Enatin – Herbamed, Rekomendasi Merek Obat Herbal Batu Ginjal

Batu ginjal merupakan kondisi ditemukannya sejumlah batu dalam saluran kemih. Batuan ini terbentuk ketika urin mengandung banyak zat pembentuk kristal seperti kalsium, oksalat, dan asam urat daripada cairan dalam urin. Pada saat yang sama, urin Anda juga tidak mengandung cukup sitrat yang berfungsi mencegah zat tersebut menempel. 

Batu ginjal disebabkan oleh berbagai hal mulai dari diet yang salah, kelebihan air badan, menderita kondisi medis tertentu, hingga konsumsi suplemen atau obat-obatan. Batu ginjal yang tidak diobati akan menyebabkan nyeri menjalar di pinggang dan saat buang air kecil. 

Biasanya dokter akan merekomendasikan untuk operasi penghancuran batu ginjal. Namun jika Anda ingin mencoba terapi obat-obatan, Enatin hingga Herbamed merupakan obat herbal batu ginjal yang direkomendasikan. 

Rekomendasi merek obat herbal untuk batu ginjal

  1. Enatin kapsul

Enatin merupakan obat herbal yang diekstrak dari minyak rami, minyak juniper, dan minyak pepermint yang berfungsi membantu meluruhkan batu oksalat secara maksimal. Selain itu, obat ini juga dapat mengurangi rasa nyeri dan gejala batu ginjal lainnya. 

Enatin kapsul sebaiknya diminum 1 jam sebelum makan, 2 kapsul sebanyak 3 hingga 4 kali sehari. Meskipun termasuk obat herbal, obat ini tidak boleh digunakan selama lebih dari 6 minggu berturut-turut karena penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan ginjal. 

  1. Dami Sariwana Batunir Kapsul

Dami Sariwana Batunir merupakan obat jamu herbal yang secara tradisional digunakan untuk meluruhkan batu di saluran kemih dan ginjal serta membantu melancarkan buang air kecil. 

Obat ini mengandung ekstrak herbal pilihan seperti meniran, daun kumis kucing, daun keji beling, akar alang-alang, dan daun tempuyung. 

  1. Calcusol Kapsul

Calcusol mengandung bahan aktif utama ekstrak daun tempuyung yang berkhasiat meluruhkan batu ginjal, melancarkan buang air kecil agar terbebas dari anyang-anyangan, serta mengurangi risiko pembentukan batu ginjal dan infeksi saluran kemih. 

Perlu diperhatikan  bahwa obat herbal ini hanya untuk pasien batu ginjal yang sudah mendapat diagnosa dari dokter. Dosis penggunaan adalah 2 kapsul sebanyak 3 kali sehari selama 5 hari atau sesuai dengan anjuran dokter.

  1. Herbamed Ginsakro

Herbamed merupakan produk ekstrak herbal 100% alami, aman, halal, dan telah terdaftar BPOM. Herbamed Ginsakro mengandung ekstra sambiloto, pegagan, daun tempuyung, dan daun keji beling yang telah terbukti mampu menghancurkan batu ginjal. 

Selain untuk menjaga kesehatan ginjal, Herbamed Ginsakro juga dapat mengelola faktor risiko penyakit ginjal seperti menstabilkan gula darah, menurunkan kadar asam urat, serta meningkatkan stamina dan vitalitas tubuh. 

Obat ini dianjurkan bagi pasien gagal ginjal, pasien dengan kencing batu, dan mereka yang berisiko terkena penyakit ginjal. Konsumsi Herbamed Ginsakro 2 kapsul 30 menit sebelum makan sebanyak tiga kali sehari. 

  1. Herbamed Renalcidon

Herbamed Renalcidon diperuntukkan untuk pasien batu ginjal yang memiliki gejala antara lain:

  • Darah dalam urin
  • Urin tidak lancar
  • Merasakan nyeri yang hilang timbul, terutama saat buang air kecil

Herbamed Renalcidon memiliki komposisi yang lebih lengkap, termasuk herba pegagan, daun tempuyung, herba meniran, daun sambung nyawa, daun kumis kucing, dan daun sendok. 

Konsumsi obat 2 kapsul sebanyak 3 kali sehari, 30 menit sebelum makan. Dianjurkan untuk menyeimbangkan dengan perbanyak minum air putih 2 liter sehari, konsumsi makanan sehat, menjalani gaya hidup sehat, serta mengelola stres dengan melakukan aktivitas yang disukai.

Meskipun kebanyakan obat di atas bisa dikonsumsi tanpa resep dokter, sebaiknya diskusikan dengan dokter sebelum mengonsumsi Enatin atau obat herbal lainnya. Bagi pasien dengan kondisi khusus, seperti ibu hamil dan ibu menyusui yang menderita batu ginjal bisa meminta alternatif lain yang aman dikonsumsi.

Hati-hati, Ini Bahaya Obat untuk Ginjal

Fungsi ginjal adalah memastikan tubuh kita terbebas dari zat, senyawa, atau bahan-bahan yang tak berguna beredar bersama aliran darah. Ini tentu berkaitan dengan pola hidup, termasuk pola konsumsi. Terlalu banyak mengonsumsi sesuatu yang masuk ke dalam kategori di atas, termasuk obat, akan menambah beban kerja ginjal. Oleh karenanya orang meyakini bahwa tak baik obat untuk ginjal.

