Pemfigus & Pemfigoid, Dua Kondisi Serupa Tapi Tak Sama

Ternyata penyakit autoimun bisa terjadi di kulit juga, malah cukup banyak jenisnya. Dua di antaranya adalah pemfigus dan pemfigoid. Tanpa mengesampingkan penyakit autoimun yang menyerang kulit lainnya, dua masalah kesehatan ini dibahas karena keunikannya, yakni memiliki banyak kemiripan.

Kendati demikian, banyak kemiripan tak membuat keduanya dapat disamakan. Ada hal-hal yang membedakan antara pemfigus dan pemfigoid, sehingga dua masalah kesehatan ini seakan berjalan di jalurnya sendiri-sendiri.

Yang membuat keduanya tampak mirip secara kasat mata adalah gejala yang ditimbulkan. Perlu kita ingat dahulu bahwa baik itu pemfigus maupun pemfigoid sama-sama memiliki macam dan jenisnya sendiri-sendiri. Namun, pembahasan ini terfokus pada pemfigus vulgaris dan pemfigoid bulosa. Karena dua jenis inilah yang dirasa menjadi representasi masing-masing.

Menyambung awal kalimat paragraf sebelumnya, kedua penyakit ini akan membuat kulit seseorang melepuh disertai dengan rasa sakit, gatal, nyeri, dan sensasi terbakar. Kemudian, di area yang terserang juga akan timbul semacam tonjolan, persis seperti bisul, yang disebut bula.

Kedua-duanya, tak hanya menyerang kulit, walau paling sering terjadi di sana. Namun, pemfigus maupun pemfigoid juga dapat terjadi di selaput lendir, mulai dari mulut, mata, hingga alat kelamin.

Mungkin Anda masih asing dengan kedua penyakit ini, karena pemfigus dan pemfigoid termasuk kondisi medis yang langka. Selain itu, kendati terjadi di kulit, pemfigus atau pemfigoid tak seperti masalah kulit lainnya dengan ciri utama dapat menular. 

Pemfigus dan pemfigoid sama sekali tidak menular. Mereka tidak pula ditularkan melalui darah, atau cairan. Kontak langsung dengan penderita juga tak membuat seseorang tertular. Kendati genetik dinilai punya andil dalam perkembangan kondisi ini, tetapi perlu diketahui pula bahwa pemfigus dan pemfigoid bukan merupakan penyakit keturunan.

Lantas, apa perbedaan antara pemfigus dan pemfigoid sehingga keduanya tak bisa disamakan?

  • Pemfigus

Pemfigus merupakan istilah untuk menjelaskan kondisi kulit yang melepuh karena faktor autoimun. Pemfigus terjadi ketika kekebalan tubuh seseorang menyerang desmoglein. Desmoglein sendiri dapat dipahami sebagai semacam “perekat” antarjutaan sel kulit. 

Ketika pemfigus terjadi, lapisan kulit yang paling luar terlepas dari lapisan kulit yang berada di bawahnya, sehingga menyebabkan gejala seperti kulit melepuh dan melendung. Dan sering kali ruang antara lapisan terluar dan lapisan di bawahnya diisi cairan atau bahkan nanah.

Pemfigus bisa menyerang siapa saja, tetapi lebih sering dialami oleh orang dewasa dalam rentang usia 30 sampai 60 tahun. 

  • Pemfigoid

Berdasarkan makna kata, pemfigoid sederhananya dapat diartikan sebagai kondisi kulit melepuh yang menyerupai pemfigus. “-Goid” dalam pemfigoid berarti menyerupai. Sebenarnya, sebab terjadinya pemfigoid tak jauh berbeda.

Ia terjadi karena sistem pertahanan tubuh menyerang suatu bagian pada kulit. Nah, beda antara pemfigus dan pemfigoid ada di sini. Pada pemfigoid, bagian kulit yang diserang oleh sistem pertahanan tubuh adalah lapisan kulit yang lebih dalam.

Kondisi ini membuat bula atau benjolan yang terjadi karena pemfigoid lebih kuat daripada yang terjadi karena pemfigus. Bula yang terjadi di kulit penderita pemfigus mudah sekali pecah sebab terjadi di lapisan kulit paling luar.

Sama seperti pemfigus, pemfigoid juga lebih sering menyerang orang berusia lanjut. Namun, tidak menutup kemungkinan orang-orang berusia muda juga bisa terserang penyakit autoimun ini.

***

Sebenarnya, perbedaan antara pemfigus dan pemfigoid tidak terlalu berarti. Jika dicermati, perbedaan keduanya hanya terletak pada bagian kulit yang diserang, sehingga membedakan konsistensi atau kekuatan dari bula yang muncul. Lebih dari itu, keduanya sama saja.

