Komplikasi Kehamilan, Penyebab Plasenta Lengket

Pernahkah Anda mendengar sebuah komplikasi kesehatan yang disebut placenta accreta? Ini adalah sebuah kondisi kehamilan serius yang terjadi ketika plasenta tumbuh terlalu dalam ke dalam dinding rahim. Umumnya, plasenta akan terlepas dari dinding rahim setelah anak dilahirkan. Dalam kondisi placenta accreta ini, sebagian atau seluruh bagian plasenta tetap lengket dan menempel. Hal ini akan menyebabkan pendarahan hebat setelah persalinan. Placenta accreta dianggap sebagai komplikasi kehamilan risiko tinggi. Apabila kondisi ini didiagnosa pada saat hamil, Anda akan membutuhkan persalinan sesar yang diikuti dengan prosedur operasi pengangkatan rahim (hysterectomy). Artikel ini akan membahas gejala dan penyebab plasenta lengket pada dinding rahim.

Penyebab dan gejala

Tidak diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab plasenta lengket pada dinding rahim saat persalinan atau disebut placenta accreta. Namun para dokter beranggapan bahwa kondisi ini dihubungkan dengan ketidakteraturan pada lapisan rahim dan tingginya level alpha-fetoprotein, sebuah protein yang diproduksi oleh bayi yang dapat dideteksi di darah ibu. Ketidakteraturan ini dapat disebabkan karena jaringan parut setelah operasi sesar atau operasi rahim. Luka tersebut menyebabkan plasenta tubuh terlalu dalam ke dalam dinding rahim. Ibu hamil dengan plasenta sebagian atau sepenuhnya menutup serviks (plasenta previa) juga memiliki risiko lebih tinggi dalam menderita placenta accreta. Namun dalam beberapa kasus tertentu, placenta accreta terjadi pada wanita dengan riwayat medis pernah menjalani operasi rahim atau memiliki plasenta previa. Pernah menjalani operasi cesar dapat meningkatkan risiko seseorang dalam menderita placenta accreta pada kehamilan berikutnya. Semakin banyak operasi cesar yang dimiliki seseorang, semakin tinggi risiko yang mereka miliki. Asosiasi Kehamilan Amerika memperkirakan bahwa wanita yang memiliki lebih dari satu persalinan cesar memenuhi 60 persen dari semua kasus placenta accreta.

Orang-orang yang memiliki placenta accreta biasanya tidak menunjukkan gejala atau tanda-tanda apapun pada saat kehamilan berlangsung. Terkadang, dokter dapat mendeteksi kondisi ini pada saat pemeriksaan ultrasound rutin. Namun, dalam beberapa kasus, placenta accreta dapat menyebabkan pendarahan vagina pada trimester ketiga (minggu 27 hingga 40). Hubungi dokter secepatnya apabila Anda mengalami pendarahan vagina pada trimester ketiga. Apabila pendarahan yang Anda alami bersifat parah, dan atau ditemani dengan sakit perut, hubungi tenaga medis kegawatdaruratan secepatnya.

Faktor risiko dan komplikasi

Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab plasenta lengket. Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko Anda menderita placenta accreta di antaranya adalah operasi rahim sebelumnya, di mana risiko placenta accreta meningkat berbanding dengan jumlah operasi cesar yang Anda miliki; posisi plasenta, apabila plasenta sebagian atau seluruhnya menutupi serviks, atau berada dalam posisi yang lebih rendah di rahim, risiko placenta accreta meningkat; usia saat kehamilan, di mana placenta accreta lebih banyak dijumpai pada orang-orang yang berusia di atas 35 tahun; dan kehamilan sebelumnya, di mana risiko placenta accreta meningkat dengan jumlah kehamilan yang pernah Anda miliki.

Selain menjadi penyebab plasenta lengket, placenta accreta juga dapat menyebabkan beberapa komplikasi, seperti pendarahan vagina hebat seusai persalinan. Pendarahan tersebut dapat menyebabkan kondisi yang mengancam nyawa yang mencegah darah untuk membeku secara normal, kegagalan paru-paru, dan kegagalan ginjal. Dalam kondisi tersebut, transfusi darah dapat dibutuhkan. Selain itu, placenta accreta juga dapat menyebabkan lahir prematur, terutama apabila kondisi ini menyebabkan pendarahan pada saat kehamilan. Pastikan Anda selalu rutin memeriksakan kandungan Anda.