Bisakah Mengganti Methycobal dengan Beragam Bahan Alami?

Methycobal adalah obat yang dirancang untuk mengatasi masalah saraf primer. Manfaat itu bisa didapat lantaran kandungan utama obat ini, yakni mecobalamin atau lebih dikenal dengan vitamin B12. Methycobal juga masuk ke dalam kelompok vitamin B kompleks.

Obat ini umumnya berbentuk kapsul, meski tersedia pula yang berbentuk cairan atau likuid. Methycobal termasuk obat keras sehingga penggunaannya harus berdasarkan resep dari dokter. Di Indonesia, PT Eisai Indonesia, merupakan produsen yang cukup populer dalam lingkaran dagang obat ini. Produk Methycobal yang mereka lepas ke pasaran memiliki satuan dosis 500 mikrogram.

Ada banyak sekali manfaat yang bisa diberikan vitamin B12 bagi tubuh. Pasalnya, vitamin B12 merupakan vitamin neurotropik yang berfungsi untuk menjaga, memelihara, dan menormalkan fungsi saraf dengan memperbaiki gangguan metabolisme sel saraf dan memberikan asupan yang dibutuhkan agar saraf mampu bekerja dengan baik.

Tak hanya itu, vitamin B12 yang dikandung Methycobal juga digunakan untuk mengatasi keracunan sianida dan tingginya kadar homosistein dalam darah (hiperhomosisteinemia). Vitamin B12 pun amat diperlukan untuk melancarkan fungsi dan perkembangan otak, saraf, sel darah, dan banyak bagian tubuh lainnya.

Meski banyak manfaatnya, tak dapat dimungkiri jika obat yang merupakan hasilan dari industri farmasi memiliki berbagai efek samping bagi manusia. Selain itu, obat juga bisa menyebabkan kontraindikasi atau efek kebalikan dari manfaat yang bisa diberikan suatu obat (risiko). Ini belum termasuk interaksi obat serta kemungkinan berbahaya yang dapat dialami seseorang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Sebenarnya, vitamin B12 yang amat dibutuhkan manusia ini dapat didapat dari berbagai bahan alami. Artinya, seseorang tak selalu harus mengonsumsi Methycobal untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12. Kita dapat mengganti dengan bahan makanan yang juga kaya akan vitamin B12, seperti:

  • Daging sapi

Selain mengandung zat besi, daging sapi juga mengandung vitamin B12. Dalam 85 gram daging sapi, setidaknya terkandung 1,3 mcg vitamin B12. Daging sapi merupakan sumber protein dan vitamin B2 (riboflavin).

Namum perlu kehati-hatian dan kebijaksanaan dalam mengonsumsi daging sapi. Karena di balik beragamnya kandungan nutrisi, daging merah memiliki kandungan kolesterol yang tinggi, sehingga bila dikonsumsi secara berlebihan, dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular.

  • Daging ayam dan telurnya

Daging ayam juga mengandung vitamin B12, terutama di bagian dada. Dalam 85 gram dada ayam, terkandung 0,3 mcg vitamin B12. Kandungan protein di dalamnya juga bisa membantu pembakaran lemak dalam tubuh. Selain itu, 1 butir telur rebus yang besar mengandung 0,5 mcg vitamin B12.

  • Makanan Laut

Tak ada yang dapat menyangkal gizi dan nutrisi yang dikandung oleh makanan laut. Hampir semua makanan laut mengandung vitamin B12. Bahan makanan laut yang terbukti memiliki kandungan vitamin b12 terbanyak adalah kerang.

Dibanding daging sapi dan ayam, dalam jumlah yang sama, kerang bisa memberikan 84 mikogram (mcg) mecobalamin. Sementara kepiting, dalam jumlah yang sama (85 gram) mengandung 10 mcg vitamin B12.

Ikan salmon yang terkenal dengan kandungan protein dan omega-3 hanya mengandung sekitar 5 mcg, kalah dari ikan sarden yang mengandung sekitar 7,5 mcg micobalamin dalam jumlah yang sama, yakni 85 gram.

  • Susu dan produk turunannya

Dalam 1 gelas susu rendah lemak, terkandung 1 mcg vitamin B12. Produk olahan susu, seperti yoghurt juga bisa memenuhi kebutuhan vitamin B12 manusia. Dalam 225 gram yoghurt rendah lemak mengandung 1 mcg vitamin B12.

Beberapa makanan di atas bisa dijadikan alternatif seseorang untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan vitamin B12 mereka, meski mungkin tidak secepat jika mengonsumsi Methycobal. Sebab dalam satu kapsul Methycobal, seseorang bisa langsung mendapat asupan micobalamin sebesar 500 mikrogram.

Namun, perlu diingat bahwa Methycobal digunakan pada saat atau kondisi tertentu. Jika Anda dalam kondisi sehat dan baik-baik saja, seseorang tak butuh asupan sebanyak itu. Sehingga dengan menjaga pola konsumsi, sebenarnya seseorang bisa hidup sehat asalkan gizi, nutrisi, dan senyawa-senyawa lain yang dibutuhkan tubuh tetap mencukupi.