Waspada! Ini Bahaya Es Batu Kalau Terlalu Sering Dikonsumsi

Bahaya es batu jika terlalu sering dikonsumsi bisa berakibat pada kesehatan, salah satunya yakni menimbulkan gangguan seperti anemia. 

Mengunyah es batu memang menjadi kebiasaan yang menyenangkan, apalagi saat cuaca sedang panas. Es batu bisa menyegarkan tenggorokan kita. Jika kamu tidak bisa hidup tanpa mengunyah es batu, bisa jadi hal tersebut adalah tanda kamu menderita pagophagia, kondisi di mana kamu mengonsumsi es batu secara berlebihan.

Mengonsumsi es batu bisa jadi tanda kalau kamu kekurangan nutrisi, lho! Selain menyebabkan anemia, mengunyah es batu secara berlebihan juga bikin masalah pada gigi.

Konsumsi es batu tanda terkena gangguan?

Mengonsumsi es batu terlalu sering ternyata juga bisa menjadi pertanda ada gangguan dalam kesehatan. 

Anemia defisiensi besi

Mengonsumsi es batu terlalu sering biasanya berhubungan dengan gangguan anemia defisiensi besi. Penderita anemia defisiensi besi tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat, sehingga tugas sel darah merah untuk membawa oksigen ke tubuh tidak bisa terpenuhi. Hal ini bisa berakibat tubuh jadi merasa lelah dan sesak napas. 

Menurut beberapa ahli, dengan mengunyah es batu, bisa memicu mengirim lebih darah ke otak sehingga oksigen di dalam otak penderita anemia bisa tercukupi. Berdasarkan studi pada penderita anemia defisiensi besi, penderita yang mengunyah es batu menjadi lebih baik dibanding penderita yang tidak mengunyah es batu. Inilah alasan mengapa orang yang menderita anemia sering mengonsumsi es batu. 

Pica

Pica merupakan kelainan makan yang dialami oleh seseorang. Biasanya penderita akan makan hal-hal tidak biasa seperti makan es batu hingga salju. Bisa dibilang pica merupakan gangguan mental yang harus segera diatasi. Dalam beberapa kasus, pica juga bisa dialami pada ibu hamil. 

Bahaya es batu untuk kesehatan

Berikut beberapa bahaya es batu untuk kesehatan kita jika terlalu berlebihan dikonsumsi. 

Masalah gigi

Mengonsumsi es batu secara berlebihan bisa membahayakan kesehatan, termasuk organ-organ tubuh seperti gigi. Meski gigi tidak langsung rusak, namun jika kamu mengonsumsi es batu setiap hari, maka lama-lama enamel gigi akan hancur.

Padahal, enamel gigi merupakan bagian terkuat yang melindungi gigi dari kerusakan. Ketika enamel gigi terkikis, maka gigi bagian dalam bisa sensitif pada zat yang dingin dan panas. Selain itu, bisa meningkatkan risiko gigi berlubang. 

Berdasarkan sebuah studi, seseorang yang mengunyah 30 es batu atau lebih setiap hari selama 20 tahun mengalami perubahan pada rahang serta gigi berlubang. 

Jika tidak diatasi, hal ini bisa berlanjut dan berisiko menimbulkan penyakit mengingat gigi dan mulut adalah tempat utama untuk memasukkan makanan. Jika gigi berlubang, maka akan ada bakteri yang juga ikut masuk ke dalam mulut. 

Komplikasi karena anemia

Seperti yang sudah dijelaskan di atas jika seseorang mengonsumsi es batu berlebihan bisa terjadi karena menderita anemia. Maka dari itu, jika anemia tidak segera diobati akan menjadi parah ditambah dengan kebiasaan mengonsumsi es batu. Beberapa masalah yang mungkin terjadi seperti jantung, gagal jantung, masalah kehamilan, kelahiran prematur, hingga gangguan pertumbuhan dan berkembangan pada bayi dan anak. 

Komplikasi karena Pica

Pica yang disebabkan oleh pagophagia, yakni kondisi kelainan makan bisa berbahaya dan menyebabkan komplikasi. 

Meskipun mengonsumsi es batu tidak menyebabkan kerusakan internal, namun jika penderita pagophagia mengonsumsi makanan aneh lain maka risiko terkena penyakit lain akan lebih meningkat, seperti masalah usus, usus berlubang, hingga infeksi pada usus. 

Risiko terinfeksi bakteri

Saat mengonsumsi es batu di restoran atau tempat makan lainnya, kita tidak tahu bagaimana proses pembuatan atau penyimpanannya, apakah diolah dan disimpan dengan bersih atau tidak.

Jika es batu yang dikonsumsi ternyata tidak bersih, bisa berisiko terkena kuman, virus, hingga parasit yang menyebabkan diare, hepatitis A, demam tifoid, dan kolera. 

Meningkatkan berat badan

Sering mengonsumsi es batu bisa menyebabkan kenaikan berat badan yang tidak terkendali. Hal ini akan merembet pada kesehatan kita. 

Itu dia beberapa bahaya mengonsumsi es batu. Jika kamu merupakan penderita anemia dan pica, sebaiknya segera menemui dokter agar bisa segera diatasi. Sehingga, kamu tidak perlu lagi mengonsumsi es batu yang bisa menimbulkan komplikasi.

