Mengenal Antibiotik Aminoglikosida

Dalam mengatasi berbagai penyakit atau infeksi bakteri, biasanya dokter memberikan antibiotik kepada pasien. Dalam praktiknya, bukan tidak mungkin dokter merekomendasikan jenis aminoglikosida apabila ditemukan kasus yang cenderung tak tertangani jika menggunakan antibiotik lini pertama.

Aminoglikosida sendiri adalah golongan antibiotik yang kerap digunakan untuk mengobati infeksi bakteri kategori berat. Biasanya, jenis tersebut diberikan dokter apabila tubuh pasien cenderung bereproduksi dengan cepat atau dapat dikatakan sulit ditangani dengan obat-obat yang sebelumnya dikonsumsi.

Pada beberapa kesempatan, dokter mencantumkan aminoglikosida apabila infeksi disebabkan oleh bakteri gram negatif. Meski demikian, jenis tersebut juga disebut-sebut efektif untuk sekian bakteri gram positif, contohnya seperti staphylococci.

Proses kerja antibiotik tersebut adalah dengan menghambat produksi protein yang dibutuhkan bakteri dalam hal berkembang biak atau bertahan hidup. Selain itu, karena aminoglikosida merupakan antibiotik bakterisidal, maka disebut dapat membunuh bakteri secara langsung.

Di pasaran sendiri, aminoglikosida memiliki ragam jenis produk, seperti Streptomycin, Framycetin, Tobramycin, Kanamycin, Amikacin, Dibekacin, Gentamicin, Neomycin, Paromomycin, Ribostamycin, Sisomicin, Isepamicin dan lain sebagainya.

Meski demikian, biasanya beragam jenis tersebut juga tak bisa digunakan untuk semua jenis infeksi bakteri. Misalnya, Streptomycin yang diperuntukkan untuk pasien pengidap penyakit TBC. Walau begitu, saat ini penggunaan tersebut relatif jarang digunakan lagi dengan alasan toksisitas dan ketidaknyamanan ketika pemberian.

Di sisi lain, pembaca yang membutuhkan antibiotik aminoglikosida juga perlu memperhatikan beberapa hal sebelum menggunakannya. Karena obat ini diresepkan oleh dokter, maka sebelum itu anda harus memberikan informasi medis sedetail-detailnya.

Terkait itu, yang dimaksud adalah apakah anda memiliki alergi terhadap sulfit atau suatu kandungan yang kerap ditemukan dalam buah kering. Lalu, menderita gangguan ginjal, gerakan mata yang tidak terkontrol, masalah pendengaran dan masalah pada keseimbangan.

Berikutnya adalah sudah berusia 65 tahun atau lebih. Lalu, dalam situasi memiliki bayi yang juga mempunyai masalah infeksi berat dan diberikan aminoglikosida oleh dokter. Selanjutnya, kondisi jika anda menderita penyakit yang dapat mempengaruhi saraf dan otot, contohnya multiple sclerosis dan myasthenia gravis.

Di sisi lain, pemberian antibiotik aminoglikosida pada pasien yang mengidap penyakit mitokondria juga tidak dianjurkan karena dapat mengakibatkan pasien mengalami gangguan terjemahan mtDNA.

Kemudian hal yang perlu diperhatikan, disarankan aminoglikosida tidak dikonsumsi bagi perempuan yang sedang hamil. Saran tersebut mengingat terdapat bukti positif antibiotik tersebut berisiko untuk janin manusia. Oleh sebab itu, bagi ibu hamil yang dalam pengobatan infeksi diminta mengkonsumsi jenis ini, sangat dianjurkan untuk berdiskusi dengan dokter terkait keamanannya.

Kondisi-kondisi yang sudah dijabarkan di atas, jika pembaca memilikinya, sebaiknya disampaikan kepada dokter sejujur-jujurnya dan selengkap-lengkapnya sebelum menerima resep aminoglikosida. Hal ini dikarenakan obat tersebut juga berisiko menimbulkan reaksi alergi bagi sebagian orang.

Selanjutnya, sebagai indikasi aminoglikosida pada umumnya merupakan antibiotik yang digunakan untuk terapi infeksi serius pada saluran pencernaan, infeksi saluran kemih, dan infeksi saluran pernapasan.

Dari penjelasan-penjelasan di atas, kita dapat mengetahui secara umum bahwa antibiotik aminoglikosida merupakan obat yang diperuntukkan bagi pasien yang sedang mengalami infeksi berat. Di sisi lain, juga memiliki beragam merek produk dan tentunya diproduksi berdasarkan pengobatan infeksi yang berbeda-beda.

Selanjutnya, sebelum mengkonsumsi aminoglikosida sebagai obat, sangat disarankan pembaca memberikan informasi rekam medis sedetail-detailnya, mengingat antibiotik jenis tersebut juga bisa menimbulkan risiko alergi.

Terakhir, yang perlu diingat dan dicatat adalah kita tidak boleh mengkonsumsi aminoglikosida secara sembarangan, bahkan mengatur dosisnya sendiri. Daripada terjadi yang tidak-tidak, sebelum mengkonsumsi antibiotik itu sebaiknya sesuai dengan anjuran dokter dan memang obat tersebut baru diberikan sebagaimana dengan resep yang dikeluarkan dokter.