Alami Hidradenitis Suppurativa, Ini Pengobatan Umumnya

Masalah kulit tidak hanya jerawat ataupun kondisi kulit kering yang menyebabkan peradangan. Banyak jenis penyakit kulit yang mesti Anda waspadai karena menimbulkan gejala dan ketidaknyaman yang ekstra, contohnya eksim maupun hidradenitis suppurativa. 

Hidradenitis suppurativa mungkin belum terlalu familiar di telinga Anda. Namun sebenarnya, banyak orang yang kerap mengalami masalah kulit yang satu ini. Hidradenitis suppurativa merupakan kondisi kulit mengalami benjolan kecil seperti bisul. Bisul-bisul yang menjadi tanda penyakit ini kerap muncul di kawasan kulit yang bergesekan, seperti di ketiak ataupun selangkangan. Jika terus dibiarkan, benjolan ini akan menyebabkan jaringan parut bahkan abses pada kulit tersebut. 

Baiknya ketika muncul bisul-bisul kecil yang merupakan hidradenitis suppurativa di daerah yang bergesekan tersebut, Anda langsung menjumpai dokter untuk mendapatkan perawatan. Berikut adalah beberapa pengobatan yang biasanya akan dilakukan untuk para penderita hidradenitis suppurativa. 

  • Pemberian Antibiotik 

Dokter umumnya akan memberikan antibiotik untuk pasien hidradenitis suppurativa. Pemberian antibiotik bertujuan mengurangi benjolan kecil yang berisi nanah di kulit. Antibiotik jenis klindamisin ataupun dapson juga diberikan untuk mencegah dan mengobati infeksi yang terjadi akibat benjolan-benjolan tersebut. 

  • Pengobatan Hormonal 

Sampai saat ini belum diketahui pasti mengenai penyebab dari penyakit kulit yang satu ini. Namun dalam banyak kasus, ditemukan bahwa hidradenitis suppurativa berhubungan dengan kondisi hormon penderitanya. Karena itu, tidak jarang dokter memberikan pengobatan hormonal bagi pasien hidradenitis suppurativa untuk mengurangi gejalanya. Pengobatan hormonal yang biasa dilakukan, yakni pemberian pil KB, spironolakton, ataupun finasterida. 

  • Resep Anti-inflamasi 

Benjolan kecil yang merupakan gejala dari hidradenitis suppurativa mudah untuk pecah dan mengeluarkan nanah. Tidak jarang pula, kondisi ini menimbulkan kondisi peradangan di area kulit yang terkena. Untuk meredakan peradangan tersebut, dokter umumnya akan meresepkan obat anti-inflamasi. Tidak jarang pula ada pemberian resep berjenis metformin yang dikenal sebagai obat diabetes. 

  • Suntikan Intravena 

Tingkat keparahan pasien hidradenitis suppurativa berbeda-beda. Pemberian obat oral, khususnya untuk peradangan, hanya ampuh untuk penderita bergejala ringan maupun sedang. Jika benjolan sudah terlalu banyak dan infeksi sudah menyebar, dokter memilih untuk melakukan suntikan intravena. Lewat suntikan tersebut, diharapkan bakteri di tubuh yang menyebabkan radang bisa dikalahkan. 

  • Pengurangan Rambut 

Semakin banyak rambut yang ada di daerah ketiak ataupun selangkangan akan membuat risiko hadirnya benjolan-benjolan kecil berisi nanah semakin besar. Karena itu, tidak jarang dokter akan merekomendasikan pasien hidradenitis suppurativa untuk melakukan pengurangan rambut menggunakan metode lase. Kebanyakan pasien membutuhkan rata-rata tiga perawatan laser yang diberikan setiap empat hingga enam minggu sekali guna penanganan penyakit ini.

  • Pemberian Drainase 

Tujuan pengobatan yang satu ini lebih ke arah mengeringkan benjolan atau abses yang sudah terjadi akibat hidradenitis suppurativa. Benjolan yang cepat kering sekaligus bisa mengurangi rasa nyeri yang dialami pasien. 

  • Deroofing 

Perawatan deroofing juga akan direkomendasikan dokter untuk memulihkan kondisi kulit akibat hidradenitis suppurativa. Ini merupakan prosedur pengangkatan sel kulit. Untuk kasus hidradenitis suppurativa, sel kulit yang diangkat adalah yang menutupi saluran abses atau benjolan. Nantinya setelah diangkat, akan timbul luka yang hanya dibiarkan terbuka untuk bisa sembuh dengan sendirinya. Pembiaran luka terbuka untuk mengurangi risiko benjolan kecil tersebut datang kembali. 

  • Operasi Laser 

Apabila Anda termasuk pasien dengan hidradenitis suppurativa yang membandel, dokter akhirnya akan meminta Anda melakukan operasi laser. Pengobatan ini dinilai akan lebih efektif. Hanya saja, prose penyembuhan kulit akibat operasi laser lumayan panjang, memerlukan waktu sekitar 6 minggu. 

