, dokter dapat memberi resep antibiotik atau obat anti-virus.

Jika seorang pria memiliki sperma berwarna kuning yang konsisten dengan kemungkinan infeksi, ia harus menahan diri melakukan hubungan seksual sampai dokter dapat memeriksanya apakah ada tanda terjadi infeksi. Jika tidak menahan hubungan seksual, ia berpotensi menularkan infeksi ke pasangannya.

Selain itu, juga dapat dilakukan mencoba untuk mengurangi jumlah pewarna buatan dalam makanannya. Minum lebih banyak air juga dapat membantu mengatasi sperma berwarna kuning.

Banyak faktor dan kondisi yang dapat mengubah sperma yang biasanya berwarna putih keabu-abuan menjadi berwarna kuning. Perubahan warna ini juga bisa bersifat sementara atau permanen. Seringkali, kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan. Namun terkadang, sperma berwarna kuning menandakan adanya masalah. Jika Anda tidak yakin mengapa warnanya berubah, segera berkonsultasi kepada dokter, terutama jika Anda mengalami gejala lain.

Jenis-Jenis Hormon Menstruasi Ini Pengaruhi Proses Haid

Lancar tidaknya proses menstruasi dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk kondisi emosional (tingkat stress), serta fisik. Selain dua hal ini, ternyata ada peranan hormon menstruasi untuk membuat siklusnya berjalan lancar. Anda sebaiknya memiliki kadar hormon yang seimbang, dalam artian, tidak bisa terlalu rendah maupun terlalu sedikit. Hormon yang imbang menghindarkan anda dari gangguan-gangguan yang mungkin muncul selama masa haid. 

Hormon Apa Saja yang Mempengaruhi Proses Haid?

Selama menstruasi, setidaknya ada 4 hormon yang membantu kelancaran prosesnya. Hormon yang dimaksud adalah:

  1. Progesteron
  2. Estrogen
  3. Luteinizing Hormon
  4. Follicle Stimulating Hormon

Empat hormon tersebut bekerja selama siklus ovulasi, luteal, folikuler, serta menstruasi. 

1. Progesteron

Saat siklus luteal terjadi, progesteron mengambil peranan penting. Hormon satu ini bekerja mengontrol kekuatan dinding rahim. Struktur dinding rahim yang kuat tentu dibutuhkan untuk menjaga janin di dalam perut ibu. Progesteron pun tidak sendirian, hormon satu ini berkolaborasi dengan estrogen untuk menciptakan kondisi ‘tenang’ pada wanita, sehingga efek stress pun bisa diminimalisir. 

2. Estrogen

Fase luteal pada proses menstruasi ternyata tidak hanya membutuhkan bantuan hormon progesteron, namun juga estrogen. Pada saat siklus ini berlangsung, terjadi peluruhan lapisan dinding rahim yang mulanya menebal. Inilah kemudian yang disebut sebagai darah menstruasi. Nah, sesaat setelah dinding rahim ini luruh, level estrogen maupun progesteron pun akan turun. Ini karena tubuh tidak lagi membutuhkannya untuk menebalkan uterus (dinding rahim)

3. Luteinizing Hormon

Hormon ini membantu pelepasan sel telur yang sudah matang untuk bertransformasi menuju rahim. Anda juga bisa menyebut proses ini sebagai masa ovulasi. Nah, setelah prosesnya selesai, kemudian dilanjutkan dengan fase luteal. Fase luteal akan menaikkan level estrogen dan progesteron, sehingga siklus menstruasi pun terjadi. 

4. Follicle Stimulating Hormone

Hormon in punya peranan penting untuk memancing folikel mematangkan sel telur. Sesuai dengan namanya, hormon folikel ini terjadi pada fase folikuler. Pada prosesnya, akan terjadi penebalan dinding rahim. Fase ini akan berlangsung dalam waktu sekitar 16 hari. 

5. Testosteron

Meski hormon testosteron berjumlah lebih rendah pada wanita, namun hormon ini penting untuk membantu fase menstruasi. Pada fase ovulasi, hormon testosteron semakin meningkat kadarnya. Testosteron punya peranan penting untuk menguatkan masa otot, memperkuat tulang, serta menambah gairah seks. 

Apa yang Terjadi Bila Hormon Menstruasi Tidak Seimbang?

Berbagai efek samping bisa terjadi bila anda kelebihan atau kekurangan hormon menstruasi. Salah satu yang paling terlihat adalah ketidaklancaran siklus menstruasi anda. 

Saat hal ini terjadi, anda sebaiknya juga mengecek apakah tubuh anda kemungkinan mengalami beberapa hal berikut:

1. Kehilangan Berat Badan Secara Ekstrim

proses menstruasi yang tidak lancar juga disebabkan oleh turunnya berat badan secara mendadak. Akibatnya, tubuh anda akan mengalami stress sehingga peredaran darah pun juga terganggu. 

2. Kehamilan

Proses menstruasi yang semakin tidak teratur merupakan salah satu penanda kehamilan. Pastikan untuk mencatat masa subur dan periode menstruasi bulanan anda supaya tindakan lebih lanjut bisa diambil. Anda bisa lakukan tes mandiri dengan test pack kehamilan untuk memperoleh hasil yang pasti. 

