Kenali Gejala, Jenis, dan Faktor Risiko Kanker Saluran Empedu

Dalam istilah medis, kanker saluran empedu dikenal juga dengan Cholangiocarcinoma. Kondisi ini merupakan kondisi kanker yang cukup langka namun fatal, dan menyerang saluran empedu.

Saluran empedu adalah rangkaian tabung yang mengangkut cairan empedu dari hati ke kantong empedu. Dari kantong empedu, empedu akan dibawa ke usus yang membantu memecah lemak dan makanan. 

Kanker pada saluran empedu kebanyakan menyerang bagian dalam saluran empedu yang terletak di bagian luar hati. Dalam kasus yang sangat jarang, kanker ini juga bisa berkembang di saluran yang terletak di bagian dalam organ hati.

Apa saja jenis-jenis kanker saluran empedu?

Ada beberapa jenis kanker saluran empedu yang dibedakan berdasarkan lokasi pertumbuhan tumornya. Hal ini juga menentukan tingkat keganasan dari kanker. Berikut ini jenis-jenisnya: 

  • Intrahepatic

Jenis yang satu ini sangat langka, hanya terjadi pada sekitar 5-10 persen kasus kanker saluran empedu yang pernah terjadi. Kanker ini terjadi pada bagian dalam hati. Pertumbuhannya menjalar dari cabang empedu yang lebih kecil di dalam hati.

  • Perihilar

Jenis perihilar cukup umum terjadi lebih bisa untuk disembuhkan. Pertumbuhan sel kankernya dimulai dari hilus hepatik, yaitu area dimana saluran hepatik kiri dan kanan telah bergabung. Setelah itu, dari hilus hepatik, barulah sel kanker berkembang ke luar dari hati.

  • Distal

Sama seperti jenis perihilar, jenis yang satu ini juga lebih bisa untuk disembuhkan dan lebih umum terjadi. Pertumbuhannya dimulai dari saluran empedu yang lebih jauh ke dalam, dekat dengan usus kecil.

Gejala kanker saluran empedu

Anda perlu mengenali seperti apa gejala kanker saluran empedu. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan penanganan dengan lebih cepat, sebelum pertumbuhan kanker menjadi semakin parah.

Beberapa gejala umum yang dirasakan oleh penderita antara lain:

  • Penyakit kuning, menimbulkan gejala berupa kulit yang menguning dan menjadi gejala paling umum. Gejala ini dapat dialami pada tahap awal maupun tahap akhir kanker, tergantung pada lokasi pertumbuhan tumor.
  • Perubahan warna urin dan kotoran saat buang air besar, menjadi lebih gelap. 
  • Gatal-gatal akibat penyakit kuning dan juga pertumbuhan sel kanker.
  • Nyeri pada perut yang menembus hingga ke bagian punggung. Ini terjadi seiring dengan pertumbuhan atau perkembangan kanker.

Selain gejala di atas, ada juga gejala umum berupa panas dingin, demam, kehilangan selera makan, penurunan berat badan, dan kelelahan. 

Terkadang, beberapa penderita bisa juga mengalami gejala tambahan. Namun, gejala tambahan ini sangat jarang terjadi. Gejala tambahan tersebut berupa pembesaran ukuran hati, limpa, dan kantong empedu. 

Penyebab dan faktor risiko kanker saluran empedu

Umumnya, jenis kanker yang satu ini lebih rentan terjadi pada pria dewasa atau lansia yang berusia 65 tahun ke atas. Selain itu, ada beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko penyakit ini, yaitu:

  • Ulcerative colitis
  • Paparan bahan kimia yang digunakan dalam industri pesawat terbang
  • Penyakit langka, seperti primary sclerosing cholangitis, hepatitis, Lynch syndrome, atau biliary papillomatosis
  • Infeksi cacing hati atau cacing pipih parasit
  • Infeksi saluran empedu yang menyebabkan peradangan kronis
  • Batu saluran empedu, serupa dengan batu kantong empedu

Jika Anda memiliki kondisi-kondisi di atas, sebaiknya perhatikan kesehatan Anda secara rutin. Bila merasakan gejala kanker saluran empedu, segera lakukan pemeriksaan ke dokter sebelum kondisi semakin memburuk.

Waspadai Neuroblastoma, Kanker Langka yang Menyerang Anak-Anak

Penyakit kanker bisa menyerang siapa saja, baik bayi yang baru lahir maupun lansia. Dari berbagai jenis penyakit kanker yang ada, neuroblastoma menjadi salah satu penyakit kanker yang menyerang anak-anak.