***

Jika tidak diobati, hidradenitis suppurativa bisa terus bermunculan dan mengganggu kenyamanan Anda. Ditambah lagi, bekas benjolan atau jaringan parut dari penyakit ini tentunya dapat mengurangi tingkat percaya diri penderitanya. Tidak ingin demikian, bukan?

TBC Kulit

Tuberkulosis atau TBC merupakan penyakit yang dapat menyerang organ dalam paru-paru manusia. Tidak hanya terjadi pada bagian paru-paru, TBC juga bisa terjadi pada bagian luar paru-paru (ekstrapulmonari) seperti pada bagian kulit (atau yang dikenal sebagai TBC kulit).

Pengertian TBC Kulit

TBC kulit juga disebut sebagai TBC kutaneous. TBC kulit merupakan jenis infeksi yang terjadi pada bagian kulit manusia dimana kondisi tersebut disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yakni bakteri yang menimbulkan TBC paru. Bakteri tuberkulosis memiliki empat spesies, antara lain M. tuberculosis, M. bovis, M. africanum, dan M. microti. Semua spesies bakteri dapat menyebabkan TBC kulit.

Sama seperti TBC paru, TBC kulit juga biasanya dapat ditemukan di bagian tubuh yang banyak terdapat penderita TBC paru. Yang menjadi perbedaan antara TBC paru dan TBC kulit adalah jumlah penderita. 1 hingga 2 persen penderita mengalami TBC kulit. Jumlahnya jauh lebih sedikit dari jumlah penderita TBC ekstrapulmonari.

TBC kulit bisa terjadi pada saat bakteri tuberkulosis menyebar ke bagian permukaan kulit manusia. Infeksi yang dialami manusia mungkin terjadi melalui beberapa cara seperti infeksi langsung pada kulit, bakteri yang menyebar ke kulit organ pada bagian bawah kulit manusia yang mengalami TBC sebelumnya, atau melalui peredaran darah dan limfogen.

Gejala

Ketika Anda mengalami TBC kulit, Anda mungkin bisa mengalami berbagai gejala pada tubuh Anda. TBC kulit dibagi menjadi dua jenis, antara lain TBC kulit primer dan TBC kulit sekunder.

TBC kulit primer terjadi pada orang yang pernah mengalami TBC lain atau disuntik vaksin BCG dan ditandai dengan bintil kecil yang berkembang menjadi lesi seperti luka, namun tidak menimbulkan rasa nyeri. Sebagian orang yang pernah mengalami TBC atau disuntik vaksin BCG, lesi yang muncul biasanya berbentuk papula yang berkembang menjadi hiperkeratotik dan jaringan parut. Kondisi tersebut terjadi selama bertahun-tahun.

TBC kulit sekunder merupakan reaktivasi dari lesi lama atau TBC kulit primer yang berkembang menjadi lebih kronis. TBC kulit sekunder juga lebih banyak terjadi pada manusia dibandingkan dengan TBC kulit primer.

Diagnosis

Jika Anda mengalami TBC kulit, Anda dapat periksa diri ke dokter. Dokter dapat membantu Anda dengan memeriksa kondisi fisik Anda terlebih dahulu. Pemeriksaan fisik bertujuan untuk mengetahui jika ada lesi pada kulit atau tidak.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan yang meliputi tes mantoux. Caranya dengan menyuntikkan cairan yang disebut sebagai PPD tuberculin ke kulit pada bagian lengan Anda.

48 hingga 72 jam kemudian, dokter akan memeriksa bekas suntikan tersebut, untuk mengetahui jika Anda mengalami benjolan atau tidak. Jika Anda mengalami benjolan berukuran 5 hingga 9 mm, maka Anda dinyatakan positif mengalami TBC. Setelah mengetahui kondisi tersebut, Anda perlu menjalani pemeriksaan lanjut yang meliputi pemeriksaan dahak dan rontgen dada.

Pengobatan

Jika pasien ingin mengobati TBC kulit, maka pengobatannya sama seperti TBC paru, yakni obat antituberkulosis. Obat antituberkulosis yang dapat digunakan termasuk obat antibiotik. Contoh obat antibiotik yang dapat digunakan adalah isoniazid, rifampicin, pyrazinamide, dan ethambutol. Pengobatan tersebut bergantung pada kondisi pasien, ada yang perlu waktu berbulan-bulan, namun juga ada yang sampai sekitar satu tahun.

Kesimpulan

TBC kulit merupakan salah satu kondisi yang perlu diwaspadai. Gejala yang dialami penderita dapat berkembang menjadi lebih buruk. Oleh karena itu, pengobatan sangat diperlukan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai TBC kulit, Anda bisa tanyakan persoalan ini ke dokter.