FK Unpad Jadi ‘Pemasok’ Dokter Kulit di Bandung

Sebagai salah satu kota besar, Bandung didukung dengan beragam sarana dan fasilitas penunjang yang mumpuni. Dua lini yang mendapat banyak perhatian adalah pendidikan dan kesehatan. Tak sedikit sekolah atau perguruan tinggi jempolan di Bandung. Di mana Universitas Padjadjaran atau Unpad jadi salah satu yang terdepan. Kenyataan bahwa kampus ini masuk jajaran teratas di Indonesia membuatnya sukses melahirkan banyak ahli di berbagai macam bidang, termasuk dokter kulit di Bandung.

Sebenarnya, lulusan Fakultas Kedokteran Unpad banyak menyebar di seluruh pelosok negeri ini. Namun, karena kedudukannya di Bandung, tak dapat dimungkiri jika Kota Kembang bakal jadi gelanggang pertama atau semacam tempat pertama mereka meniti karir sebelum menemukan lubang-lubang kesuksesan yang lain.

Sebelum dapat melakukan praktik, dokter kulit di Bandung harus menempuh jalan yang panjang di FK Unpad. Mereka harus mengantongi titel SpKK yang hanya bisa didapat setelah menyelesaikan masa perkuliahan di Program Studi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Selama masa perkuliahan, para calon dokter kulit di Bandung ini digembleng untuk dapat menguasai setidaknya tujuh area kompetensi. 

Jadi, hampir dapat dipastikan jika dokter kulit di Bandung yang mencuat ke permukaan setelah digodok di kawah candradimuka Program Studi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Unpad akan memiliki karakter seperti:

  • Keterampilan interpersonal dan komunikasi efektif
  • Keterampilan menerapkan Evidence-Based Medicine (EBM), farmakologi klinik, biologi molekuler, parasitologi klinik, mikrobiologi klinik, patologi klinik, dan patologi anatomi.
  • Keterampilan pelayanan medis spesialistik
  • Pembelajaran berbasis praktik
  • Pembelajaran berbasis sistem
  • Penerapan etik, hukum kedokteran, dan profesionalisme
  • Pengembangan keilmuan dan pembelajaran sepanjang hayat.

Kompetensi-kompetensi tersebut mereka cicil selama bertahun-tahun masa perkuliahan yang secara garis besar dibagi ke dalam tiga tahapan, yakni tahap pengayaan; tahap magang; dan tahap mandiri. Masing-masing tahapan itu mempunyai tujuan khusus, mengacu kepada tujuan akhir pendidikan. Setiap tahap dapat dicapai dengan berbagai pengalaman belajar yang sesuai dengan tingkat keterampilan yang diharapkan, dan tentu saja dengan memperhatikan etika dan perilaku profesi.

Dalam mencetak para dokter kulit di Bandung, Program Studi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Unpad mengusung misi menjadi program studi dermatologi dan venereologi yang unggul dan transformatif dalam bidang pendidikan dan penelitian, terutama infeksi dan alergi-imunologi untuk kemaslahatan masyarakat dan diakui secara internasional pada tahun 2020.

Yang mana visi itu dimanifestasikan dalam lima misi yang dirumuskan belakangan. Adapun misi-misi tersebut antara lain:

  • Menyelenggarakan pendidikan dokter spesialis dermatologi dan venereologi (SpDV) yang berkualitas dan sesuai dengan standar pendidikan yang ditetapkan Kolegium Dermatologi dan Venereologi Indonesia.
  • Meningkatkan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama mengenai infeksi dan alergi-imunologi dalam bidang dermatologi dan venereologi untuk kemaslahatan masyarakat.
  • Meningkatkan kolaborasi dengan berbagai institusi di dalam dan luar negeri untuk menunjang terwujudnya pendidikan dan penelitian yang mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional.
  • Menyelenggarakan sistem tata pamong yang baik untuk menciptakan suasana akademik yang kondusif.
  • Menjadi pelopor dan berkontribusi nyata dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat di bidang dermatologi dan venereologi.

Tujuan-tujuan tersebut tentu tidak muluk-muluk jika kita lihat jajaran pejabat dan para pengajar yang tergabung di dalamnya. Dimana hampir semua nama-nama yang pernah dan masih ada di dalam daftar dapat diketahui sebagai yang terbaik dalam profesi dokter kulit di Bandung.

Jika dilihat dari semua yang telah dilakukannya, Unpad, melalui Fakultas Kesehatannya, tentu saja telah memberikan banyak warna dalam khazanah spesialisasi dokter kulit di Bandung.