Akan tetapi faktanya, anggapan itu bisa benar, bisa juga tidak. Tak seperti konsumsi alkohol berlebihan, misalnya, yang jelas-jelas dapat merusak ginjal, mengonsumsi obat secara terus menerus tak selamanya berbahaya bagi ginjal. Memang ada obat-obatan yang berpotensi membuat ginjal kehilangan fungsinya, tetapi tak sedikit pula yang tidak memberikan pengaruh sama sekali. Justru sebaliknya, di antara obatan-obatan itu malah ada yang menjaga fungsinya—termasuk fungsi tubuh yang lain.

Sebagai pedoman, beberapa jenis obat yang bisa memperburuk fungsi ginjal tersedia pada daftar di bawah ini:

  • Antibiotik;
  • Analgesik;
  • COX-2 inhibitor;
  • Kelompok obat untuk lambung, seperti ompeprazole, iansoprazole, pantoprazole, dan lain sebagainya;
  • Obat antivirus;
  • Obat tekanan darah tinggi;
  • Obat radang;
  • Antikonvulsan;
  • Obat kemoterapi;
  • Dan lain sebagainya.

Di luar daftar di atas, penggunaan obat mungkin masih dapat ditolerir oleh ginjal seseorang. Inilah salah satu alasan mengapa penggunaan obat perlu didasari oleh rekomendasi dokter. Meski obat itu dijual secara bebas, bukan berarti obat itu aman sepenuhnya bagi ginjal seseorang.

Selain itu, perlu digaris bawahi pula bahwa bahaya obat untuk ginjal bisa terjadi lantaran pola konsumsi yang salah. Kendati obat yang dikonsumsi terbilang aman bagi ginjal, tetapi tidak diikuti dengan penggunaan yang baik, tepat, dan benar, bisa saja justru membahayakan organ vital tersebut.

Kira-kira, inilah tiga pola konsumsi obat yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami masalah pada ginjalnya:

  • Konsumsi obat secara bebas

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, penting bagi seseorang mengonsumsi obat dengan resep atau “restu” dari dokter. Pasalnya, perilaku ini punya pengaruh besar terhadap kesehatan ginjal mereka. Terkadang kemudahan dalam membeli obat-obatan di pasaran disalahgunakan oleh beberapa orang. 

Tak jarang orang membeli obat-obatan sendiri tanpa rekomendasi atau pengawasan dokter. Seperti yang sudah disebutkan di atas pula bahwa obat-obatan yang sering menyebabkan kerusakan ginjal adalah penggunaan obat NSAIDs (non-steroidal antiinflamation drugs/ obat anti radang) yang tidak bijaksana.

Penggunaan obat NSAIDs yang tak sesuai dengan indikasinya dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada ginjal. Apabila berlanjut, kondisi tersebut dapat memicu jaringan parut yang dapat mengganggu fungsi ginjal.

  • Mengonsumsi antibiotik dengan serampangan

Antibiotik merupakan suatu agen antimikroba yang bermanfaat untuk membunuh bakteri. Ini berarti, penyakit yang telah terbukti disebabkan oleh bakteri sajalah yang dapat ditangani dengan antibiotik. Jika seseorang mengonsumsi antibiotik untuk penyakit yang disebabkan oleh virus atau sebab lain, dia berpotensi mengalami resistensi antibiotik, termasuk gangguan pada ginjal.

Antibiotik bisa jadi obat untuk ginjal yang berbahaya, utamanya antibiotik golongan aminoglikosida, beta-laktam, dan kuinolon—terlebih tanpa pengawasan dokter. Mengingat tidak semua penyakit disebabkan oleh bakteri dan membutuhkan antibiotik, maka bijaksanalah dalam membeli obat di apotek.

  • Obat herbal bisa membahayakan ginjal juga

Berdasarkan beberapa sumber yang berhasil dihimpun, ada sebuah kesimpulan bahwa pengobatan herbal rupanya paling banyak menyebabkan masalah pada ginjal. Ini dapat terjadi karena nyatanya tidak semua obat-obatan yang berlabel herbal terbuat dari tumbuh- tumbuhan yang aman dikonsumsi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi obat herbal dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan perubahan struktur ginjal hingga berujung pada kerusakan ginjal.

Jadi kiranya itulah yang dapat disajikan mengenai polemic penggunaan obat dan kaitannya dengan kondisi ginjal. Dari apa yang tertulis di atas, seharusnya pembaca mafhum bahwa obat memiliki manfaat dan risikonya sendiri-sendiri. Artinya, tak semua obat bisa membahayakan ginjal sebagaimana tak semua obat bagus untuk kesehatan. 

Sederhananya, bahaya obat untuk ginjal berlaku jika seseorang mengonsumsinya tanpa aturan. Jika indikasi dan kondisi pasien sesuai dengan obat yang dikonsumsi, tentu saja kamu tak perlu khawatir obat tersebut akan merusak ginjalmu.