3. Pelvic Inflammatory Disease (PID)

PID merupakan kondisi dimana sistem reproduksi seorang wanita terganggu. Gejalanya ditandai dengan pendarahan tidak wajar yang terjadi selama masa menstruasi. Sebaiknya anda berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui perbedaan pendarahan PID atau menstruasi itu sendiri. Anda kemungkinan akan disarankan mengonsumsi antibiotik untuk menghentikan gejalanya.

Ciri-ciri Miom, Kista, dan Endometriosis: Jangan Tertukar!

Organ reproduksi wanita memiliki berbagai macam risiko dan ancaman kesehatan. Penyebab dan jenisnya banyak sekali. Masing-masing ancaman kesehatan itu bahkan punya dampaknya sendiri-sendiri. Dari kelompok besar penyakit organ reproduksi wanita, miom, kista, dan endometriosis bisa dibilang paling populer. Penting bagi seorang wanita mengenali ciri ciri miom, kista, dan endometriosis agar tak keliru saat meminta pertolongan dokter.

Pasalnya, ketiga jenis penyakit yang kerap menyerang perempuan ini memiliki gejala yang hampir serupa. Salah satu contohnya adalah ketiganya sama-sama menimbulkan sensasi sakit di daerah pinggul hingga perut bagian bawah, pendarahan pada urine, hingga berbagai komplikasi lain pada sistem infertilitas.

Berdasarkan pengertiannya, dapat diketahui jika ketiganya sudah terlihat berbeda. Apalagi jika merujuk pada apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh penderita. Secara sederhana, miom dapat dijelaskan sebagai adalah tumor jinak yang tumbuh dari otot rahim. Sementara kista adalah kantung yang terisi cairan yang mungkin menjangkiti salah satu ataupun kedua saluran rahim wanita atau ovarium.

Adapun adalah kondisi ketika jaringan yang membentuk lapisan dalam dinding rahim tumbuh di luar rahim. Jaringan yang disebut endometrium ini dapat tumbuh di indung telur, usus, tuba falopi (saluran telur), vagina, atau di rektum (bagian akhir usus yang terhubung ke anus).  

Normalnya, endometrium akan menebal sebagai tempat untuk menempelnya sel telur yang sudah dibuahi. Bila tidak dalam kondisi hamil, endometrium tersebut akan luruh, lalu keluar dari tubuh sebagai darah menstruasi. Akan tetapi pada kasus endometriosis, jaringan endometrium di luar rahim tersebut juga ikut menebal, tetapi tidak dapat luruh dan keluar dari tubuh. Kondisi tersebut dapat menimbulkan keluhan nyeri, bahkan dapat menyebabkan kemandulan atau infertilitas wanita.

Seseorang paling mudah mengenali ciri ciri miom, kista, dan endometriosis tentu saja dari gejala yang timbul. Gejala miom tergantung ukuran dan letak mioma. Bisa tidak bergejala sampai terasa nyeri di panggul, rasa penuh di bagian perut sehingga panggul dan saluran indung telur terasa ditekan, konstipasi, dan gangguan perdarahan saat tidak dalam periode menstruasi.

Seseorang bisa mulai curiga tengah mengalami kista jika merasakan nyeri saat buang air kecil, sering buang air kecil, siklus menstruasi yang berubah, perut kembung, hingga mengalami mual dan muntah seperti saat sedang hamil. Pasalnya, kondisi-kondisi tersebut termasuk ke dalam gejala kista.

Sementara itu, gejala yang dibawa endometriosis biasanya hampir sama dengan dua kondisi sebelumnya, untuk sebagian yang mengalami gangguan endometriosis akan merasa nyeri panggul yang lebih hebat selama menstruasi, sakit saat berhubungan intim, dan sakit saat buang air besar.

Informasi mengenai gejala atau ciri-ciri ketiga kondisi tersebut sebenarnya dapat membantu tugas dokter yang akan melakukan pemeriksaan. Ketika seseorang mengeluhkan kondisi-kondisi yang disebutkan di atas, seharusnya dia sudah mampu mengindikasikan satu kondisi yang spesifik. Maksudnya, dia setidaknya sudah punya kecurigaan terhadap satu masalah kesehatan reproduksi tersebut. Misalnya, ketika dia mengalami ciri ciri miom dia tinggal menginformasikannya ke dokter sehingga dokter bisa langsung fokus menindaklanjuti keluhan dari pasien.

Diagnosis yang cepat dan tepat, bisa menentukan nasib penderita di kemudian hari. Sebab, ketiga kondisi ini amat berkaitan dengan masalah-masalah fertilitas atau kesuburan. Ketiga kondisi ini bisa membuat seorang wanita sulit hamil. Oleh sebab itu, informasi mengenai perbedaan ketiga kondisi ini, utamanya perihal ciri ciri miom, kista, dan endometriosis, amat berguna bagi setiap wanita usia produktif.