Neuroblastoma tergolong sebagai kondisi kanker yang cukup langka. Kanker ini menyerang jaringan saraf anak yang berfungsi untuk membawa pesan dari otak ke seluruh tubuh.

Kanker ini paling sering muncul di sekitar kelenjar adrenal, yaitu kelenjar yang berfungsi untuk memproduksi hormon. Kelenjar ini terletak di atas ginjal dan memiliki sel yang serupa dengan sel saraf.

Meski umumnya tumbuh di sekitar kelenjar adrenal, kanker ini juga bisa timbul dari berbagai area lainnya, khususnya di area tempat sekelompok sel saraf berkumpul.

Gejala yang timbul pada anak saat menderita neuroblastoma

Saat kanker baru tumbuh, gejala pada anak mungkin sulit untuk dideteksi. Hal ini karena beberapa gejala tampaknya serupa dengan kondisi penyakit umum pada anak.

Sebagai orang tua, Anda bisa mendeteksi kemungkinan anak menderita kanker ini dengan mengenali gejala-gejalanya. Biasanya, anak yang menderita neuroblastoma akan mengalami gejala berupa:

  • Benjolan yang tumbuh di area leher
  • Sesak napas dan kesulitan menelan
  • Nyeri tulang, lemas, dan mudah tersinggung
  • Gerakan mata dan otot yang tersentak-sentak
  • Bengkak dan nyeri pada perut, terkadang disertai dengan sembelit dan kesulitan buang air kecil
  • Benjolan kebiruan di kulit dan memar, khususnya di sekitar area mata
  • Kelemahan tungkai, membuat anak tidak stabil saat berjalan, disertai dengan mati rasa pada tubuh bagian bawah
  • Kulit pucat, kelelahan, kehilangan energi, kehilangan nafsu makan, berat badan menurun

Kondisi-kondisi di atas bisa juga dirasakan ketika anak menderita beberapa penyakit lain. Oleh sebab itu, apabila Anda melihat anak mengalami gejala di atas, segera lakukan pemeriksaan ke dokter untuk memastikan kondisi kesehatan anak.

Apakah neuroblastoma diturunkan?

Secara umum, kanker bisa tumbuh berdasarkan hasil mutasi pada beberapa sel tubuh. Proses mutasi memungkinkan beberapa sel untuk tumbuh di luar kendali.

Pada neuroblastoma, mutasi mempengaruhi sel saraf yang belum matang pada bayi di dalam kandungan. Sel-sel tersebut akan tumbuh seiring dengan bertumbuhnya bayi di dalam kandungan, menjadi sel saraf yang memicu kondisi kanker ini.

Sebagian besar kasus kanker jenis ini bukan merupakan kanker yang diturunkan. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, kondisi ini bisa diturunkan melalui suatu pola mutasi gen.

Upaya pengobatan neuroblastoma

Pengobatan untuk kanker ini berbeda-beda bagi setiap anak, tergantung pada usia dan stadium kanker. Umumnya, anak-anak yang menderita kanker jenis ini melakukan lebih dari dua upaya pengobatan dan dilakukan selama bertahun-tahun.

Beberapa pengobatan neuroblastoma meliputi:

  • Operasi pengangkatan sel kanker. Dalam beberapa kasus, anak hanya perlu menjalani operasi sebagai upaya pengobatan.
  • Kemoterapi, membantu memperkecil sel kanker. Bila sel kanker berhasil mengecil sebelum operasi, anak tidak perlu menjalani operasi.
  • Terapi radiasi, dilakukan setelah operasi untuk menghancurkan sel kanker yang masih tersisa.
  • Imunoterapi, menggunakan obat yang menargetkan sel kanker secara langsung, namun tidak digunakan secara rutin.
  • Transplantasi sel induk, sel induk anak dikumpulkan, dibekukan, dan disimpan, kemudian melalui kemoterapi intensif. Setelah itu, sel induk anak akan dikembalikan.

Hasil dari upaya pengobatan ditentukan oleh stadium kanker neuroblastoma anak. Semakin tinggi stadiumnya, maka semakin kompleks pula upaya pengobatan yang perlu dilalui. Apabila kanker terdeteksi sedini mungkin, peluang anak untuk mengalami pemulihan dengan cepat lebih tinggi.

Neuroblastoma

Neuroblastoma merupakan kanker yang berawal dari sel-sel saraf yang belum matang (neuroblast). Kondisi seperti ini dapat terjadi di beberapa bagian tubuh manusia, namun lebih sering muncul di bagian kelenjar adrenal pada bagian atas ginjal atau jaringan saraf tulang belakang yang meliputi leher, dada, perut, dan panggul.