Mengenal Antibiotik Aminoglikosida

Dalam mengatasi berbagai penyakit atau infeksi bakteri, biasanya dokter memberikan antibiotik kepada pasien. Dalam praktiknya, bukan tidak mungkin dokter merekomendasikan jenis aminoglikosida apabila ditemukan kasus yang cenderung tak tertangani jika menggunakan antibiotik lini pertama.

Aminoglikosida sendiri adalah golongan antibiotik yang kerap digunakan untuk mengobati infeksi bakteri kategori berat. Biasanya, jenis tersebut diberikan dokter apabila tubuh pasien cenderung bereproduksi dengan cepat atau dapat dikatakan sulit ditangani dengan obat-obat yang sebelumnya dikonsumsi.

Pada beberapa kesempatan, dokter mencantumkan aminoglikosida apabila infeksi disebabkan oleh bakteri gram negatif. Meski demikian, jenis tersebut juga disebut-sebut efektif untuk sekian bakteri gram positif, contohnya seperti staphylococci.

Proses kerja antibiotik tersebut adalah dengan menghambat produksi protein yang dibutuhkan bakteri dalam hal berkembang biak atau bertahan hidup. Selain itu, karena aminoglikosida merupakan antibiotik bakterisidal, maka disebut dapat membunuh bakteri secara langsung.

Di pasaran sendiri, aminoglikosida memiliki ragam jenis produk, seperti Streptomycin, Framycetin, Tobramycin, Kanamycin, Amikacin, Dibekacin, Gentamicin, Neomycin, Paromomycin, Ribostamycin, Sisomicin, Isepamicin dan lain sebagainya.

Meski demikian, biasanya beragam jenis tersebut juga tak bisa digunakan untuk semua jenis infeksi bakteri. Misalnya, Streptomycin yang diperuntukkan untuk pasien pengidap penyakit TBC. Walau begitu, saat ini penggunaan tersebut relatif jarang digunakan lagi dengan alasan toksisitas dan ketidaknyamanan ketika pemberian.

Di sisi lain, pembaca yang membutuhkan antibiotik aminoglikosida juga perlu memperhatikan beberapa hal sebelum menggunakannya. Karena obat ini diresepkan oleh dokter, maka sebelum itu anda harus memberikan informasi medis sedetail-detailnya.

Terkait itu, yang dimaksud adalah apakah anda memiliki alergi terhadap sulfit atau suatu kandungan yang kerap ditemukan dalam buah kering. Lalu, menderita gangguan ginjal, gerakan mata yang tidak terkontrol, masalah pendengaran dan masalah pada keseimbangan.

Berikutnya adalah sudah berusia 65 tahun atau lebih. Lalu, dalam situasi memiliki bayi yang juga mempunyai masalah infeksi berat dan diberikan aminoglikosida oleh dokter. Selanjutnya, kondisi jika anda menderita penyakit yang dapat mempengaruhi saraf dan otot, contohnya multiple sclerosis dan myasthenia gravis.

Di sisi lain, pemberian antibiotik aminoglikosida pada pasien yang mengidap penyakit mitokondria juga tidak dianjurkan karena dapat mengakibatkan pasien mengalami gangguan terjemahan mtDNA.

Kemudian hal yang perlu diperhatikan, disarankan aminoglikosida tidak dikonsumsi bagi perempuan yang sedang hamil. Saran tersebut mengingat terdapat bukti positif antibiotik tersebut berisiko untuk janin manusia. Oleh sebab itu, bagi ibu hamil yang dalam pengobatan infeksi diminta mengkonsumsi jenis ini, sangat dianjurkan untuk berdiskusi dengan dokter terkait keamanannya.

Kondisi-kondisi yang sudah dijabarkan di atas, jika pembaca memilikinya, sebaiknya disampaikan kepada dokter sejujur-jujurnya dan selengkap-lengkapnya sebelum menerima resep aminoglikosida. Hal ini dikarenakan obat tersebut juga berisiko menimbulkan reaksi alergi bagi sebagian orang.

Selanjutnya, sebagai indikasi aminoglikosida pada umumnya merupakan antibiotik yang digunakan untuk terapi infeksi serius pada saluran pencernaan, infeksi saluran kemih, dan infeksi saluran pernapasan.

Dari penjelasan-penjelasan di atas, kita dapat mengetahui secara umum bahwa antibiotik aminoglikosida merupakan obat yang diperuntukkan bagi pasien yang sedang mengalami infeksi berat. Di sisi lain, juga memiliki beragam merek produk dan tentunya diproduksi berdasarkan pengobatan infeksi yang berbeda-beda.

Selanjutnya, sebelum mengkonsumsi aminoglikosida sebagai obat, sangat disarankan pembaca memberikan informasi rekam medis sedetail-detailnya, mengingat antibiotik jenis tersebut juga bisa menimbulkan risiko alergi.

Terakhir, yang perlu diingat dan dicatat adalah kita tidak boleh mengkonsumsi aminoglikosida secara sembarangan, bahkan mengatur dosisnya sendiri. Daripada terjadi yang tidak-tidak, sebelum mengkonsumsi antibiotik itu sebaiknya sesuai dengan anjuran dokter dan memang obat tersebut baru diberikan sebagaimana dengan resep yang dikeluarkan dokter.