Kanker ini juga dapat menyebar ke organ lain seperti sumsum tulang belakang, kelenjar getah bening, tulang, hati, bahkan kulit. Neuroblastoma lebih berpotensi terjadi pada anak-anak yang berusia 5 tahun ke bawah.

Gejala

Gejala neuroblastoma bergantung pada bagian yang terjangkit dan seberapa jauh kanker tersebut menyebar di tubuh manusia. Jika neuroblastoma terjadi di bagian perut, berikut adalah gejala yang dialami penderita:

  • Pembengkakan di bagian perut dan terasa sakit.
  • Mengalami benjolan di bagian bawah kulit, namun tidak menimbulkan rasa sakit bila disentuh.
  • Mengalami perubahan dalam kebiasaan buang air besar.

Jika neuroblastoma terjadi di bagian dada, maka gejala yang akan dialami penderita adalah sebagai berikut:

  • Nafas berbunyi.
  • Rasa sakit di bagian dada.
  • Perubahan di bagian mata seperti ukuran pupil yang berbeda pada kedua mata.

Seseorang juga bisa mengalami gejala lain yang meliputi:

  • Bola mata yang lebih menonjol dari biasa.
  • Lingkaran hitam seperti memar di sekitar mata.
  • Rasa sakit di bagian punggung.
  • Demam.
  • Berat badan mengalami penurunan.
  • Sakit pada bagian tulang.

Penyebab

Pada awalnya, kanker terjadi karena sel-sel sehat bermutasi sehingga memicu pertumbuhan secara berlebihan. Sel-sel tersebut kemudian berubah menjadi sel kanker yang terus bertumbuh dan berkembang secara tidak terkendali sehingga dapat membentuk tumor.

Neuroblastoma berasal dari kata ‘neuroblast’ yang merupakan sel-sel saraf yang belum matang dimana sel-sel tersebut terbentuk ketika janin berkembang di dalam rahim. Pada saat bayi lahir, neuroblast akan berubah menjadi sel dan serat saraf, serta sel kelenjar adrenal. Neuroblast yang tersisa biasanya akan matang dan menghilang. Jika tidak, maka akan berpotensi menjadi tumor.

Sama seperti jenis kanker lain, penyebab mutasi genetik pada kanker tersebut belum jelas. Namun, anak-anak dengan riwayat keluarga neuroblastoma lebih berpotensi mengalami risiko terhadap penyakit tersebut.

Diagnosis

Jika anak Anda mengalami neuroblastoma, Anda sebaiknya bawa anak Anda ke dokter anak. Dokter anak dapat melakukan pemeriksaan fisik yang meliputi:

  • Tes fisik

Tes fisik dilakukan untuk mengetahui gejala yang dialami anak.

  • Tes urine

Neuroblastoma menghasilkan katekolamin sehingga kadar katekolamin di dalam tubuh menjadi lebih tinggi sehingga perlu diperiksa melalui tes urine.

  • Tes pencitraan

Tes pencitraan dilakukan untuk melihat massa tumor di dalam tubuh. Tes pencitraan meliputi X-ray, ultrasonografi (USG), CT scan, atau MRI.

  • Pengambilan sampel jaringan

Pengambilan sampel jaringan atau biopsi dapat dilakukan jika terdapat massa di dalam tubuh. Cara ini dapat menginformasikan jenis sel yang ada di dalam tumor dan karakteristik genetik sel kanker secara spesifik.

  • Aspirasi dan biopsi sumsum tulang

Cara ini dilakukan untuk mengetahui jika neuroblastoma sudah menyebar hingga ke sumsum tulang belakang.

Pengobatan

Pengobatan neuroblastoma dapat dilakukan dengan cara berikut:

  • Kemoterapi

Kemoterapi dapat dilakukan untuk membunuh sel-sel kanker di dalam tubuh. Kemoterapi bisa berupa suntikan atau obat berbentuk pil.

  • Imunoterapi

Imunoterapi dapat dilakukan dengan menggunakan obat yang mendorong sistem imun dalam tubuh untuk membantu membunuh sel-sel kanker di dalam tubuh.

  • Terapi radiasi

Terapi radiasi dapat dilakukan untuk membunuh sel-sel kanker, dengan menggunakan sinar bertenaga tinggi (sinar-X).

  • Operasi

Operasi dapat dilakukan dengan mengangkat sebagian atau seluruh bagian yang terjangkit tumor atau kanker.